KANGJO.INFO, Tamiang Layang, Barito Timur. Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan bagian dari kebijakan evaluasi pendidikan yang dirancang untuk mengukur capaian akademik peserta didik secara objektif dan terstandar. Dalam rangka memastikan pelaksanaan yang seragam di seluruh Indonesia, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menetapkan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penyelenggaraan TKA.
Artikel ini secara khusus membahas implementasi juknis tersebut untuk jenjang SMA/SMK/sederajat, sebagai panduan bagi sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan dan contoh soal beserta jawabannya.
Dasar Hukum
Keputusan ini disusun berdasarkan:
- Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
- Kebijakan Merdeka Belajar
- Peraturan Menteri Pendidikan terkait asesmen nasional
- Standar nasional pendidikan terbaru
Juknis ini menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan TKA tahun 2025 dan seterusnya.
Tujuan Penyelenggaraan TKA
TKA untuk SMA/SMK/sederajat bertujuan untuk:
- Mengukur capaian akademik peserta didik secara komprehensif
- Menyediakan data untuk perbaikan mutu pendidikan
- Mendukung seleksi masuk jenjang pendidikan lebih tinggi
- Mendorong pembelajaran berbasis kompetensi
Ruang Lingkup TKA SMA/SMK
TKA pada jenjang ini mencakup:
1. Materi yang Diujikan
- Literasi: kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi teks
- Numerasi: kemampuan berpikir matematis dalam konteks nyata
- Penalaran: kemampuan berpikir kritis dan logis
- Substansi mata pelajaran tertentu(sesuai jurusan di SMA/SMK)
2. Bentuk Soal
- Pilihan ganda
- Pilihan ganda kompleks
- Isian singkat
- Uraian terbatas
Soal dirancang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Peserta TKA
Peserta TKA meliputi:
- Siswa kelas akhir SMA/MA
- Siswa kelas akhir SMK/MAK
- Peserta didik pada jalur pendidikan kesetaraan (Paket C)
Mekanisme Pelaksanaan
1. Moda Pelaksanaan
- Berbasis komputer (CBT)sebagai moda utama
- Dapat menggunakan moda semi-online atau offline terbatas jika diperlukan
2. Jadwal Pelaksanaan
- Dilaksanakan sesuai kalender yang ditetapkan oleh BSKAP
- Bersifat nasional dan serentak (dengan penyesuaian teknis daerah)
3. Tahapan Pelaksanaan
- Persiapan
- Pendataan peserta
- Penyiapan sarana prasarana
- Pelatihan proktor dan pengawas
- Pelaksanaan
- Ujian sesuai jadwal
- Pengawasan ketat berbasis sistem
- Pengolahan Hasil
- Sistem terpusat
- Analisis capaian peserta didik
- Pelaporan
- Disampaikan kepada sekolah, peserta, dan pemangku kebijakan
Peran Sekolah dan Guru
Sekolah
- Menyiapkan infrastruktur TKA
- Menjamin kejujuran dan kelancaran pelaksanaan
- Mengelola administrasi peserta
Guru
- Membimbing siswa dalam persiapan TKA
- Mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam pembelajaran
- Menganalisis hasil TKA untuk perbaikan pembelajaran
Prinsip Penyelenggaraan TKA
TKA dilaksanakan dengan prinsip:
- Objektif
- Transparan
- Akuntabel
- Adil dan inklusif
Pemanfaatan Hasil TKA
Hasil TKA digunakan untuk:
- Evaluasi capaian belajar siswa
- Pemetaan mutu pendidikan
- Pertimbangan seleksi masuk perguruan tinggi
- Dasar perbaikan kurikulum dan pembelajaran
Penutup
Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 memberikan panduan komprehensif dalam penyelenggaraan TKA, khususnya untuk jenjang SMA/SMK/sederajat. Dengan pelaksanaan yang terarah dan sesuai juknis, diharapkan TKA dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Latihan Soal dan Jawaban Literasi-6 TKA SMA/SMK 2026
Subject: Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut | Topic: Rekonstruksi Struktur dan Koherensi Teks
Soal No. 1 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Mitigasi Kerentanan Keamanan pada Arsitektur Mikroservis
(1) Melakukan pemindaian kerentanan pada setiap kontainer yang aktif dalam klaster sistem.
(2) Mendokumentasikan jenis ancaman yang ditemukan berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya secara mendalam.
(3) Memperbarui patch keamanan pada pustaka perangkat lunak yang teridentifikasi memiliki celah keamanan.
(4) Mengonfigurasi ulang kebijakan firewall internal guna membatasi komunikasi antar-layanan yang tidak diperlukan.
(5) Melakukan pengujian penetrasi ulang guna memvalidasi bahwa seluruh celah keamanan telah teratasi dengan baik.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang benar mengenai logika urutan dan keterkaitan antar-langkah dalam teks tersebut?
- Langkah 2 memberikan landasan data untuk menentukan prioritas tindakan pada langkah 3.
- Langkah 1 harus diselesaikan sepenuhnya sebelum langkah 2 dimulai agar dokumentasi akurat.
- Langkah 3 dan 4 bersifat independen sehingga urutan pengerjaannya dapat dipertukarkan.
- Langkah 5 berfungsi sebagai prosedur kendali mutu atas efektivitas langkah 3 dan 4.
- Langkah 1 dan 5 merupakan aktivitas identifikasi yang dilakukan pada fase yang sama.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, D
Langkah 2 (dokumentasi ancaman) logis dilakukan setelah langkah 1 (pemindaian) dan sebelum langkah 3 (perbaikan) agar tindakan tepat sasaran. Langkah 3 (patching) dan 4 (firewall) dapat dilakukan tanpa saling menunggu karena menangani aspek keamanan yang berbeda (pustaka vs jaringan). Langkah 5 adalah validasi akhir untuk memastikan perbaikan di langkah sebelumnya berhasil. Opsi E salah karena langkah 1 adalah deteksi awal, sedangkan langkah 5 adalah validasi pasca-tindakan.
Soal No. 2 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Mitigasi Kerentanan Keamanan pada Arsitektur Mikroservis
(1) Melakukan pemindaian kerentanan pada setiap kontainer yang aktif dalam klaster sistem.
(2) Mendokumentasikan jenis ancaman yang ditemukan berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya secara mendalam.
(3) Memperbarui patch keamanan pada pustaka perangkat lunak yang teridentifikasi memiliki celah keamanan.
(4) Mengonfigurasi ulang kebijakan firewall internal guna membatasi komunikasi antar-layanan yang tidak diperlukan.
(5) Melakukan pengujian penetrasi ulang guna memvalidasi bahwa seluruh celah keamanan telah teratasi dengan baik.
Pertanyaan: Bagaimana penggunaan peranti kohesi dapat meningkatkan kepaduan (koherensi) teks prosedur tersebut?
- Penambahan kata “Selanjutnya” di awal langkah 2 memperjelas hubungan urutan waktu.
- Penggunaan frasa “pustaka tersebut” pada langkah 3 memperkuat rujukan ke hasil langkah 2.
- Kata “Oleh karena itu” di awal langkah 4 menjelaskan hubungan sebab-akibat dengan langkah 3.
- Frasa “Sebagai tahap akhir” pada langkah 5 membantu pembaca mengenali penutup prosedur.
- Kata “Tetapi” di awal langkah 1 diperlukan untuk menunjukkan adanya pertentangan situasi.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Koherensi dapat ditingkatkan dengan konjungsi temporal (A) dan kata ganti penunjuk/anafora (B) untuk menghubungkan informasi antar-langkah. Penanda urutan akhir (D) mempertegas struktur penutup. Opsi C salah karena langkah 4 bukan akibat dari langkah 3, melainkan langkah mitigasi paralel. Opsi E salah karena tidak ada pertentangan di awal prosedur.
Soal No. 3 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Mitigasi Kerentanan Keamanan pada Arsitektur Mikroservis
(1) Melakukan pemindaian kerentanan pada setiap kontainer yang aktif dalam klaster sistem.
(2) Mendokumentasikan jenis ancaman yang ditemukan berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya secara mendalam.
(3) Memperbarui patch keamanan pada pustaka perangkat lunak yang teridentifikasi memiliki celah keamanan.
(4) Mengonfigurasi ulang kebijakan firewall internal guna membatasi komunikasi antar-layanan yang tidak diperlukan.
(5) Melakukan pengujian penetrasi ulang guna memvalidasi bahwa seluruh celah keamanan telah teratasi dengan baik.
Pertanyaan: Pernyataan manakah yang sesuai dengan kondisi struktur teks prosedur di atas?
- Judul teks berfungsi sebagai representasi tujuan instruksional dari prosedur tersebut.
- Bagian alat dan bahan tidak ditulis secara eksplisit namun tersirat dalam deskripsi kerja.
- Teks tersebut memerlukan tambahan kalimat penegasan ulang di bagian akhir sebagai simpulan.
- Langkah-langkah dalam teks sudah disusun secara sistematis berdasarkan alur kerja teknis.
- Teks tersebut sudah mencantumkan pernyataan umum yang menjelaskan definisi mikroservis.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, D
Secara struktural, judul sudah mencerminkan tujuan (A). Alat/bahan seperti scanner atau firewall tersirat dalam langkah (B). Teks hanya berisi langkah-langkah, sehingga belum memiliki penegasan ulang/penutup (C). Alur kerja dari deteksi hingga validasi sudah sistematis (D). Opsi E salah karena teks langsung masuk ke langkah-langkah tanpa paragraf pengantar/pernyataan umum.
Soal No. 4 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Langkah-Langkah Restorasi Ekosistem Mangrove Berbasis Partisipasi Masyarakat
Ekosistem mangrove memiliki peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan pesisir. Restorasi yang efektif memerlukan pendekatan sistematis untuk memastikan keberlanjutan. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Tahap Persiapan: Lakukan pemetaan zonasi vegetasi asli dan analisis pasang surut air laut untuk menentukan lokasi penanaman yang tepat.
2. Pengadaan Bibit: Pilih bibit dari jenis dominan lokal yang sudah berumur minimal 4-6 bulan atau memiliki minimal 4 helai daun sejati.
3. Penanaman: Buatlah lubang tanam dengan jarak 1×1 meter atau sesuai kerapatan alami, lalu lepaskan polibag dengan hati-hati agar media tanam tidak hancur.
4. Pemeliharaan: Lakukan penyulaman pada bibit yang mati dan pembersihan sampah atau gulma yang menyangkut di batang bibit secara berkala selama dua tahun pertama.
5. Monitoring: Evaluasi tingkat kelangsungan hidup bibit setiap enam bulan untuk menentukan tindakan korektif yang diperlukan.
Keberhasilan restorasi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga area konservasi dari gangguan manusia dan ternak.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang menunjukkan penggunaan konjungsi atau penanda kohesi yang mendukung urutan logis dalam teks prosedur tersebut?
- Penggunaan kata “lalu” pada tahap penanaman berfungsi menghubungkan aktivitas pembuatan lubang dengan pelepasan polibag secara kronologis.
- Kata “untuk” pada tahap persiapan berfungsi sebagai konjungsi tujuan yang menghubungkan analisis dengan penentuan lokasi penanaman.
- Penggunaan kata “atau” pada tahap pengadaan bibit menunjukkan hubungan pemilihan alternatif kriteria fisik bibit yang berkualitas.
- Kata “dan” pada tahap monitoring berfungsi sebagai penanda urutan waktu utama dalam proses evaluasi kelangsungan hidup bibit.
- Frasa “secara berkala” pada tahap pemeliharaan menunjukkan kohesi temporal yang mengatur repetisi tindakan dalam kurun waktu tertentu.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Opsi A benar karena ‘lalu’ adalah konjungsi temporal urutan. Opsi B benar karena ‘untuk’ menunjukkan hubungan tujuan (kausal-final). Opsi C benar karena ‘atau’ menunjukkan pilihan (disjungtif) antara umur bibit atau jumlah daun. Opsi E benar karena ‘secara berkala’ memberikan keterangan waktu repetitif yang menjaga kelogisan langkah pemeliharaan. Opsi D salah karena ‘dan’ dalam kalimat tersebut berfungsi sebagai konjungsi penambahan antarunsur, bukan penanda urutan waktu (kronologis).
Soal No. 5 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Langkah-Langkah Restorasi Ekosistem Mangrove Berbasis Partisipasi Masyarakat
Ekosistem mangrove memiliki peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan pesisir. Restorasi yang efektif memerlukan pendekatan sistematis untuk memastikan keberlanjutan. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Tahap Persiapan: Lakukan pemetaan zonasi vegetasi asli dan analisis pasang surut air laut untuk menentukan lokasi penanaman yang tepat.
2. Pengadaan Bibit: Pilih bibit dari jenis dominan lokal yang sudah berumur minimal 4-6 bulan atau memiliki minimal 4 helai daun sejati.
3. Penanaman: Buatlah lubang tanam dengan jarak 1×1 meter atau sesuai kerapatan alami, lalu lepaskan polibag dengan hati-hati agar media tanam tidak hancur.
4. Pemeliharaan: Lakukan penyulaman pada bibit yang mati dan pembersihan sampah atau gulma yang menyangkut di batang bibit secara berkala selama dua tahun pertama.
5. Monitoring: Evaluasi tingkat kelangsungan hidup bibit setiap enam bulan untuk menentukan tindakan korektif yang diperlukan.
Keberhasilan restorasi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga area konservasi dari gangguan manusia dan ternak.
Pertanyaan: Berdasarkan struktur teks prosedur tersebut, manakah langkah tambahan yang dapat disisipkan untuk merekonstruksi tahap persiapan agar lebih komprehensif tanpa merusak koherensi teks?
- Menambahkan sosialisasi dan koordinasi dengan pemangku kepentingan lokal di awal tahap persiapan.
- Menyisipkan langkah pengujian salinitas air sebagai bagian dari analisis lokasi pada tahap persiapan.
- Memindahkan langkah pemetaan zonasi vegetasi ke bagian akhir setelah tahap monitoring selesai dilakukan.
- Menghapus analisis pasang surut air laut karena dianggap sudah terwakili oleh data pemetaan zonasi.
- Menggabungkan tahap pengadaan bibit dengan tahap pemeliharaan agar proses pengerjaan menjadi lebih singkat.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B
Opsi A benar karena sosialisasi adalah langkah logis sebelum memulai teknis lapangan untuk memastikan dukungan masyarakat. Opsi B benar karena uji salinitas merupakan data teknis yang relevan dengan persiapan lokasi mangrove. Opsi C salah karena merusak struktur logis (pemetaan harus di awal). Opsi D salah karena analisis pasang surut berbeda dengan zonasi vegetasi. Opsi E salah karena secara logika prosedur, pengadaan bibit dan pemeliharaan adalah dua fase yang berbeda waktunya.
Soal No. 6 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Langkah-Langkah Restorasi Ekosistem Mangrove Berbasis Partisipasi Masyarakat
Ekosistem mangrove memiliki peran krusial dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan pesisir. Restorasi yang efektif memerlukan pendekatan sistematis untuk memastikan keberlanjutan. Berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Tahap Persiapan: Lakukan pemetaan zonasi vegetasi asli dan analisis pasang surut air laut untuk menentukan lokasi penanaman yang tepat.
2. Pengadaan Bibit: Pilih bibit dari jenis dominan lokal yang sudah berumur minimal 4-6 bulan atau memiliki minimal 4 helai daun sejati.
3. Penanaman: Buatlah lubang tanam dengan jarak 1×1 meter atau sesuai kerapatan alami, lalu lepaskan polibag dengan hati-hati agar media tanam tidak hancur.
4. Pemeliharaan: Lakukan penyulaman pada bibit yang mati dan pembersihan sampah atau gulma yang menyangkut di batang bibit secara berkala selama dua tahun pertama.
5. Monitoring: Evaluasi tingkat kelangsungan hidup bibit setiap enam bulan untuk menentukan tindakan korektif yang diperlukan.
Keberhasilan restorasi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menjaga area konservasi dari gangguan manusia dan ternak.
Pertanyaan: Bagian penutup dalam teks tersebut berfungsi sebagai penegasan ulang. Manakah pernyataan yang secara akurat menggambarkan peran bagian tersebut dalam memperkuat koherensi seluruh teks?
- Menghubungkan keberhasilan seluruh prosedur teknis dengan faktor eksternal berupa peran aktif masyarakat.
- Memberikan penekanan bahwa variabel keberhasilan tidak hanya terletak pada langkah fisik, tetapi juga pada proteksi area.
- Mengulang kembali rincian langkah pada tahap persiapan dan penanaman agar pembaca lebih memahami instruksi.
- Menyelaraskan tujuan awal restorasi (mitigasi iklim) dengan upaya konkret pencegahan gangguan manusia dan ternak.
- Menjelaskan sanksi hukum secara mendetail bagi siapa saja yang merusak ekosistem mangrove yang telah direstorasi.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A, B, dan D benar karena kalimat penutup tersebut secara kohesif mengikat tujuan di awal teks dengan langkah-langkah teknis di tengah, serta memberikan simpulan tentang faktor kunci keberhasilan (masyarakat dan proteksi). Opsi C salah karena penutup tersebut tidak mengulang langkah teknis. Opsi E salah karena teks tidak menyebutkan rincian sanksi hukum.
Soal No. 7 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
PROSEDUR REKONSTRUKSI STRUKTUR DAN KOHERENSI TEKS
Rekonstruksi teks merupakan proses intelektual untuk menata ulang bagian-bagian teks yang acak, terfragmentasi, atau tidak utuh agar kembali menjadi sebuah kesatuan wacana yang koheren dan memiliki struktur generik yang benar. Proses ini sangat penting dalam penulisan akademik untuk memastikan gagasan tersampaikan secara efektif. Berikut adalah langkah-langkah dalam merekonstruksi teks:
1. Identifikasi Tesis Utama: Temukan gagasan sentral atau tesis yang berfungsi sebagai fondasi dan jangkar bagi seluruh isi teks. Tanpa tesis yang jelas, rekonstruksi akan kehilangan arah.
2. Klasifikasi Informasi Pendukung: Kelompokkan kalimat-kalimat atau fragmen teks ke dalam kategori argumen yang relevan. Pastikan setiap kelompok data mendukung tesis utama secara langsung.
3. Penyusunan Urutan Logis: Susunlah kelompok-kelompok informasi tersebut ke dalam urutan yang sistematis. Anda dapat menggunakan pola kausalitas (sebab-akibat), kronologis (urutan waktu), atau hierarkis (dari yang paling umum ke yang paling spesifik).
4. Integrasi Peranti Kohesi: Gunakan peranti kohesi untuk menjembatani antarparagraf dan antarkalimat. Peranti ini meliputi konjungsi transisional (seperti ‘namun’, ‘oleh karena itu’, ‘selain itu’) dan anafora (kata rujukan seperti ‘hal ini’, ‘tersebut’) untuk menciptakan kepaduan.
5. Evaluasi Struktur Makro: Lakukan tinjauan menyeluruh untuk memastikan bahwa struktur teks (Pendahuluan, Isi, dan Penutup) telah terbentuk dengan solid dan pesan utama telah terakomodasi secara utuh tanpa ada kontradiksi internal.
Pertanyaan: Manakah pernyataan berikut yang mencerminkan langkah-langkah kritis dalam memastikan koherensi global pada proses rekonstruksi teks sesuai dengan stimulus tersebut?
- Mengidentifikasi tesis atau ide pokok sebagai jangkar utama seluruh argumen dalam teks.
- Mengelompokkan informasi atau argumen pendukung berdasarkan kemiripan tema atau kategori.
- Menyusun urutan paragraf secara acak untuk meningkatkan kreativitas pembaca dalam menafsirkan teks.
- Membangun alur berpikir yang sistematis melalui penerapan pola kausalitas maupun kronologis.
- Menghilangkan penggunaan konjungsi transisional agar teks terlihat lebih padat dan ringkas.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Berdasarkan stimulus, langkah kritis dalam rekonstruksi meliputi: 1) Identifikasi tesis sebagai fondasi (Opsi A benar), 2) Klasifikasi atau pengelompokan argumen (Opsi B benar), dan 3) Penyusunan urutan logis seperti pola kausalitas/kronologis (Opsi D benar). Opsi C salah karena penyusunan acak merusak koherensi. Opsi E salah karena konjungsi justru diperlukan untuk menjembatani antarparagraf.
Soal No. 8 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
PROSEDUR REKONSTRUKSI STRUKTUR DAN KOHERENSI TEKS
Rekonstruksi teks merupakan proses intelektual untuk menata ulang bagian-bagian teks yang acak, terfragmentasi, atau tidak utuh agar kembali menjadi sebuah kesatuan wacana yang koheren dan memiliki struktur generik yang benar. Proses ini sangat penting dalam penulisan akademik untuk memastikan gagasan tersampaikan secara efektif. Berikut adalah langkah-langkah dalam merekonstruksi teks:
1. Identifikasi Tesis Utama: Temukan gagasan sentral atau tesis yang berfungsi sebagai fondasi dan jangkar bagi seluruh isi teks. Tanpa tesis yang jelas, rekonstruksi akan kehilangan arah.
2. Klasifikasi Informasi Pendukung: Kelompokkan kalimat-kalimat atau fragmen teks ke dalam kategori argumen yang relevan. Pastikan setiap kelompok data mendukung tesis utama secara langsung.
3. Penyusunan Urutan Logis: Susunlah kelompok-kelompok informasi tersebut ke dalam urutan yang sistematis. Anda dapat menggunakan pola kausalitas (sebab-akibat), kronologis (urutan waktu), atau hierarkis (dari yang paling umum ke yang paling spesifik).
4. Integrasi Peranti Kohesi: Gunakan peranti kohesi untuk menjembatani antarparagraf dan antarkalimat. Peranti ini meliputi konjungsi transisional (seperti ‘namun’, ‘oleh karena itu’, ‘selain itu’) dan anafora (kata rujukan seperti ‘hal ini’, ‘tersebut’) untuk menciptakan kepaduan.
5. Evaluasi Struktur Makro: Lakukan tinjauan menyeluruh untuk memastikan bahwa struktur teks (Pendahuluan, Isi, dan Penutup) telah terbentuk dengan solid dan pesan utama telah terakomodasi secara utuh tanpa ada kontradiksi internal.
Pertanyaan: Peranti kohesi seperti anafora dan konjungsi transisional berperan vital dalam rekonstruksi teks. Manakah fungsi peranti kohesi yang benar sesuai dengan konteks prosedur tersebut?
- Menghubungkan gagasan antarparagraf agar alur berpikir menjadi padu dan tidak terfragmentasi.
- Menghindari pengulangan kata yang berlebihan melalui penggunaan kata rujukan yang tepat.
- Memastikan transisi antarargumen mengalir secara logis sehingga pesan utama mudah dipahami.
- Mengubah genre teks dari prosedur menjadi teks narasi yang bersifat imajinatif dan subjektif.
- Menyembunyikan ide pokok teks agar pembaca lebih tertantang dalam menganalisis struktur teks.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Peranti kohesi berfungsi untuk menciptakan kepaduan (Opsi A benar), efisiensi melalui rujukan/anafora (Opsi B benar), dan kelancaran transisi argumen (Opsi C benar). Opsi D salah karena peranti kohesi tidak bertujuan mengubah genre teks. Opsi E salah karena tujuan rekonstruksi adalah membuat teks lebih jelas, bukan menyembunyikan ide pokok.
Soal No. 9 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
PROSEDUR REKONSTRUKSI STRUKTUR DAN KOHERENSI TEKS
Rekonstruksi teks merupakan proses intelektual untuk menata ulang bagian-bagian teks yang acak, terfragmentasi, atau tidak utuh agar kembali menjadi sebuah kesatuan wacana yang koheren dan memiliki struktur generik yang benar. Proses ini sangat penting dalam penulisan akademik untuk memastikan gagasan tersampaikan secara efektif. Berikut adalah langkah-langkah dalam merekonstruksi teks:
1. Identifikasi Tesis Utama: Temukan gagasan sentral atau tesis yang berfungsi sebagai fondasi dan jangkar bagi seluruh isi teks. Tanpa tesis yang jelas, rekonstruksi akan kehilangan arah.
2. Klasifikasi Informasi Pendukung: Kelompokkan kalimat-kalimat atau fragmen teks ke dalam kategori argumen yang relevan. Pastikan setiap kelompok data mendukung tesis utama secara langsung.
3. Penyusunan Urutan Logis: Susunlah kelompok-kelompok informasi tersebut ke dalam urutan yang sistematis. Anda dapat menggunakan pola kausalitas (sebab-akibat), kronologis (urutan waktu), atau hierarkis (dari yang paling umum ke yang paling spesifik).
4. Integrasi Peranti Kohesi: Gunakan peranti kohesi untuk menjembatani antarparagraf dan antarkalimat. Peranti ini meliputi konjungsi transisional (seperti ‘namun’, ‘oleh karena itu’, ‘selain itu’) dan anafora (kata rujukan seperti ‘hal ini’, ‘tersebut’) untuk menciptakan kepaduan.
5. Evaluasi Struktur Makro: Lakukan tinjauan menyeluruh untuk memastikan bahwa struktur teks (Pendahuluan, Isi, dan Penutup) telah terbentuk dengan solid dan pesan utama telah terakomodasi secara utuh tanpa ada kontradiksi internal.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus, apa saja indikator yang menunjukkan bahwa sebuah teks hasil rekonstruksi telah memiliki struktur dan koherensi yang baik?
- Terdapat keselarasan yang nyata antara tesis di bagian awal dengan argumen-argumen di bagian isi.
- Setiap kalimat dalam paragraf saling bertautan secara padu menggunakan peranti kebahasaan yang sesuai.
- Informasi disajikan secara sistematis sehingga mendukung penyampaian pesan utama secara utuh.
- Setiap paragraf memiliki topik yang berbeda-beda tanpa ada keterkaitan satu sama lain secara logika.
- Penggunaan bahasa yang digunakan bersifat sangat teknis sehingga hanya bisa dipahami oleh pakar tertentu.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Indikator keberhasilan rekonstruksi adalah adanya keselarasan struktur makro (Opsi A benar), keterpautan antarunsur atau kohesi (Opsi B benar), dan penyampaian pesan yang utuh melalui sistematisasi informasi (Opsi C benar). Opsi D salah karena ketiadaan keterkaitan antarparagraf justru menunjukkan kegagalan koherensi. Opsi E tidak relevan dengan indikator struktur dan koherensi.
Soal No. 10 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
### Prosedur Restorasi Ekosistem Mangrove Berkelanjutan
Restorasi ekosistem mangrove merupakan langkah strategis dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan melindungi garis pantai dari abrasi. Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, diperlukan prosedur yang sistematis dan koheren. Tahapan awal dimulai dengan pelaksanaan survei lokasi guna memetakan zonasi serta mengidentifikasi jenis mangrove yang adaptif terhadap salinitas air setempat. Setelah data lokasi terkumpul, langkah berikutnya adalah pengumpulan propagula (buah mangrove) dari pohon induk yang sehat dan matang.
Sebelum bibit ditanam di lokasi permanen, propagula wajib melewati fase persemaian di bedengan khusus selama kurang lebih 3 hingga 4 bulan. Fase ini sangat krusial agar sistem perakaran bibit dapat beradaptasi dengan tekstur lumpur dan fluktuasi air di area restorasi. Pemindahan bibit ke area penanaman dilakukan ketika bibit telah memiliki minimal empat helai daun, dan proses ini harus dilaksanakan saat kondisi air laut sedang surut. Sebagai tahap akhir, pemantauan berkala wajib dilakukan setiap bulan untuk melakukan penyulaman pada bibit yang tidak tumbuh serta membersihkan sampah anorganik yang dapat menghambat pertumbuhan batang.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus tersebut, manakah pernyataan-pernyataan berikut yang merupakan alasan logis mengapa fase persemaian menjadi tahapan yang tidak boleh dilewati dalam struktur prosedur tersebut?
- Memberikan waktu bagi sistem perakaran bibit untuk beradaptasi dengan lingkungan lumpur.
- Memastikan bibit telah mencapai kematangan biologis yang ditandai dengan jumlah daun minimal.
- Mengurangi biaya operasional penanaman karena bibit yang mati dipisahkan sejak awal.
- Melindungi bibit dari paparan langsung arus laut yang ekstrem sebelum akarnya cukup kuat.
- Mempermudah proses identifikasi jenis mangrove yang paling cepat tumbuh di bedengan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Fase persemaian dalam teks tersebut secara eksplisit bertujuan agar sistem perakaran bibit beradaptasi dengan lumpur (A) dan memastikan bibit siap pindah saat memiliki minimal empat helai daun (B). Secara inferensial, adaptasi terhadap fluktuasi air mencakup perlindungan dari arus laut sebelum akar bibit cukup kuat (D). Opsi C dan E tidak disebutkan dan bukan merupakan alasan utama teknis dalam teks prosedur tersebut.
Soal No. 11 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
### Prosedur Restorasi Ekosistem Mangrove Berkelanjutan
Restorasi ekosistem mangrove merupakan langkah strategis dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan melindungi garis pantai dari abrasi. Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, diperlukan prosedur yang sistematis dan koheren. Tahapan awal dimulai dengan pelaksanaan survei lokasi guna memetakan zonasi serta mengidentifikasi jenis mangrove yang adaptif terhadap salinitas air setempat. Setelah data lokasi terkumpul, langkah berikutnya adalah pengumpulan propagula (buah mangrove) dari pohon induk yang sehat dan matang.
Sebelum bibit ditanam di lokasi permanen, propagula wajib melewati fase persemaian di bedengan khusus selama kurang lebih 3 hingga 4 bulan. Fase ini sangat krusial agar sistem perakaran bibit dapat beradaptasi dengan tekstur lumpur dan fluktuasi air di area restorasi. Pemindahan bibit ke area penanaman dilakukan ketika bibit telah memiliki minimal empat helai daun, dan proses ini harus dilaksanakan saat kondisi air laut sedang surut. Sebagai tahap akhir, pemantauan berkala wajib dilakukan setiap bulan untuk melakukan penyulaman pada bibit yang tidak tumbuh serta membersihkan sampah anorganik yang dapat menghambat pertumbuhan batang.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang tepat mengenai keterkaitan antarstruktur dan koherensi dalam teks prosedur tersebut?
- Penggunaan kata ‘setelah’ dan ‘sebagai tahap akhir’ berfungsi sebagai penanda kohesi temporal antarlangkah.
- Bagian langkah-langkah disusun secara kronologis untuk memastikan keberlangsungan hidup bibit mangrove.
- Tahap survei lokasi bersifat opsional dan dapat dilakukan setelah pengumpulan propagula selesai.
- Koherensi teks terganggu karena tidak mencantumkan alat dan bahan secara eksplisit di awal teks.
- Pernyataan umum di awal paragraf memberikan konteks mengenai urgensi dilakukannya prosedur restorasi.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, E
Teks tersebut menggunakan konjungsi temporal untuk kohesi (A), disusun secara kronologis untuk tujuan keberhasilan restorasi (B), dan diawali pernyataan umum tentang mitigasi iklim sebagai konteks/tujuan (E). Opsi C salah karena survei adalah tahapan awal yang menentukan zonasi. Opsi D salah karena ketiadaan daftar alat secara terpisah tidak serta merta merusak koherensi makna dalam teks prosedur kompleks.
Soal No. 12 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
### Prosedur Restorasi Ekosistem Mangrove Berkelanjutan
Restorasi ekosistem mangrove merupakan langkah strategis dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan melindungi garis pantai dari abrasi. Untuk memastikan keberhasilan program tersebut, diperlukan prosedur yang sistematis dan koheren. Tahapan awal dimulai dengan pelaksanaan survei lokasi guna memetakan zonasi serta mengidentifikasi jenis mangrove yang adaptif terhadap salinitas air setempat. Setelah data lokasi terkumpul, langkah berikutnya adalah pengumpulan propagula (buah mangrove) dari pohon induk yang sehat dan matang.
Sebelum bibit ditanam di lokasi permanen, propagula wajib melewati fase persemaian di bedengan khusus selama kurang lebih 3 hingga 4 bulan. Fase ini sangat krusial agar sistem perakaran bibit dapat beradaptasi dengan tekstur lumpur dan fluktuasi air di area restorasi. Pemindahan bibit ke area penanaman dilakukan ketika bibit telah memiliki minimal empat helai daun, dan proses ini harus dilaksanakan saat kondisi air laut sedang surut. Sebagai tahap akhir, pemantauan berkala wajib dilakukan setiap bulan untuk melakukan penyulaman pada bibit yang tidak tumbuh serta membersihkan sampah anorganik yang dapat menghambat pertumbuhan batang.
Pertanyaan: Pilihlah pernyataan-pernyataan yang benar terkait instruksi teknis yang terdapat dalam teks ‘Restorasi Ekosistem Mangrove Berkelanjutan’ tersebut!
- Penanaman bibit di lokasi permanen harus memperhatikan kondisi pasang surut air laut.
- Propagula yang dikumpulkan harus berasal dari pohon induk yang sudah melewati masa pemantauan.
- Penyulaman bibit merupakan bagian dari proses pemeliharaan yang dilakukan pada tahap akhir.
- Jumlah daun pada bibit menjadi indikator utama kesiapan bibit untuk dipindahkan dari persemaian.
- Survei lokasi bertujuan untuk menentukan jenis pupuk kimia yang sesuai dengan salinitas air.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Pernyataan A benar karena teks menyebutkan penanaman dilakukan saat air surut. Pernyataan C benar karena penyulaman adalah bagian dari tahap pemantauan berkala (akhir). Pernyataan D benar karena teks menyebutkan syarat minimal empat helai daun. Pernyataan B salah karena pohon induk hanya disyaratkan sehat dan matang. Pernyataan E salah karena survei bertujuan menentukan zonasi dan jenis mangrove, bukan pupuk.
Soal No. 13 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Penanganan Insiden Keamanan Siber: Mitigasi Ransomware. (1) Isolasi Perangkat: Segera putuskan koneksi perangkat yang terinfeksi dari jaringan lokal maupun internet untuk menghentikan penyebaran secara lateral. (2) Identifikasi Varian: Periksa perubahan ekstensi file dan dokumen pesan tebusan (ransom note) untuk mengenali jenis ransomware yang menyerang. (3) Sterilisasi Sistem: Gunakan perangkat lunak pemindai keamanan mutakhir untuk menghapus sisa-sisa malware dari sistem sebelum melakukan tindakan lebih lanjut. (4) Pemulihan Data: Pulihkan data menggunakan salinan cadangan (backup) yang tersimpan di media luring yang dipastikan tidak terpapar serangan. (5) Evaluasi Keamanan: Perbarui seluruh sistem pertahanan, tambal celah kerentanan (patching), dan susun laporan kronologi sebagai langkah preventif di masa depan.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang secara logis dapat memperkuat hubungan koherensi antara tahap isolasi perangkat dan tahap identifikasi varian?
- Setelah isolasi dinyatakan berhasil, tim ahli dapat segera melakukan analisis mendalam terhadap file.
- Langkah pemutusan jaringan tersebut menjadi landasan sebelum melakukan audit pada dokumen terinfeksi.
- Kemudian, observasi terhadap pola perubahan nama file dilakukan untuk mengklasifikasi jenis serangan.
- Sebaliknya, pemulihan data tidak akan efektif jika tahap identifikasi varian belum diselesaikan.
- Meskipun demikian, isolasi perangkat tidak menjamin data yang terenkripsi dapat kembali secara utuh.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Pernyataan A, B, dan C berfungsi sebagai transisi logis yang menghubungkan tindakan fisik (isolasi) dengan tindakan analitis (identifikasi). Pernyataan D lebih menekankan pada hubungan antara pemulihan dan identifikasi, sedangkan E adalah fakta kontras yang tidak memperkuat alur prosedur.
Soal No. 14 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Penanganan Insiden Keamanan Siber: Mitigasi Ransomware. (1) Isolasi Perangkat: Segera putuskan koneksi perangkat yang terinfeksi dari jaringan lokal maupun internet untuk menghentikan penyebaran secara lateral. (2) Identifikasi Varian: Periksa perubahan ekstensi file dan dokumen pesan tebusan (ransom note) untuk mengenali jenis ransomware yang menyerang. (3) Sterilisasi Sistem: Gunakan perangkat lunak pemindai keamanan mutakhir untuk menghapus sisa-sisa malware dari sistem sebelum melakukan tindakan lebih lanjut. (4) Pemulihan Data: Pulihkan data menggunakan salinan cadangan (backup) yang tersimpan di media luring yang dipastikan tidak terpapar serangan. (5) Evaluasi Keamanan: Perbarui seluruh sistem pertahanan, tambal celah kerentanan (patching), dan susun laporan kronologi sebagai langkah preventif di masa depan.
Pertanyaan: Manakah di antara kata-kata berikut yang merupakan verba imperatif yang tepat untuk menyusun instruksi dalam teks prosedur tersebut?
- Putuskan.
- Periksalah.
- Terdeteksi.
- Lakukan.
- Terenkripsi.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Kata ‘Putuskan’, ‘Periksalah’, dan ‘Lakukan’ merupakan bentuk perintah atau verba imperatif yang memberikan instruksi langsung kepada pembaca. ‘Terdeteksi’ dan ‘Terenkripsi’ merupakan bentuk verba pasif atau adjektiva yang mendeskripsikan keadaan.
Soal No. 15 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Penanganan Insiden Keamanan Siber: Mitigasi Ransomware. (1) Isolasi Perangkat: Segera putuskan koneksi perangkat yang terinfeksi dari jaringan lokal maupun internet untuk menghentikan penyebaran secara lateral. (2) Identifikasi Varian: Periksa perubahan ekstensi file dan dokumen pesan tebusan (ransom note) untuk mengenali jenis ransomware yang menyerang. (3) Sterilisasi Sistem: Gunakan perangkat lunak pemindai keamanan mutakhir untuk menghapus sisa-sisa malware dari sistem sebelum melakukan tindakan lebih lanjut. (4) Pemulihan Data: Pulihkan data menggunakan salinan cadangan (backup) yang tersimpan di media luring yang dipastikan tidak terpapar serangan. (5) Evaluasi Keamanan: Perbarui seluruh sistem pertahanan, tambal celah kerentanan (patching), dan susun laporan kronologi sebagai langkah preventif di masa depan.
Pertanyaan: Manakah analisis yang tepat mengenai hubungan logis antar-tahapan dalam struktur teks prosedur tersebut?
- Tahap sterilisasi sistem merupakan prasyarat yang wajib dipenuhi sebelum proses pemulihan data dimulai.
- Tahap identifikasi varian memberikan data yang diperlukan untuk menentukan metode sterilisasi yang efektif.
- Tahap evaluasi keamanan dapat dilakukan mendahului tahap isolasi jika ancaman belum menyebar luas.
- Tahap isolasi perangkat berfungsi sebagai tindakan defensif pertama untuk melindungi sisa infrastruktur jaringan.
- Tahap pemulihan data adalah satu-satunya langkah yang secara otomatis menutup celah keamanan sistem.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Dalam teks prosedur teknis, urutan logis sangat krusial: sterilisasi harus mendahului pemulihan data agar data baru tidak terinfeksi kembali (A), identifikasi mendasari strategi sterilisasi (B), dan isolasi adalah langkah defensif awal yang logis (D). Pernyataan C menyalahi prosedur mitigasi insiden, dan E salah secara substansi karena pemulihan tidak menutup celah keamanan.
Soal No. 16 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Digitalisasi Naskah Kuno pada Lembaga Kearsipan: (1) Sebelum memulai proses digitalisasi, petugas wajib melakukan identifikasi kondisi fisik naskah untuk menentukan tingkat kerapuhan. (2) Selanjutnya, bersihkan permukaan naskah secara perlahan menggunakan kuas halus guna menghilangkan debu yang menempel. (3) Setelah persiapan fisik selesai, atur pencahayaan ruangan pada tingkat 50 hingga 100 lux agar tidak merusak pigmen tinta kuno. (4) Kemudian, lakukan pengambilan gambar menggunakan kamera sensor penuh dengan resolusi minimal 600 dpi. (5) Pada tahap pascaproduksi, simpan salinan master dalam format TIFF tanpa kompresi untuk menjaga keaslian detail visual. (6) Terakhir, lakukan pengisian metadata Dublin Core agar naskah mudah ditelusuri dalam pangkalan data digital.
Pertanyaan: Berdasarkan teks prosedur tersebut, manakah tindakan yang termasuk ke dalam fase persiapan fisik naskah sebelum proses pengambilan gambar dilakukan?
- Melakukan identifikasi kondisi fisik naskah.
- Membersihkan permukaan naskah dengan kuas halus.
- Mengatur intensitas cahaya hingga 100 lux.
- Mengonversi salinan gambar ke format TIFF.
- Menentukan tingkat kerapuhan naskah kuno.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, E
Fase persiapan fisik naskah dijelaskan pada kalimat (1) dan (2), yang mencakup identifikasi kondisi fisik, penentuan tingkat kerapuhan, dan pembersihan debu. Opsi C berkaitan dengan persiapan teknis alat (pencahayaan), sedangkan opsi D merupakan bagian dari tahap pascaproduksi.
Soal No. 17 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Digitalisasi Naskah Kuno pada Lembaga Kearsipan: (1) Sebelum memulai proses digitalisasi, petugas wajib melakukan identifikasi kondisi fisik naskah untuk menentukan tingkat kerapuhan. (2) Selanjutnya, bersihkan permukaan naskah secara perlahan menggunakan kuas halus guna menghilangkan debu yang menempel. (3) Setelah persiapan fisik selesai, atur pencahayaan ruangan pada tingkat 50 hingga 100 lux agar tidak merusak pigmen tinta kuno. (4) Kemudian, lakukan pengambilan gambar menggunakan kamera sensor penuh dengan resolusi minimal 600 dpi. (5) Pada tahap pascaproduksi, simpan salinan master dalam format TIFF tanpa kompresi untuk menjaga keaslian detail visual. (6) Terakhir, lakukan pengisian metadata Dublin Core agar naskah mudah ditelusuri dalam pangkalan data digital.
Pertanyaan: Manakah kalimat-kalimat dalam teks tersebut yang menggunakan konjungsi temporal sebagai piranti kohesi untuk menghubungkan langkah-langkah prosedural?
- Kalimat (2) yang diawali dengan kata ‘Selanjutnya’.
- Kalimat (3) yang diawali dengan kata ‘Setelah’.
- Kalimat (4) yang diawali dengan kata ‘Kemudian’.
- Kalimat (5) yang diawali dengan frasa ‘Pada tahap’.
- Kalimat (6) yang diawali dengan kata ‘Terakhir’.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Konjungsi temporal adalah kata hubung yang menunjukkan urutan waktu. Dalam teks tersebut, kata ‘Selanjutnya’ (2), ‘Setelah’ (3), ‘Kemudian’ (4), dan ‘Terakhir’ (6) berfungsi sebagai penanda urutan kronologis antarinstruksi. Frasa ‘Pada tahap’ (5) berfungsi sebagai keterangan waktu (preposisi), bukan merupakan konjungsi temporal murni yang menghubungkan dua klausa atau kalimat secara eksplisit sebagai kata hubung.
Soal No. 18 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Digitalisasi Naskah Kuno pada Lembaga Kearsipan: (1) Sebelum memulai proses digitalisasi, petugas wajib melakukan identifikasi kondisi fisik naskah untuk menentukan tingkat kerapuhan. (2) Selanjutnya, bersihkan permukaan naskah secara perlahan menggunakan kuas halus guna menghilangkan debu yang menempel. (3) Setelah persiapan fisik selesai, atur pencahayaan ruangan pada tingkat 50 hingga 100 lux agar tidak merusak pigmen tinta kuno. (4) Kemudian, lakukan pengambilan gambar menggunakan kamera sensor penuh dengan resolusi minimal 600 dpi. (5) Pada tahap pascaproduksi, simpan salinan master dalam format TIFF tanpa kompresi untuk menjaga keaslian detail visual. (6) Terakhir, lakukan pengisian metadata Dublin Core agar naskah mudah ditelusuri dalam pangkalan data digital.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang mencerminkan upaya sistematis untuk menjaga integritas detail visual dan aksesibilitas penelusuran data naskah?
- Penggunaan kamera sensor penuh dengan resolusi minimal 600 dpi.
- Penyimpanan salinan master dalam format TIFF tanpa kompresi.
- Pengisian metadata Dublin Core pada pangkalan data.
- Pengaturan pencahayaan agar tidak merusak pigmen tinta.
- Pembersihan debu secara perlahan menggunakan kuas halus.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C
Integritas detail visual dijaga melalui penggunaan format TIFF tanpa kompresi (kalimat 5), yang menjamin data tidak hilang saat disimpan. Aksesibilitas penelusuran dijamin melalui pengisian metadata Dublin Core (kalimat 6) agar data mudah ditemukan. Opsi A berkaitan dengan kualitas tangkapan, sedangkan D dan E berkaitan dengan preservasi fisik naskah asli.
Soal No. 19 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Rekonstruksi Struktur dan Koherensi dalam Penulisan Makalah Ilmiah. Penulisan makalah ilmiah memerlukan ketelitian dalam menyusun struktur agar pesan tersampaikan secara logis. Langkah pertama adalah identifikasi masalah dan penentuan tujuan penelitian yang spesifik. Setelah itu, penulis wajib melakukan pengumpulan referensi dari sumber primer yang kredibel untuk memperkuat argumen. Tahap krusial berikutnya adalah penyusunan kerangka logis (outline) yang membagi tulisan ke dalam bagian pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Dalam pengembangan draf, penulis harus menggunakan konjungsi transisional untuk menjaga koherensi antarkalimat dan antarparagraf. Proses ini dilanjutkan dengan verifikasi akurasi sitasi guna menghindari plagiarisme. Terakhir, dilakukan finalisasi format sesuai gaya selingkung yang ditetapkan. Tanpa mengikuti tahapan ini secara berurutan, teks akan kehilangan integritas strukturalnya.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang mencerminkan upaya menjaga koherensi dan struktur yang tepat dalam merekonstruksi teks prosedur di atas?
- Menggunakan konjungsi temporal seperti “kemudian” dan “setelah itu” untuk menghubungkan antarlogika langkah.
- Menyusun daftar pustaka terlebih dahulu sebelum menentukan topik agar referensi lebih terarah.
- Memastikan setiap paragraf dalam bagian pengembangan draf hanya mengandung satu gagasan utama yang saling bertautan.
- Menghilangkan bagian identifikasi masalah agar teks prosedur langsung fokus pada langkah teknis.
- Melakukan penyuntingan substansi guna memastikan alur berpikir dari pendahuluan hingga simpulan bersifat linier.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Koherensi dalam teks prosedur dicapai melalui penggunaan konjungsi temporal (opsi A) dan kesatuan gagasan dalam paragraf (opsi C). Struktur yang baik menuntut alur berpikir yang linier dan sistematis melalui penyuntingan substansi (opsi E). Opsi B tidak logis karena referensi mengikuti topik, dan opsi D merusak struktur formal teks prosedur ilmiah.
Soal No. 20 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Prosedur Rekonstruksi Struktur dan Koherensi dalam Penulisan Makalah Ilmiah. Penulisan makalah ilmiah memerlukan ketelitian dalam menyusun struktur agar pesan tersampaikan secara logis. Langkah pertama adalah identifikasi masalah dan penentuan tujuan penelitian yang spesifik. Setelah itu, penulis wajib melakukan pengumpulan referensi dari sumber primer yang kredibel untuk memperkuat argumen. Tahap krusial berikutnya adalah penyusunan kerangka logis (outline) yang membagi tulisan ke dalam bagian pendahuluan, pembahasan, dan penutup. Dalam pengembangan draf, penulis harus menggunakan konjungsi transisional untuk menjaga koherensi antarkalimat dan antarparagraf. Proses ini dilanjutkan dengan verifikasi akurasi sitasi guna menghindari plagiarisme. Terakhir, dilakukan finalisasi format sesuai gaya selingkung yang ditetapkan. Tanpa mengikuti tahapan ini secara berurutan, teks akan kehilangan integritas strukturalnya.
Pertanyaan: Berdasarkan teks tersebut, tindakan apa saja yang dapat merusak struktur dan koherensi jika dilakukan secara tidak tepat?
- Menempatkan penyusunan kerangka logis setelah pengembangan draf dilakukan secara menyeluruh.
- Menggunakan referensi yang tidak relevan dengan topik yang telah ditetapkan di awal.
- Mengabaikan penggunaan kata transisi dalam menghubungkan antarparagraf pada bagian pembahasan.
- Menyusun simpulan yang merangkum seluruh temuan dari pembahasan yang telah dipaparkan.
- Menentukan tujuan penulisan yang terlalu luas sehingga sulit dijabarkan dalam langkah-langkah spesifik.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Struktur rusak jika kerangka disusun setelah draf (opsi A) karena urutan logis hilang. Koherensi terganggu jika referensi tidak relevan (opsi B) dan kata transisi diabaikan (opsi C). Tujuan yang terlalu luas (opsi E) menyebabkan teks tidak fokus. Opsi D adalah tindakan yang benar, bukan merusak.
Semoga bermanfaat. (kangjo)
LINK DOWNLOAD:
- Kumpulan 20 Soal Literasi-1 Berita TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-2 Deskripsi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-3 Narasi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-4 Eksposisi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-5 Eksplantasi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-6 Prosedur TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
