KANGJO.INFO, Patangkep Tutui, Barito Timur. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Timur bersama jajaran melakukan kunjungan kerja ke SDN Mawani dan SMPN Satap 2 Patangkep Tutui. Kunjungan ini dihadiri oleh Kepala Bidang PPSD, Korwas, serta Pengawas Pembina sebagai bentuk perhatian dan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan, khususnya di wilayah perbatasan dan satuan pendidikan dengan keterbatasan sarana dan sumber daya.
Kunjungan dilakukan pada hari kamis tanggal 22 januari 2026, menggunakan 2 buah mobil dinas, yang mampu membawa 13 orang. Rombongan kunjungan kerja terdiri dari Bunyamin, ST., MM kepala dinas, Erik Bimantara, S.Pd., MM kabid PPSD, kowas Hamdan, s.Pd., M.BA, pengawas pembina Jumakir, S.Pd., MM turut serta sejumlah pengawas lainnya sebanyak 9 orang. (Martihana, S.Pd., MM; Santa Eliani, S.Pd., MM, Kalanahewu, S.Pd., MM; Muhammad Triyani, S.Pd; Anjono Habaku, S.Pd; Raden P, S.Pd., MM; Jaya, S.Pd, Yuni Tampi, S.Pd., M.Pd; Sapteno Neto, S.Pd., MM)
Kepala Sekolah SDN Mawani, Yurnike, S.Pd. menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kunjungan langsung Kepala Dinas Pendidikan. Ia mengungkapkan bahwa selama tiga tahun menjabat sebagai kepala sekolah, kunjungan ini merupakan yang pertama dan menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus penyemangat bagi para guru dan tenaga kependidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Yurnike juga menyampaikan sejumlah permasalahan yang dihadapi sekolah, antara lain kekurangan guru PJOK, keterbatasan sarana prasarana, serta kondisi rumah dinas guru yang hanya tersedia satu unit untuk empat orang guru. Selain itu, ia juga menanyakan kemungkinan satu orang guru honorer untuk dimasukkan ke dalam Dapodik.
Sementara itu, Kepala SMPN Satap 2 Patangkep Tutui, Subakir, S.Pd. memaparkan kondisi awal berdirinya sekolah yang penuh keterbatasan. Proses pembelajaran pada awalnya dilakukan dengan meminjam mess PT. BCL, perusahaan kelapa sawit yang berada di Mawani, dengan ruangan yang disekat sederhana. Sarana belajar berupa kursi diperoleh dari SMPN 1 Patangkep Tutui.
Subakir juga menjelaskan tantangan lain, yakni kondisi wilayah Mawani yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, yang tidak menerapkan sistem zonasi sehingga penerimaan peserta didik lebih bebas. Hal ini berdampak pada jumlah siswa SMPN Satap 2 Patangkep Tutui yang semakin sedikit. Selain itu, sarana prasarana sekolah masih sangat minim, ruang kelas belum memiliki jendela dan teralis, serta kondisi halaman sekolah yang tanahnya miring.
Pengawas Pembina Jumakir, S.Pd., M.M. dalam paparannya menyampaikan kondisi Rapor Pendidikan. Untuk SMPN Satap 2 Patangkep Tutui, indikator numerasi berada pada kategori merah (kurang), literasi kuning (sedang), dan kualitas pembelajaran hijau (baik). Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk meningkatkan numerasi, dengan fokus pengelolaan kinerja pada penguatan numerasi dan literasi.
Sementara untuk SDN Mawani, Rapor Pendidikan menunjukkan numerasi kuning, literasi kuning, dan kualitas pembelajaran kuning, sehingga seluruh komponen perlu menjadi perhatian bersama untuk ditingkatkan secara bertahap.
Kepala Bidang PPSD Erik Bimantara, S.Pd., M.M. memberikan arahan agar sekolah memperhatikan dan berupaya meningkatkan Rapor Pendidikan sesuai kriteria yang telah dijelaskan oleh pengawas pembina. Terkait sarana prasarana, ia menyampaikan bahwa pembangunan rumah dinas dapat diusulkan sepanjang tersedia lahan. Adapun terkait guru honorer, disampaikan bahwa saat ini tidak dapat dimasukkan ke Dapodik karena adanya moratorium pengangkatan guru honorer.
Dalam arahannya, Kepala Dinas Pendidikan Barito Timur menegaskan sejumlah prioritas, di antaranya perbaikan pagar sekolah, sarana prasarana, dan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Rumah dinas guru yang tidak layak huni diminta untuk tidak digunakan. Kadisdik juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perpustakaan dan arsip daerah untuk membantu penyediaan bahan bacaan bagi peserta didik.
Beberapa catatan lain yang menjadi perhatian adalah kondisi jendela yang belum berteralis, plafon dan lantai keramik yang belum memadai. Kadisdik menegaskan bahwa meskipun anggaran terbatas, kebutuhan tersebut akan diupayakan untuk diprioritaskan, termasuk permasalahan kekurangan guru.
Khusus untuk SDN Mawani dan SMPN Satap 2 Patangkep Tutui, Kadisdik meminta agar dilakukan pendataan orang tua peserta didik yang tergolong tidak mampu. Bantuan berupa pakaian, tas, sepatu, dan alat tulis akan diupayakan melalui kerja sama dengan penjahit lokal, dengan prioritas kelas 1–4 serta kelas 7 dan 8 pada anggaran tahun 2026. Kadisdik juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Pendidikan tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, karena keluarga merupakan pondasi utama pembentukan karakter. Jika lingkungan keluarga tidak mendukung, maka akan berdampak pada proses pendidikan di sekolah.
Dalam sesi tanya jawab, Kepala SDN Mawani kembali menanyakan terkait guru honorer, dan ditegaskan kembali bahwa saat ini tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke Dapodik terkait honorer. Kepala SMPN Satap 2 Patangkep Tutui menyampaikan persoalan tanah sekolah yang miring, fasilitas olahraga, dan alat TIK. Kadisdik menanggapi dengan bantuan fasilitas olahraga berupa bola voli senilai Rp1,5 juta yang diserahkan langsung kepada kepala sekolah. Untuk Chromebook, disampaikan bahwa harus menggunakan akun belajar.id oleh karena itu Dinas mengupayakan laptop dengan spesifikasi umum sesuai ketentuan dan tersedia aplikasi yang lengkap
Sejumlah guru juga menyampaikan aspirasi. Sartoni, S. Pd menyampaikan bahwa perumahan guru yang telah dibangun sesuai gambar berdasarkan audit BPK dan minta ijin agar dapat segera ditempati, serta mengusulkan pengadaan jaringan WiFi dan kesiapan menambah laptop. Ia juga mengusulkan agar permasalahan tanah miring disampaikan kepada anggota DPR. Sementara Koboi, S. Pd memohon bantuan buku bacaan yang segera akan terwujud.
Kunjungan kerja ini ditutup dengan doa secara Islam yang dipimpin oleh Jaelani, S.Pd.I., sebagai bentuk harapan agar seluruh upaya peningkatan mutu pendidikan di SDN Mawani dan SMPN Satap 2 Patangkep Tutui dapat berjalan dengan baik dan membawa manfaat bagi peserta didik serta masyarakat sekitar.(kangjo)


