KANGJO.INFO, Yogyakarta. Di lereng Merapi yang penuh kisah, terdapat sebuah tempat yang menyimpan cerita tentang sosok sederhana namun melegenda: Mbah Maridjan. Ia dikenal sebagai Juru Kunci Gunung Merapi yang setia menjaga amanah leluhur hingga akhir hayatnya. Kepergiannya dalam erupsi Merapi 2010 meninggalkan duka mendalam sekaligus warisan nilai tentang keberanian, kesetiaan, dan pengabdian tanpa batas. Semua itu kini dapat dikenang melalui Museum Petilasan Mbah Maridjan, destinasi yang bukan hanya wisata sejarah, tetapi juga ruang refleksi tentang keteguhan seorang legenda.
Penulis datang ke Wisata Merapi pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 2025, bersama Anggota Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI) dari Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. “Ternyata Wisata Merapi bisa mengingatkan kita bahwa dulu pernah terjadi erupsi yang sangat dahsyat sehingga banyak korban berjatuhan, hal ini dapat dipetik pelajaran bahwa Manusia hanya insan lemah, yang selalu berharap perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.” ujar Kang Jo.
Kami datang ke wisata Merapi setelah selesai mengikuti Rakornas APSI di Hotel The Rich Yogyakarta, terdiri dari Jumakir, S.Pd., MM (Ketua), Kalanahewu, S.Pd., MM (Bendahara), Santa Eliani, S.Pd., MM (Seksi Kelisterasian) dan Martihana, S.Pd., MM (Seksi Pemberdayaan dan Peningkatan Profesionalisme)
Jejak Pengabdian Sang Juru Kunci Merapi
Mbah Maridjan bukan sekadar penjaga Merapi, ia adalah simbol pengabdian kepada tradisi dan masyarakat. Museum Petilasan ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan berbagai barang pribadi, foto dokumentasi, hingga kisah-kisah yang menggambarkan kehidupan beliau saat menjalankan tugas sebagai Juru Kunci.
Setiap sudut museum memancarkan kesederhanaan yang melekat pada sosok Mbah Maridjan: rumah mungilnya, peralatan sehari-hari, hingga pakaian tradisional yang menjadi ciri khasnya. Semua tertata sebagai pengingat bahwa seorang legenda tidak harus hidup megah—justru ketulusan dan keberanianlah yang membuatnya dikenang.
Saksi Bisu dari Erupsi Besar Merapi 2010
Museum ini juga menjadi pengingat kuat akan dahsyatnya erupsi Merapi 2010 yang mengubah banyak wajah wilayah sekitarnya. Abu vulkanik dan material panas yang menyapu Dusun Kinahrejo saat itu menyisakan puing-puing yang kini dijaga sebagai bukti sejarah.
Di museum, pengunjung dapat melihat dokumentasi sebelum dan sesudah bencana: foto, rekaman, dan narasi yang menggambarkan situasi mencekam saat itu. Meski sunyi, petilasan ini berbicara banyak tentang besarnya kekuatan alam dan rapuhnya kehidupan manusia dihadapannya. Namun melalui kisah Mbah Maridjan, kita juga diingatkan bahwa keberanian bisa hadir dalam bentuk paling sederhana—tetap berada di tempat yang diyakini harus dijaga.
Nilai-Nilai yang Tetap Hidup
Museum Petilasan Mbah Maridjan bukan hanya tempat mengenang tragedi, tetapi juga sarana pembelajaran. Nilai-nilai yang diwariskan beliau terasa begitu kuat:
- Kesetiaan pada tugas
Mbah Maridjan tetap berada di rumahnya karena merasa bertanggung jawab atas amanah sebagai Juru Kunci. - Keberanian dalam menghadapi alam
Ia tidak melawan, tetapi memahami dan menghormati Merapi. - Kesederhanaan dalam menjalani hidup
Hidup apa adanya, dekat dengan masyarakat, dan selalu rendah hati.
Nilai-nilai ini menjadi teladan bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin memahami budaya dan kearifan lokal di wilayah Merapi.
Wisata Edukatif yang Sarat Makna
Mengunjungi museum ini bukan hanya melihat benda dan foto, tetapi juga merasakan aura spiritual dan historis yang sangat kental. Dari halaman hingga ruang sederhana di dalamnya, pengunjung dapat merenungi arti pengabdian dan hubungan manusia dengan alam.
Bagi wisatawan, museum ini menjadi salah satu destinasi yang melengkapi petualangan di kawasan Merapi—bersanding dengan Lava Tour, Bunker Kaliadem, Batu Alien, dan objek wisata lainnya. Namun Museum Petilasan Mbah Maridjan memiliki keunikan tersendiri: ia menyentuh sisi emosional dan spiritual pengunjung.
Penutup: Warisan yang Tak Pernah Padam
Museum Petilasan Mbah Maridjan adalah monumen hidup dari seorang sosok yang telah menjadi legenda bagi masyarakat Yogyakarta dan Indonesia. Ia menjadi saksi bisu tragedi sekaligus pengingat tentang keteguhan hati manusia dalam menjalankan amanah.
Bagi siapa pun yang datang, museum ini mengajak untuk mengenang, belajar, dan merenung. Bahwa ada keberanian yang tak selalu ditunjukkan dengan kekuatan, tetapi dengan kesetiaan pada nilai dan tanggung jawab. Dan itulah warisan terbesar Mbah Maridjan—warisan yang akan selalu hidup di lereng Merapi. (kangj0)

