KANGJO.INFO, Tamiang Layang, Barito Timur. Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan bagian dari kebijakan evaluasi pendidikan yang dirancang untuk mengukur capaian akademik peserta didik secara objektif dan terstandar. Dalam rangka memastikan pelaksanaan yang seragam di seluruh Indonesia, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menetapkan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penyelenggaraan TKA.
Artikel ini secara khusus membahas implementasi juknis tersebut untuk jenjang SMA/SMK/sederajat, sebagai panduan bagi sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan dan contoh soal beserta jawabannya.
Dasar Hukum
Keputusan ini disusun berdasarkan:
- Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
- Kebijakan Merdeka Belajar
- Peraturan Menteri Pendidikan terkait asesmen nasional
- Standar nasional pendidikan terbaru
Juknis ini menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan TKA tahun 2025 dan seterusnya.
Tujuan Penyelenggaraan TKA
TKA untuk SMA/SMK/sederajat bertujuan untuk:
- Mengukur capaian akademik peserta didik secara komprehensif
- Menyediakan data untuk perbaikan mutu pendidikan
- Mendukung seleksi masuk jenjang pendidikan lebih tinggi
- Mendorong pembelajaran berbasis kompetensi
Ruang Lingkup TKA SMA/SMK
TKA pada jenjang ini mencakup:
1. Materi yang Diujikan
- Literasi: kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi teks
- Numerasi: kemampuan berpikir matematis dalam konteks nyata
- Penalaran: kemampuan berpikir kritis dan logis
- Substansi mata pelajaran tertentu (sesuai jurusan di SMA/SMK)
2. Bentuk Soal
- Pilihan ganda
- Pilihan ganda kompleks
- Isian singkat
- Uraian terbatas
Soal dirancang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Peserta TKA
Peserta TKA meliputi:
- Siswa kelas akhir SMA/MA
- Siswa kelas akhir SMK/MAK
- Peserta didik pada jalur pendidikan kesetaraan (Paket C)
Mekanisme Pelaksanaan
1. Moda Pelaksanaan
- Berbasis komputer (CBT) sebagai moda utama
- Dapat menggunakan moda semi-online atau offline terbatas jika diperlukan
2. Jadwal Pelaksanaan
- Dilaksanakan sesuai kalender yang ditetapkan oleh BSKAP
- Bersifat nasional dan serentak (dengan penyesuaian teknis daerah)
3. Tahapan Pelaksanaan
- Persiapan
- Pendataan peserta
- Penyiapan sarana prasarana
- Pelatihan proktor dan pengawas
- Pelaksanaan
- Ujian sesuai jadwal
- Pengawasan ketat berbasis sistem
- Pengolahan Hasil
- Sistem terpusat
- Analisis capaian peserta didik
- Pelaporan
- Disampaikan kepada sekolah, peserta, dan pemangku kebijakan
Peran Sekolah dan Guru
Sekolah
- Menyiapkan infrastruktur TKA
- Menjamin kejujuran dan kelancaran pelaksanaan
- Mengelola administrasi peserta
Guru
- Membimbing siswa dalam persiapan TKA
- Mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam pembelajaran
- Menganalisis hasil TKA untuk perbaikan pembelajaran
Prinsip Penyelenggaraan TKA
TKA dilaksanakan dengan prinsip:
- Objektif
- Transparan
- Akuntabel
- Adil dan inklusif
Pemanfaatan Hasil TKA
Hasil TKA digunakan untuk:
- Evaluasi capaian belajar siswa
- Pemetaan mutu pendidikan
- Pertimbangan seleksi masuk perguruan tinggi
- Dasar perbaikan kurikulum dan pembelajaran
Penutup
Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 memberikan panduan komprehensif dalam penyelenggaraan TKA, khususnya untuk jenjang SMA/SMK/sederajat. Dengan pelaksanaan yang terarah dan sesuai juknis, diharapkan TKA dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Latihan Soal Lierasi Berita TKA SMA/SMK 2026
Subject: Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut | Topic: Analisis Retorika dan Strategi Persuasi dalam Teks Opini
Soal No. 1 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Diskusi publik mengenai kebijakan transportasi kota kembali memanas menyusul rilisnya opini tajam berjudul “Membedah Ilusi Mobilitas Urban” oleh Dr. Aris Munandar di harian nasional awal pekan ini. Dalam tulisannya, Aris menggunakan gaya bahasa provokatif untuk menggugah kesadaran masyarakat dengan mengibaratkan kemacetan sebagai “kanker yang perlahan namun pasti membunuh denyut nadi ekonomi kota”. Selain menyerang sisi emosional melalui diksi dramatis, Aris menyajikan data statistik pertumbuhan kendaraan pribadi yang mencapai 12% per tahun sebagai basis logis argumentasinya. Ia juga memperkuat otoritasnya dengan merujuk pada pengalamannya selama dua dekade sebagai konsultan tata kota di Uni Eropa. Namun, beberapa kritikus menilai strategi persuasinya cenderung menggunakan generalisasi yang terburu-buru saat ia menyatakan bahwa “seluruh lapisan masyarakat akan segera terisolasi jika proyek ini tidak dihentikan”. Di bagian penutup, Aris menggunakan teknik retorika anaphora dengan mengulang frasa “Kita butuh aksi, kita butuh solusi, kita butuh transparansi” untuk menekan pemerintah agar lebih terbuka dalam perencanaan proyek transportasi massal.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang mencerminkan strategi persuasi pathos dan ethos yang digunakan dalam teks opini Dr. Aris Munandar tersebut?
- Penggunaan metafora “kanker” untuk memicu reaksi emosional pembaca terhadap bahaya kemacetan.
- Penyajian data statistik pertumbuhan kendaraan pribadi sebesar 12% sebagai landasan argumen yang rasional.
- Penonjolan rekam jejak profesional selama dua dekade di Uni Eropa untuk membangun kepercayaan pembaca.
- Pengulangan frasa “kita butuh” untuk menekankan urgensi tuntutan secara kolektif kepada pihak otoritas.
- Pernyataan mengenai isolasi seluruh lapisan masyarakat untuk menciptakan efek kekhawatiran atau rasa takut.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D, E
Strategi pathos menitikberatkan pada emosi, yang ditunjukkan oleh opsi A (metafora emosional), D (penekanan urgensi), dan E (membangkitkan rasa takut/isolasi). Strategi ethos menitikberatkan pada kredibilitas, yang ditunjukkan oleh opsi C (pengalaman profesional). Opsi B adalah strategi logos (logika/data), sehingga tidak termasuk dalam jawaban yang diminta.
Soal No. 2 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Diskusi publik mengenai kebijakan transportasi kota kembali memanas menyusul rilisnya opini tajam berjudul “Membedah Ilusi Mobilitas Urban” oleh Dr. Aris Munandar di harian nasional awal pekan ini. Dalam tulisannya, Aris menggunakan gaya bahasa provokatif untuk menggugah kesadaran masyarakat dengan mengibaratkan kemacetan sebagai “kanker yang perlahan namun pasti membunuh denyut nadi ekonomi kota”. Selain menyerang sisi emosional melalui diksi dramatis, Aris menyajikan data statistik pertumbuhan kendaraan pribadi yang mencapai 12% per tahun sebagai basis logis argumentasinya. Ia juga memperkuat otoritasnya dengan merujuk pada pengalamannya selama dua dekade sebagai konsultan tata kota di Uni Eropa. Namun, beberapa kritikus menilai strategi persuasinya cenderung menggunakan generalisasi yang terburu-buru saat ia menyatakan bahwa “seluruh lapisan masyarakat akan segera terisolasi jika proyek ini tidak dihentikan”. Di bagian penutup, Aris menggunakan teknik retorika anaphora dengan mengulang frasa “Kita butuh aksi, kita butuh solusi, kita butuh transparansi” untuk menekan pemerintah agar lebih terbuka dalam perencanaan proyek transportasi massal.
Pertanyaan: Perangkat retoris apa sajakah yang dapat ditemukan dalam penggalan opini Dr. Aris Munandar berdasarkan laporan teks berita tersebut?
- Metafora pada penyebutan kemacetan sebagai penyakit yang menyerang denyut nadi ekonomi.
- Anaphora pada pengulangan kata “kita butuh” di bagian akhir pernyataan untuk penekanan.
- Personifikasi pada penggambaran ekonomi kota yang seolah-olah memiliki denyut nadi manusia.
- Litotes untuk merendahkan kualitas proyek transportasi massal yang sedang direncanakan pemerintah.
- Hiperbola pada klaim bahwa seluruh lapisan masyarakat akan segera terisolasi tanpa solusi segera.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Dalam teks disebutkan penggunaan metafora (kanker), anaphora (pengulangan ‘kita butuh’), personifikasi (denyut nadi ekonomi), dan hiperbola/generalisasi (masyarakat terisolasi). Litotes (opsi D) tidak ditemukan karena nada tulisan Dr. Aris cenderung provokatif dan melebih-lebihkan, bukan merendah untuk tujuan mengecilkan makna.
Soal No. 3 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Diskusi publik mengenai kebijakan transportasi kota kembali memanas menyusul rilisnya opini tajam berjudul “Membedah Ilusi Mobilitas Urban” oleh Dr. Aris Munandar di harian nasional awal pekan ini. Dalam tulisannya, Aris menggunakan gaya bahasa provokatif untuk menggugah kesadaran masyarakat dengan mengibaratkan kemacetan sebagai “kanker yang perlahan namun pasti membunuh denyut nadi ekonomi kota”. Selain menyerang sisi emosional melalui diksi dramatis, Aris menyajikan data statistik pertumbuhan kendaraan pribadi yang mencapai 12% per tahun sebagai basis logis argumentasinya. Ia juga memperkuat otoritasnya dengan merujuk pada pengalamannya selama dua dekade sebagai konsultan tata kota di Uni Eropa. Namun, beberapa kritikus menilai strategi persuasinya cenderung menggunakan generalisasi yang terburu-buru saat ia menyatakan bahwa “seluruh lapisan masyarakat akan segera terisolasi jika proyek ini tidak dihentikan”. Di bagian penutup, Aris menggunakan teknik retorika anaphora dengan mengulang frasa “Kita butuh aksi, kita butuh solusi, kita butuh transparansi” untuk menekan pemerintah agar lebih terbuka dalam perencanaan proyek transportasi massal.
Pertanyaan: Analisis kritis terhadap strategi persuasi Dr. Aris Munandar dalam teks tersebut menunjukkan bahwa ….
- argumen logis dalam teks tersebut diperkuat dengan data statistik pertumbuhan kendaraan tahunan
- gaya bahasa provokatif yang digunakan penulis berisiko mengaburkan objektivitas data yang disajikan
- teknik anaphora yang digunakan penulis berfungsi untuk menyederhanakan kompleksitas masalah urban
- kredibilitas penulis dibangun melalui penggunaan otoritas keahlian dan rekam jejak karier yang relevan
- terdapat penggunaan cacat logika generalisasi terburu-buru untuk memperkuat efek persuasif tulisan
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D, E
Opsi A, B, D, dan E benar berdasarkan analisis teks: teks memiliki data (A), gaya provokatif (B), kredibilitas/ethos (D), dan cacat logika generalisasi (E). Opsi C salah karena anaphora digunakan untuk penekanan (emphasis) dan retorika, bukan untuk menyederhanakan masalah yang kompleks.
Soal No. 4 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Dalam sebuah seminar daring bertajuk ‘Kekuatan Kata di Era Digital’, Dr. Aris Munandar, seorang pakar linguistik forensik, memaparkan hasil analisisnya terhadap berbagai teks opini yang beredar di media massa nasional terkait isu transisi energi hijau. Aris menekankan bahwa efektivitas sebuah teks opini tidak hanya bergantung pada kekuatan data (logos), tetapi juga pada bagaimana penulis membangun kredibilitas (ethos) dan menyentuh sisi emosional pembaca (pathos). Menurutnya, banyak penulis opini saat ini menggunakan strategi ‘framing’ dengan memilih diksi yang memiliki konotasi kuat untuk menggiring opini publik. Ia mencontohkan penggunaan istilah ‘darurat iklim’ alih-alih ‘perubahan iklim’ sebagai upaya persuasi untuk menciptakan urgensi. Selain itu, Aris menyoroti pentingnya ‘kredensial autoritas’ di mana penulis menyisipkan rekam jejak profesional mereka guna memperkuat kepercayaan pembaca. Namun, ia juga memperingatkan adanya potensi ‘logical fallacy’ atau sesat pikir yang sering terselubung dalam retorika yang tampak meyakinkan, seperti penggunaan generalisasi yang terburu-buru.
Pertanyaan: Manakah tindakan di bawah ini yang dikategorikan sebagai strategi ethos dalam penulisan teks opini menurut paparan Dr. Aris Munandar pada berita tersebut?
- Menyajikan data statistik kenaikan suhu global secara berkala.
- Menyebutkan latar belakang pendidikan penulis di bidang lingkungan.
- Menggunakan istilah ‘darurat iklim’ untuk menciptakan rasa takut.
- Merujuk pada pengalaman profesional penulis sebagai peneliti energi.
- Melampirkan daftar publikasi ilmiah yang pernah ditulis sebelumnya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, D, E
Strategi ethos berkaitan dengan pembangunan kredibilitas dan otoritas penulis. Berdasarkan teks, hal ini diwujudkan melalui ‘kredensial autoritas’. Pilihan B (pendidikan), D (pengalaman profesional), dan E (publikasi ilmiah) adalah bentuk nyata dari upaya menunjukkan keahlian atau otoritas penulis agar dipercaya pembaca. Pilihan A adalah logos (data), dan pilihan C adalah pathos (emosi).
Soal No. 5 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Dalam sebuah seminar daring bertajuk ‘Kekuatan Kata di Era Digital’, Dr. Aris Munandar, seorang pakar linguistik forensik, memaparkan hasil analisisnya terhadap berbagai teks opini yang beredar di media massa nasional terkait isu transisi energi hijau. Aris menekankan bahwa efektivitas sebuah teks opini tidak hanya bergantung pada kekuatan data (logos), tetapi juga pada bagaimana penulis membangun kredibilitas (ethos) dan menyentuh sisi emosional pembaca (pathos). Menurutnya, banyak penulis opini saat ini menggunakan strategi ‘framing’ dengan memilih diksi yang memiliki konotasi kuat untuk menggiring opini publik. Ia mencontohkan penggunaan istilah ‘darurat iklim’ alih-alih ‘perubahan iklim’ sebagai upaya persuasi untuk menciptakan urgensi. Selain itu, Aris menyoroti pentingnya ‘kredensial autoritas’ di mana penulis menyisipkan rekam jejak profesional mereka guna memperkuat kepercayaan pembaca. Namun, ia juga memperingatkan adanya potensi ‘logical fallacy’ atau sesat pikir yang sering terselubung dalam retorika yang tampak meyakinkan, seperti penggunaan generalisasi yang terburu-buru.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus tersebut, apa saja tujuan penggunaan diksi ‘darurat iklim’ dibandingkan dengan ‘perubahan iklim’ dalam strategi persuasi?
- Memperjelas metodologi penelitian yang digunakan penulis.
- Membangun keterikatan emosional melalui rasa urgensi.
- Menggiring opini publik melalui teknik pembingkaian tertentu.
- Mengurangi tingkat kompleksitas data bagi pembaca awam.
- Menciptakan respons psikologis agar pembaca segera bertindak.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C, E
Penggunaan istilah ‘darurat iklim’ dijelaskan dalam teks sebagai upaya persuasi untuk menciptakan urgensi (B), bagian dari strategi framing (C), dan bertujuan menggiring opini agar muncul respons psikologis untuk bertindak (E). Pilihan A dan D tidak relevan dengan fungsi diksi tersebut sebagai alat persuasi emosional (pathos).
Soal No. 6 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Dalam sebuah seminar daring bertajuk ‘Kekuatan Kata di Era Digital’, Dr. Aris Munandar, seorang pakar linguistik forensik, memaparkan hasil analisisnya terhadap berbagai teks opini yang beredar di media massa nasional terkait isu transisi energi hijau. Aris menekankan bahwa efektivitas sebuah teks opini tidak hanya bergantung pada kekuatan data (logos), tetapi juga pada bagaimana penulis membangun kredibilitas (ethos) dan menyentuh sisi emosional pembaca (pathos). Menurutnya, banyak penulis opini saat ini menggunakan strategi ‘framing’ dengan memilih diksi yang memiliki konotasi kuat untuk menggiring opini publik. Ia mencontohkan penggunaan istilah ‘darurat iklim’ alih-alih ‘perubahan iklim’ sebagai upaya persuasi untuk menciptakan urgensi. Selain itu, Aris menyoroti pentingnya ‘kredensial autoritas’ di mana penulis menyisipkan rekam jejak profesional mereka guna memperkuat kepercayaan pembaca. Namun, ia juga memperingatkan adanya potensi ‘logical fallacy’ atau sesat pikir yang sering terselubung dalam retorika yang tampak meyakinkan, seperti penggunaan generalisasi yang terburu-buru.
Pertanyaan: Menurut isi berita tersebut, hal apa saja yang dapat memengaruhi efektivitas persuasi dalam sebuah teks opini?
- Penggunaan data statistik yang akurat dan relevan.
- Kemampuan penulis dalam menyentuh perasaan pembaca.
- Pencantuman rekam jejak profesional yang meyakinkan.
- Penggunaan generalisasi yang luas untuk menyederhanakan isu.
- Penghindaran terhadap segala bentuk sesat pikir atau logika.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Efektivitas persuasi dipengaruhi oleh logos/data (A), pathos/emosi (B), dan ethos/kredibilitas (C). Selain itu, penulis harus menghindari logical fallacy (E) agar argumen tetap kuat. Pilihan D salah karena generalisasi yang terburu-buru justru disebut sebagai potensi sesat pikir yang harus diwaspadai, bukan unsur pendukung efektivitas yang positif.
Soal No. 7 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan kembali mengemuka pasca-sidang paripurna di gedung parlemen. Dalam laporan yang dirilis pada Jumat (24/05/2024), Dr. Aris Munandar, seorang akademisi lingkungan, menyampaikan pandangannya yang tajam. ‘Menunda transisi energi bukan lagi soal teknis, melainkan sebuah pengkhianatan moral terhadap hak hidup anak cucu kita,’ tegasnya. Beliau menambahkan bahwa data menunjukkan tren pemanasan global sudah mendekati ambang batas kritis. Di sisi lain, Hendra Wijaya selaku representasi pelaku industri, memberikan perspektif yang kontras. ‘Kita tidak boleh menutup mata bahwa struktur ekonomi kita saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan energi yang terjangkau. Memaksakan transisi tanpa kesiapan infrastruktur sama saja dengan mencekik industri manufaktur secara perlahan,’ klaimnya. Ia berargumen bahwa keberlangsungan lapangan kerja bagi jutaan buruh adalah prioritas yang tidak bisa ditawar dalam retorika kebijakan publik.
Pertanyaan: Strategi retorika apa saja yang digunakan oleh Dr. Aris Munandar dalam menyampaikan opininya pada teks tersebut?
- Penggunaan metafora ‘pengkhianatan’ untuk menyentuh sisi moralitas dan emosi audiens.
- Penyajian data ilmiah mengenai tren pemanasan global sebagai landasan logika argumen.
- Penerapan diksi bermuatan emosi ‘hak hidup anak cucu’ untuk membangkitkan empati.
- Penjelasan rinci mengenai skema pembiayaan infrastruktur energi terbarukan di Indonesia.
- Penyebutan tokoh-tokoh politik dunia yang mendukung gerakan ramah lingkungan secara global.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Dr. Aris Munandar menggunakan strategi pathos melalui kata ‘pengkhianatan’ dan ‘hak hidup anak cucu’ untuk menyentuh emosi. Ia juga menggunakan logos dengan merujuk pada data tren pemanasan global. Pilihan D dan E tidak terdapat dalam teks.
Soal No. 8 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan kembali mengemuka pasca-sidang paripurna di gedung parlemen. Dalam laporan yang dirilis pada Jumat (24/05/2024), Dr. Aris Munandar, seorang akademisi lingkungan, menyampaikan pandangannya yang tajam. ‘Menunda transisi energi bukan lagi soal teknis, melainkan sebuah pengkhianatan moral terhadap hak hidup anak cucu kita,’ tegasnya. Beliau menambahkan bahwa data menunjukkan tren pemanasan global sudah mendekati ambang batas kritis. Di sisi lain, Hendra Wijaya selaku representasi pelaku industri, memberikan perspektif yang kontras. ‘Kita tidak boleh menutup mata bahwa struktur ekonomi kita saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan energi yang terjangkau. Memaksakan transisi tanpa kesiapan infrastruktur sama saja dengan mencekik industri manufaktur secara perlahan,’ klaimnya. Ia berargumen bahwa keberlangsungan lapangan kerja bagi jutaan buruh adalah prioritas yang tidak bisa ditawar dalam retorika kebijakan publik.
Pertanyaan: Manakah fitur kebahasaan yang menonjol dalam argumen yang disampaikan oleh Hendra Wijaya pada teks tersebut?
- Analogi ‘mencekik industri’ untuk menggambarkan dampak negatif kebijakan transisi.
- Kata ganti persona ‘kita’ untuk membangun rasa kebersamaan dan solidaritas audiens.
- Kalimat imperatif yang memaksa pembaca untuk segera menolak regulasi pemerintah.
- Pola argumen sebab-akibat yang menghubungkan transisi energi dengan nasib buruh.
- Kata-kata teknis biologi untuk menjelaskan dampak pencemaran udara secara mendalam.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Hendra Wijaya menggunakan analogi ‘mencekik industri’, kata ganti ‘kita’ untuk inklusivitas, dan hubungan sebab-akibat antara transisi energi dengan keberlangsungan lapangan kerja. Tidak ada kalimat imperatif paksaan (C) maupun istilah biologi (E) dalam argumennya.
Soal No. 9 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan kembali mengemuka pasca-sidang paripurna di gedung parlemen. Dalam laporan yang dirilis pada Jumat (24/05/2024), Dr. Aris Munandar, seorang akademisi lingkungan, menyampaikan pandangannya yang tajam. ‘Menunda transisi energi bukan lagi soal teknis, melainkan sebuah pengkhianatan moral terhadap hak hidup anak cucu kita,’ tegasnya. Beliau menambahkan bahwa data menunjukkan tren pemanasan global sudah mendekati ambang batas kritis. Di sisi lain, Hendra Wijaya selaku representasi pelaku industri, memberikan perspektif yang kontras. ‘Kita tidak boleh menutup mata bahwa struktur ekonomi kita saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan energi yang terjangkau. Memaksakan transisi tanpa kesiapan infrastruktur sama saja dengan mencekik industri manufaktur secara perlahan,’ klaimnya. Ia berargumen bahwa keberlangsungan lapangan kerja bagi jutaan buruh adalah prioritas yang tidak bisa ditawar dalam retorika kebijakan publik.
Pertanyaan: Bagaimana strategi persuasi yang diterapkan oleh kedua narasumber dalam teks tersebut memengaruhi opini pembaca?
- Aris Munandar menggunakan pendekatan etis melalui diksi ‘hak hidup anak cucu’ untuk memvalidasi urgensi ekologi.
- Hendra Wijaya membangun narasi kekhawatiran melalui kaitan antara energi murah dan lapangan pekerjaan.
- Kedua narasumber menyajikan data statistik yang sangat mendetail sehingga pembaca merasa sulit menentukan pilihan.
- Aris Munandar memanfaatkan kredibilitas akademiknya untuk memperkuat legitimasi argumen lingkungan.
- Hendra Wijaya menggunakan gaya bahasa sarkasme untuk menyerang kredibilitas pribadi Dr. Aris Munandar.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Strategi persuasi Aris Munandar berbasis etika dan kredibilitas akademik (ethos), sedangkan Hendra Wijaya menggunakan pendekatan ekonomi yang menyasar kebutuhan dasar audiens. Tidak ada data statistik yang sangat mendetail (C) dan tidak ada serangan personal atau sarkasme (E) dalam teks.
Soal No. 10 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
POLEMIK KEBIJAKAN TRANSPORTASI HIJAU: ANTARA URGENSI EKOLOGIS DAN REALITAS EKONOMI
JAKARTA – Pemerintah pusat berencana memberlakukan larangan total kendaraan berbahan bakar fosil di jantung ibu kota pada tahun 2030. Kebijakan ambisius ini memicu perdebatan sengit antara pemerhati lingkungan dan pelaku sektor ekonomi dalam rapat koordinasi nasional kemarin.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan urgensi kebijakan ini dengan merujuk pada data kesehatan publik. “Berdasarkan data kami, emisi karbon di pusat kota telah melampaui batas aman yang ditetapkan WHO sebesar 300%. Ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah ancaman nyata bagi paru-paru anak-anak kita, generasi yang akan mewarisi kota ini,” ujarnya dengan nada emosional.
Di sisi lain, asosiasi logistik menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi pembengkakan biaya operasional yang dapat melumpuhkan distribusi barang. Namun, argumen pemerintah diperkuat oleh hasil kajian teknis dari Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa efisiensi energi nasional akan meningkat hingga 40% jika sektor transportasi beralih sepenuhnya ke moda elektrik.
Menanggapi keraguan publik, Dr. Van der Berg, seorang pakar tata kota internasional dari Belanda, memberikan testimoninya. Ia menjelaskan bahwa kota-kota besar di Eropa telah membuktikan bahwa penerapan zona rendah emisi justru meningkatkan produktivitas warga secara signifikan karena lingkungan yang lebih sehat dan minim polusi suara. Pemerintah berharap, dengan kombinasi data dan bukti keberhasilan global, masyarakat dapat mendukung transisi menuju transportasi yang lebih hijau.
Pertanyaan: Manakah pernyataan berikut yang merupakan penggunaan strategi persuasi pathos (imbauan emosional) berdasarkan teks berita tersebut?
- Gambaran mengenai ancaman nyata terhadap kesehatan paru-paru generasi masa depan.
- Pernyataan bahwa emisi karbon di pusat kota telah melampaui batas aman WHO sebesar 300%.
- Kekhawatiran mengenai biaya operasional yang membengkak bagi para pelaku logistik.
- Hasil kajian teknis mengenai peningkatan efisiensi energi sebesar 40% melalui moda elektrik.
- Penjelasan mengenai produktivitas warga yang meningkat karena lingkungan yang lebih sehat.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C
Pathos adalah strategi persuasi yang menyentuh emosi pembaca. Pernyataan A menyentuh emosi melalui kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak (generasi masa depan), sedangkan pernyataan C menyentuh sisi emosional berupa kekhawatiran atau ketakutan ekonomi pelaku logistik. Opsi B dan D adalah logos (data), sementara E adalah simpulan logis.
Soal No. 11 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
POLEMIK KEBIJAKAN TRANSPORTASI HIJAU: ANTARA URGENSI EKOLOGIS DAN REALITAS EKONOMI
JAKARTA – Pemerintah pusat berencana memberlakukan larangan total kendaraan berbahan bakar fosil di jantung ibu kota pada tahun 2030. Kebijakan ambisius ini memicu perdebatan sengit antara pemerhati lingkungan dan pelaku sektor ekonomi dalam rapat koordinasi nasional kemarin.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan urgensi kebijakan ini dengan merujuk pada data kesehatan publik. “Berdasarkan data kami, emisi karbon di pusat kota telah melampaui batas aman yang ditetapkan WHO sebesar 300%. Ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah ancaman nyata bagi paru-paru anak-anak kita, generasi yang akan mewarisi kota ini,” ujarnya dengan nada emosional.
Di sisi lain, asosiasi logistik menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi pembengkakan biaya operasional yang dapat melumpuhkan distribusi barang. Namun, argumen pemerintah diperkuat oleh hasil kajian teknis dari Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa efisiensi energi nasional akan meningkat hingga 40% jika sektor transportasi beralih sepenuhnya ke moda elektrik.
Menanggapi keraguan publik, Dr. Van der Berg, seorang pakar tata kota internasional dari Belanda, memberikan testimoninya. Ia menjelaskan bahwa kota-kota besar di Eropa telah membuktikan bahwa penerapan zona rendah emisi justru meningkatkan produktivitas warga secara signifikan karena lingkungan yang lebih sehat dan minim polusi suara. Pemerintah berharap, dengan kombinasi data dan bukti keberhasilan global, masyarakat dapat mendukung transisi menuju transportasi yang lebih hijau.
Pertanyaan: Strategi persuasi logos (logika) dalam teks berita tersebut ditunjukkan melalui pernyataan ….
- pencantuman data persentase ambang batas aman emisi karbon menurut standar WHO
- prediksi peningkatan efisiensi energi sebesar 40% berdasarkan kajian teknis universitas
- ajakan untuk beralih ke transportasi hijau demi kenyamanan seluruh warga kota
- pemaparan bukti keberhasilan zona rendah emisi di kota-kota besar wilayah Eropa
- perasaan optimisme Menteri Lingkungan Hidup terhadap pencapaian target emisi
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Logos menekankan pada data, fakta, dan bukti nyata. Pernyataan A menggunakan data angka (300%), pernyataan B menggunakan hasil kajian teknis (40%), dan pernyataan D menggunakan bukti empiris dari wilayah lain (Eropa). Pernyataan C adalah persuasi umum, dan E bersifat subjektif/emosional.
Soal No. 12 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
POLEMIK KEBIJAKAN TRANSPORTASI HIJAU: ANTARA URGENSI EKOLOGIS DAN REALITAS EKONOMI
JAKARTA – Pemerintah pusat berencana memberlakukan larangan total kendaraan berbahan bakar fosil di jantung ibu kota pada tahun 2030. Kebijakan ambisius ini memicu perdebatan sengit antara pemerhati lingkungan dan pelaku sektor ekonomi dalam rapat koordinasi nasional kemarin.
Menteri Lingkungan Hidup menegaskan urgensi kebijakan ini dengan merujuk pada data kesehatan publik. “Berdasarkan data kami, emisi karbon di pusat kota telah melampaui batas aman yang ditetapkan WHO sebesar 300%. Ini bukan sekadar angka di atas kertas; ini adalah ancaman nyata bagi paru-paru anak-anak kita, generasi yang akan mewarisi kota ini,” ujarnya dengan nada emosional.
Di sisi lain, asosiasi logistik menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi pembengkakan biaya operasional yang dapat melumpuhkan distribusi barang. Namun, argumen pemerintah diperkuat oleh hasil kajian teknis dari Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa efisiensi energi nasional akan meningkat hingga 40% jika sektor transportasi beralih sepenuhnya ke moda elektrik.
Menanggapi keraguan publik, Dr. Van der Berg, seorang pakar tata kota internasional dari Belanda, memberikan testimoninya. Ia menjelaskan bahwa kota-kota besar di Eropa telah membuktikan bahwa penerapan zona rendah emisi justru meningkatkan produktivitas warga secara signifikan karena lingkungan yang lebih sehat dan minim polusi suara. Pemerintah berharap, dengan kombinasi data dan bukti keberhasilan global, masyarakat dapat mendukung transisi menuju transportasi yang lebih hijau.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang menunjukkan penggunaan strategi ethos (kredibilitas sumber) untuk memperkuat argumen dalam teks tersebut?
- Penyebutan data emisi karbon yang berasal dari laporan internal pemerintah daerah.
- Pengutipan pendapat Dr. Van der Berg sebagai pakar tata kota dari luar negeri.
- Pencantuman hasil kajian teknis yang dilakukan oleh institusi Universitas Indonesia.
- Pernyataan resmi yang disampaikan oleh sosok Menteri Lingkungan Hidup.
- Cerita pengalaman pribadi seorang warga yang terdampak oleh polusi udara.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C, D
Ethos adalah strategi yang membangun kepercayaan melalui kredibilitas atau otoritas sumber. Dr. Van der Berg (pakar), Universitas Indonesia (institusi akademik), dan Menteri (pejabat berwenang) merupakan otoritas yang memberikan bobot kredibilitas pada argumen. Pernyataan A bersifat administratif dan E bersifat anekdot/pathos.
Soal No. 13 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Editorial Harian Cakrawala yang terbit pada Senin (14/08) dengan judul “Oksigen Berbayar: Antara Pajak Karbon dan Hak Bernapas” memicu perdebatan luas di kalangan akademisi dan praktisi komunikasi. Tulisan tersebut menyoroti rencana pemerintah untuk mengimplementasikan pajak karbon bagi sektor industri berat. Pengamat media dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Munandar, menilai editorial tersebut sebagai contoh sempurna dari penggunaan strategi retorika yang agresif untuk menggiring opini publik.
Dalam editorialnya, redaksi menggunakan metafora yang tajam dengan menyebut hutan Indonesia sebagai “paru-paru dunia yang sedang tersedak oleh asap ketamakan”. Selain menggunakan pendekatan emosional (pathos), Harian Cakrawala juga memperkuat argumennya dengan menyertakan data statistik dari laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengenai percepatan pemanasan global (logos). Penulis editorial juga secara konsisten menggunakan kata ganti inklusif “kita” untuk menciptakan kesan bahwa dampak kebijakan ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya urusan pemerintah.
Namun, kritik datang dari beberapa pihak yang menganggap paragraf penutup editorial tersebut terlalu provokatif. Redaksi menuliskan bahwa “diamnya kita hari ini adalah tanda tangan pada sertifikat kematian generasi mendatang”. Dr. Aris mencatat bahwa diksi yang dipilih sangat sengaja untuk menciptakan rasa urgensi yang ekstrem, sebuah strategi persuasi yang bertujuan untuk mematikan ruang debat dan langsung memicu reaksi emosional pembaca agar mendukung kebijakan pajak tersebut tanpa syarat.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus tersebut, manakah pernyataan yang merupakan strategi retorika yang digunakan oleh redaksi Harian Cakrawala dalam editorialnya?
- Penggunaan metafora “paru-paru dunia yang tersedak” untuk menyentuh sisi emosional pembaca.
- Penyajian data numerik dari laporan PBB untuk memperkuat basis argumentasi secara logis.
- Pemanfaatan kata ganti “kita” untuk membangun ikatan kolektif dan tanggung jawab bersama.
- Penggunaan testimoni pribadi dari jurnalis senior untuk menggantikan data statistik yang rumit.
- Pemberian ancaman secara terang-terangan kepada pihak industri yang menolak kebijakan baru.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Dalam teks berita disebutkan bahwa editorial tersebut menggunakan metafora (paru-paru dunia yang tersedak), data statistik dari laporan PBB (logos), dan kata ganti inklusif ‘kita’ (strategi retoris untuk membangun kedekatan). Pilihan D salah karena editorial menggunakan data PBB, bukan menggantinya dengan testimoni. Pilihan E salah karena teks menyebutkan diksi yang “tajam” dan “provokatif”, namun tidak menyebutkan ancaman eksplisit kepada industri melainkan lebih kepada kritik kebijakan.
Soal No. 14 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Editorial Harian Cakrawala yang terbit pada Senin (14/08) dengan judul “Oksigen Berbayar: Antara Pajak Karbon dan Hak Bernapas” memicu perdebatan luas di kalangan akademisi dan praktisi komunikasi. Tulisan tersebut menyoroti rencana pemerintah untuk mengimplementasikan pajak karbon bagi sektor industri berat. Pengamat media dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Munandar, menilai editorial tersebut sebagai contoh sempurna dari penggunaan strategi retorika yang agresif untuk menggiring opini publik.
Dalam editorialnya, redaksi menggunakan metafora yang tajam dengan menyebut hutan Indonesia sebagai “paru-paru dunia yang sedang tersedak oleh asap ketamakan”. Selain menggunakan pendekatan emosional (pathos), Harian Cakrawala juga memperkuat argumennya dengan menyertakan data statistik dari laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengenai percepatan pemanasan global (logos). Penulis editorial juga secara konsisten menggunakan kata ganti inklusif “kita” untuk menciptakan kesan bahwa dampak kebijakan ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya urusan pemerintah.
Namun, kritik datang dari beberapa pihak yang menganggap paragraf penutup editorial tersebut terlalu provokatif. Redaksi menuliskan bahwa “diamnya kita hari ini adalah tanda tangan pada sertifikat kematian generasi mendatang”. Dr. Aris mencatat bahwa diksi yang dipilih sangat sengaja untuk menciptakan rasa urgensi yang ekstrem, sebuah strategi persuasi yang bertujuan untuk mematikan ruang debat dan langsung memicu reaksi emosional pembaca agar mendukung kebijakan pajak tersebut tanpa syarat.
Pertanyaan: Manakah pernyataan di bawah ini yang merupakan bukti penerapan strategi persuasi berbasis ‘Pathos’ dan ‘Logos’ dalam editorial “Oksigen Berbayar” tersebut?
- Penggambaran nasib tragis generasi mendatang akibat kerusakan lingkungan yang ekstrem.
- Analisis mengenai dampak kenaikan pajak karbon terhadap indeks pertumbuhan ekonomi nasional.
- Penyebutan nama-nama pakar lingkungan ternama untuk meningkatkan kredibilitas tulisan.
- Pemaparan korelasi antara emisi gas rumah kaca dengan frekuensi bencana banjir bandang.
- Cerita singkat tentang perjuangan seorang petani yang kehilangan lahan akibat kekeringan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D, E
Pathos berkaitan dengan emosi: penggambaran nasib generasi mendatang (A) dan cerita perjuangan petani (E) adalah contohnya. Logos berkaitan dengan logika/data: dampak pajak terhadap pertumbuhan ekonomi (B) dan korelasi emisi dengan banjir (D) adalah bukti logis. Pilihan C bukan Pathos atau Logos, melainkan Ethos (kredibilitas).
Soal No. 15 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Editorial Harian Cakrawala yang terbit pada Senin (14/08) dengan judul “Oksigen Berbayar: Antara Pajak Karbon dan Hak Bernapas” memicu perdebatan luas di kalangan akademisi dan praktisi komunikasi. Tulisan tersebut menyoroti rencana pemerintah untuk mengimplementasikan pajak karbon bagi sektor industri berat. Pengamat media dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Munandar, menilai editorial tersebut sebagai contoh sempurna dari penggunaan strategi retorika yang agresif untuk menggiring opini publik.
Dalam editorialnya, redaksi menggunakan metafora yang tajam dengan menyebut hutan Indonesia sebagai “paru-paru dunia yang sedang tersedak oleh asap ketamakan”. Selain menggunakan pendekatan emosional (pathos), Harian Cakrawala juga memperkuat argumennya dengan menyertakan data statistik dari laporan terbaru IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) mengenai percepatan pemanasan global (logos). Penulis editorial juga secara konsisten menggunakan kata ganti inklusif “kita” untuk menciptakan kesan bahwa dampak kebijakan ini adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya urusan pemerintah.
Namun, kritik datang dari beberapa pihak yang menganggap paragraf penutup editorial tersebut terlalu provokatif. Redaksi menuliskan bahwa “diamnya kita hari ini adalah tanda tangan pada sertifikat kematian generasi mendatang”. Dr. Aris mencatat bahwa diksi yang dipilih sangat sengaja untuk menciptakan rasa urgensi yang ekstrem, sebuah strategi persuasi yang bertujuan untuk mematikan ruang debat dan langsung memicu reaksi emosional pembaca agar mendukung kebijakan pajak tersebut tanpa syarat.
Pertanyaan: Pengamat media menyebutkan bahwa paragraf penutup editorial tersebut menggunakan diksi yang “agresif dan provokatif”. Manakah pernyataan yang paling mungkin menjadi tujuan dari pemilihan strategi bahasa tersebut?
- Membangun urgensi di benak pembaca agar segera mengambil sikap atau tindakan nyata.
- Menekan pembuat kebijakan agar merasa terdesak secara moral oleh opini publik yang terbentuk.
- Menciptakan kebingungan agar masyarakat tidak mempertanyakan validitas data yang disajikan.
- Memperkuat kesan bahwa isu yang dibahas adalah masalah hidup dan mati yang tidak bisa ditunda.
- Menurunkan reputasi media pesaing yang memiliki pandangan berbeda mengenai kebijakan lingkungan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Diksi agresif dalam opini biasanya bertujuan menciptakan urgensi (A), menekan otoritas secara moral (B), dan menekankan gawatnya situasi (D). Strategi ini bukan untuk membingungkan masyarakat (C) atau menyerang media pesaing secara langsung dalam konteks retorika isu publik (E).
Soal No. 16 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan sekolah memuncak dalam seminar nasional yang digelar di Jakarta, Selasa (22/10). Dr. Aris, seorang peneliti teknologi, memaparkan data bahwa efisiensi belajar meningkat hingga 40 persen dengan bantuan tutor AI yang mampu mempersonalisasi materi sesuai kecepatan siswa. Sebaliknya, Profesor Siska, pakar pedagogi dengan pengalaman selama 30 tahun, menggugah emosi peserta dengan mempertanyakan apakah mesin bisa menggantikan empati dan sentuhan manusiawi seorang guru. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah soal membentuk hati, bukan sekadar memproses algoritma. Sementara itu, praktisi pendidikan, Budi Santoso, mencoba menengahi dengan menggunakan analogi revolusi industri. Ia meyakinkan audiens bahwa AI adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan bijak, bukan dihindari, sebagaimana masyarakat masa lalu beradaptasi dengan penemuan mesin uap yang sempat ditakuti namun akhirnya memajukan peradaban.
Pertanyaan: Berdasarkan teks berita tersebut, strategi retorika apa saja yang diterapkan oleh para narasumber untuk memengaruhi opini audiens?
- Penggunaan data statistik oleh Dr. Aris mengenai peningkatan efisiensi belajar sebagai bentuk strategi logos.
- Pemanfaatan otoritas keahlian dan pengalaman kerja selama 30 tahun oleh Profesor Siska sebagai strategi ethos.
- Penggunaan diksi yang menyentuh perasaan terkait empati dan peran hati oleh Profesor Siska sebagai strategi pathos.
- Penyampaian ancaman eksplisit mengenai pemutusan hubungan kerja massal bagi guru yang tidak menguasai teknologi.
- Penggunaan analogi sejarah antara penemuan mesin uap dan kehadiran AI oleh Budi Santoso untuk menormalisasi perubahan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Strategi retorika yang muncul dalam teks meliputi: (1) Logos, yakni penggunaan data 40 persen oleh Dr. Aris; (2) Ethos, yakni penegasan pengalaman 30 tahun Profesor Siska; (3) Pathos, yakni imbauan emosional Profesor Siska tentang empati dan hati; serta (4) Analogi, yakni perbandingan AI dengan mesin uap oleh Budi Santoso. Opsi D salah karena teks tidak menyebutkan ancaman pemutusan kerja secara eksplisit.
Soal No. 17 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan sekolah memuncak dalam seminar nasional yang digelar di Jakarta, Selasa (22/10). Dr. Aris, seorang peneliti teknologi, memaparkan data bahwa efisiensi belajar meningkat hingga 40 persen dengan bantuan tutor AI yang mampu mempersonalisasi materi sesuai kecepatan siswa. Sebaliknya, Profesor Siska, pakar pedagogi dengan pengalaman selama 30 tahun, menggugah emosi peserta dengan mempertanyakan apakah mesin bisa menggantikan empati dan sentuhan manusiawi seorang guru. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah soal membentuk hati, bukan sekadar memproses algoritma. Sementara itu, praktisi pendidikan, Budi Santoso, mencoba menengahi dengan menggunakan analogi revolusi industri. Ia meyakinkan audiens bahwa AI adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan bijak, bukan dihindari, sebagaimana masyarakat masa lalu beradaptasi dengan penemuan mesin uap yang sempat ditakuti namun akhirnya memajukan peradaban.
Pertanyaan: Manakah di antara pernyataan berikut yang mengandung unsur kebahasaan persuasif sesuai dengan isi teks berita tersebut?
- Penggunaan pertanyaan retoris untuk menggugah kesadaran audiens tentang peran guru yang tidak tergantikan mesin.
- Penggunaan kata-kata bermuatan emosional seperti ‘hati’ dan ’empati’ untuk membangun kedekatan dengan audiens.
- Pencantuman keterangan waktu dan tempat pelaksanaan seminar secara mendetail untuk memberikan informasi faktual.
- Penggunaan kata kerja mental yang menunjukkan keyakinan narasumber terhadap keniscayaan integrasi teknologi.
- Pemaparan daftar rujukan jurnal ilmiah yang digunakan Dr. Aris secara lengkap di dalam teks berita.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Unsur persuasif dalam teks ditunjukkan melalui: (A) Pertanyaan retoris Profesor Siska tentang mesin vs empati; (B) Kata emotif seperti ‘hati’ dan ’empati’; serta (D) Kata kerja mental atau pernyataan keyakinan Budi Santoso tentang AI sebagai keniscayaan. Opsi C adalah informasi faktual (ciri berita), bukan fitur persuasi. Opsi E salah karena teks tidak mencantumkan daftar rujukan jurnal secara lengkap.
Soal No. 18 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA — Polemik mengenai penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) di lingkungan sekolah memuncak dalam seminar nasional yang digelar di Jakarta, Selasa (22/10). Dr. Aris, seorang peneliti teknologi, memaparkan data bahwa efisiensi belajar meningkat hingga 40 persen dengan bantuan tutor AI yang mampu mempersonalisasi materi sesuai kecepatan siswa. Sebaliknya, Profesor Siska, pakar pedagogi dengan pengalaman selama 30 tahun, menggugah emosi peserta dengan mempertanyakan apakah mesin bisa menggantikan empati dan sentuhan manusiawi seorang guru. Beliau menegaskan bahwa pendidikan adalah soal membentuk hati, bukan sekadar memproses algoritma. Sementara itu, praktisi pendidikan, Budi Santoso, mencoba menengahi dengan menggunakan analogi revolusi industri. Ia meyakinkan audiens bahwa AI adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan bijak, bukan dihindari, sebagaimana masyarakat masa lalu beradaptasi dengan penemuan mesin uap yang sempat ditakuti namun akhirnya memajukan peradaban.
Pertanyaan: Mengapa argumen yang disampaikan oleh para narasumber dalam teks tersebut dapat dikategorikan sebagai strategi persuasi yang efektif?
- Karena argumen Dr. Aris didukung oleh fakta numerik yang memberikan kesan objektif dan ilmiah.
- Karena Profesor Siska menggunakan kredibilitas personalnya untuk memvalidasi kekhawatiran masyarakat.
- Karena teks berita tersebut secara terbuka memihak pada salah satu narasumber untuk menggiring opini pembaca.
- Karena penggunaan analogi oleh Budi Santoso menyederhanakan konsep yang kompleks sehingga lebih mudah diterima.
- Karena argumen yang disampaikan menyentuh berbagai aspek, mulai dari efisiensi teknis hingga nilai-nilai kemanusiaan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D, E
Argumen tersebut efektif karena: (A) Memiliki dasar data (logos); (B) Memiliki kredibilitas ahli (ethos); (D) Menggunakan analogi untuk mempermudah pemahaman; serta (E) Mencakup spektrum yang luas (teknis dan humanis). Opsi C salah karena teks berita seharusnya bersifat netral dalam melaporkan polemik tersebut, bukan memihak.
Soal No. 19 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Sebuah esai opini bertajuk “Digitalisasi Pendidikan: Solusi atau Ilusi?” yang ditulis oleh pengamat pendidikan kenamaan, Dr. Aris Munandar, memicu gelombang diskusi hangat di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan pekan ini. Dalam tulisannya yang dipublikasikan di harian nasional terkemuka, Dr. Aris menggunakan metafora “pedang bermata dua” untuk menggambarkan integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam kurikulum sekolah saat ini. Ia berargumen bahwa ketergantungan berlebih pada perangkat digital tanpa kendali akan memicu “krisis identitas intelektual” dan “pengikisan nalar” di kalangan generasi muda.
Menanggapi tulisan tersebut, kubu pendukung digitalisasi dari Forum Teknologi Edukasi menilai argumen Dr. Aris sebagai “ketakutan tak berdasar yang dibungkus dengan retorika melankolis.” Mereka menyatakan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan zaman yang tidak bisa dibendung. Namun, Dr. Aris membalas kritik tersebut dengan menyajikan data empiris mengenai penurunan skor literasi mendalam (deep reading) di beberapa sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran digital penuh tanpa pendampingan pedagogis yang kuat. Perdebatan ini menyoroti bagaimana strategi persuasi melalui pemilihan diksi dan data menjadi instrumen utama dalam memengaruhi kebijakan publik di bidang pendidikan.
Pertanyaan: Berdasarkan teks berita tersebut, manakah dari pernyataan berikut yang merupakan bentuk strategi persuasi yang digunakan oleh Dr. Aris Munandar dalam memperkuat argumennya?
- Menggunakan metafora “pedang bermata dua” untuk memberikan gambaran logis sekaligus peringatan mengenai risiko teknologi.
- Menyajikan data penurunan skor literasi sebagai bukti empiris untuk meyakinkan pembaca melalui pendekatan logika (logos).
- Menggunakan diksi bermuatan emosional seperti “krisis identitas intelektual” untuk memengaruhi perasaan pembaca (pathos).
- Menyerang kredibilitas pribadi lawan bicaranya dengan menggunakan label “ketakutan tak berdasar” dalam argumennya.
- Menyertakan kutipan langsung dari pejabat kementerian untuk memberikan legitimasi hukum pada pernyataan yang dibuatnya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Strategi persuasi Dr. Aris mencakup: 1) Analogi/Metafora (A) ‘pedang bermata dua’ untuk menjelaskan risiko; 2) Logos (B) melalui penyajian data skor literasi; dan 3) Pathos (C) melalui pilihan kata ‘krisis’ dan ‘pengikisan’ yang menyentuh sisi emosional. Opsi D adalah pernyataan lawan bicara, bukan Dr. Aris. Opsi E tidak disebutkan dalam teks.
Soal No. 20 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
JAKARTA – Sebuah esai opini bertajuk “Digitalisasi Pendidikan: Solusi atau Ilusi?” yang ditulis oleh pengamat pendidikan kenamaan, Dr. Aris Munandar, memicu gelombang diskusi hangat di kalangan akademisi dan praktisi pendidikan pekan ini. Dalam tulisannya yang dipublikasikan di harian nasional terkemuka, Dr. Aris menggunakan metafora “pedang bermata dua” untuk menggambarkan integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam kurikulum sekolah saat ini. Ia berargumen bahwa ketergantungan berlebih pada perangkat digital tanpa kendali akan memicu “krisis identitas intelektual” dan “pengikisan nalar” di kalangan generasi muda.
Menanggapi tulisan tersebut, kubu pendukung digitalisasi dari Forum Teknologi Edukasi menilai argumen Dr. Aris sebagai “ketakutan tak berdasar yang dibungkus dengan retorika melankolis.” Mereka menyatakan bahwa digitalisasi adalah keniscayaan zaman yang tidak bisa dibendung. Namun, Dr. Aris membalas kritik tersebut dengan menyajikan data empiris mengenai penurunan skor literasi mendalam (deep reading) di beberapa sekolah yang menerapkan sistem pembelajaran digital penuh tanpa pendampingan pedagogis yang kuat. Perdebatan ini menyoroti bagaimana strategi persuasi melalui pemilihan diksi dan data menjadi instrumen utama dalam memengaruhi kebijakan publik di bidang pendidikan.
Pertanyaan: Dalam teks tersebut terdapat berbagai diksi retoris yang digunakan oleh pihak-pihak yang berdebat. Manakah pernyataan berikut yang secara akurat menjelaskan fungsi dari diksi tersebut?
- Diksi “pengikisan nalar” digunakan oleh Dr. Aris untuk menciptakan kesan urgensi terhadap dampak negatif teknologi.
- Frasa “retorika melankolis” digunakan oleh kubu pendukung digitalisasi untuk menstigma argumen lawan sebagai hal yang terlalu emosional.
- Kata “ilusi” pada judul esai berfungsi sebagai kategori netral untuk menggambarkan perkembangan teknologi di masa depan.
- Penggunaan frasa “ketakutan tak berdasar” merupakan bentuk strategi persuasi untuk melemahkan posisi argumen lawan.
- Istilah “pendampingan pedagogis” digunakan untuk menggantikan peran teknologi secara keseluruhan dalam sistem pendidikan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A benar karena ‘pengikisan nalar’ memiliki konotasi negatif kuat untuk menunjukkan bahaya. Opsi B benar karena ‘retorika melankolis’ adalah label peyoratif untuk mendiskreditkan lawan. Opsi D benar karena frasa tersebut digunakan untuk meruntuhkan kredibilitas argumen Dr. Aris. Opsi C salah karena ‘ilusi’ bermuatan negatif, bukan netral. Opsi E salah karena pendampingan pedagogis dimaksudkan sebagai syarat keberhasilan, bukan pengganti teknologi.
Semoga bermanfaat. (kangjo)
LINK DOWNLOAD:
- Kumpulan 20 Soal Literasi-1 Berita TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-2 Deskripsi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-3 Narasi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
