KANGJO.INFO, Tamiang Layang, Barito Timur. Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan bagian dari kebijakan evaluasi pendidikan yang dirancang untuk mengukur capaian akademik peserta didik secara objektif dan terstandar. Dalam rangka memastikan pelaksanaan yang seragam di seluruh Indonesia, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menetapkan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penyelenggaraan TKA.
Artikel ini secara khusus membahas implementasi juknis tersebut untuk jenjang SMA/SMK/sederajat, sebagai panduan bagi sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan dan contoh soal beserta jawabannya.
Dasar Hukum
Keputusan ini disusun berdasarkan:
- Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
- Kebijakan Merdeka Belajar
- Peraturan Menteri Pendidikan terkait asesmen nasional
- Standar nasional pendidikan terbaru
Juknis ini menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan TKA tahun 2025 dan seterusnya.
Tujuan Penyelenggaraan TKA
TKA untuk SMA/SMK/sederajat bertujuan untuk:
- Mengukur capaian akademik peserta didik secara komprehensif
- Menyediakan data untuk perbaikan mutu pendidikan
- Mendukung seleksi masuk jenjang pendidikan lebih tinggi
- Mendorong pembelajaran berbasis kompetensi
Ruang Lingkup TKA SMA/SMK
TKA pada jenjang ini mencakup:
1. Materi yang Diujikan
- Literasi: kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi teks
- Numerasi: kemampuan berpikir matematis dalam konteks nyata
- Penalaran: kemampuan berpikir kritis dan logis
- Substansi mata pelajaran tertentu(sesuai jurusan di SMA/SMK)
2. Bentuk Soal
- Pilihan ganda
- Pilihan ganda kompleks
- Isian singkat
- Uraian terbatas
Soal dirancang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Peserta TKA
Peserta TKA meliputi:
- Siswa kelas akhir SMA/MA
- Siswa kelas akhir SMK/MAK
- Peserta didik pada jalur pendidikan kesetaraan (Paket C)
Mekanisme Pelaksanaan
1. Moda Pelaksanaan
- Berbasis komputer (CBT)sebagai moda utama
- Dapat menggunakan moda semi-online atau offline terbatas jika diperlukan
2. Jadwal Pelaksanaan
- Dilaksanakan sesuai kalender yang ditetapkan oleh BSKAP
- Bersifat nasional dan serentak (dengan penyesuaian teknis daerah)
3. Tahapan Pelaksanaan
- Persiapan
- Pendataan peserta
- Penyiapan sarana prasarana
- Pelatihan proktor dan pengawas
- Pelaksanaan
- Ujian sesuai jadwal
- Pengawasan ketat berbasis sistem
- Pengolahan Hasil
- Sistem terpusat
- Analisis capaian peserta didik
- Pelaporan
- Disampaikan kepada sekolah, peserta, dan pemangku kebijakan
Peran Sekolah dan Guru
Sekolah
- Menyiapkan infrastruktur TKA
- Menjamin kejujuran dan kelancaran pelaksanaan
- Mengelola administrasi peserta
Guru
- Membimbing siswa dalam persiapan TKA
- Mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam pembelajaran
- Menganalisis hasil TKA untuk perbaikan pembelajaran
Prinsip Penyelenggaraan TKA
TKA dilaksanakan dengan prinsip:
- Objektif
- Transparan
- Akuntabel
- Adil dan inklusif
Pemanfaatan Hasil TKA
Hasil TKA digunakan untuk:
- Evaluasi capaian belajar siswa
- Pemetaan mutu pendidikan
- Pertimbangan seleksi masuk perguruan tinggi
- Dasar perbaikan kurikulum dan pembelajaran
Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 memberikan panduan komprehensif dalam penyelenggaraan TKA, khususnya untuk jenjang SMA/SMK/sederajat. Dengan pelaksanaan yang terarah dan sesuai juknis, diharapkan TKA dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Latihan Soal Literasi-3 Narasi TKA SMA/SMK 2026
Subject: Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut | Topic: Sintesis Informasi dari Multi-teks yang Kontradiktif
Soal No. 1 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris terduduk di beranda rumahnya yang mulai berdebu akibat aktivitas alat berat yang meraung-raung di hulu sungai. Di hadapannya, tiga dokumen berserakan. Pertama, sebuah brosur mengilap bertajuk ‘Bendungan Aguna: Energi Hijau untuk Masa Depan’. Di sana tertulis dengan huruf kapital bahwa proyek ini akan menjamin swasembada energi, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan dilakukan dengan prosedur ‘pembebasan lahan yang humanis dan transparan’. Pemerintah mengeklaim bahwa Desa Sukahening akan menjadi desa percontohan modernisasi.
Namun, dokumen kedua, sebuah surat tulisan tangan dari kakeknya yang tinggal di bagian desa yang sudah digusur, berbicara lain. ‘Aris, mereka mengambil kebun kopi kita dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Katanya demi negara, tapi kakek merasa seperti kehilangan nyawa. Tidak ada yang bertanya apakah kami setuju, kami hanya diberi tahu kapan harus pergi. Pohon beringin tua di pinggir sungai yang kita jaga turun-temurun pun sudah roboh diterjang ekskavator,’ tulis kakek dengan tinta yang sedikit luntur.
Dokumen ketiga adalah laporan singkat dari LSM Hijau Lestari yang Aris unduh dari internet. Laporan itu memuat data teknis tentang risiko sedimentasi dini dan ancaman kepunahan fauna endemik sungai akibat perubahan arus air yang drastis. LSM tersebut menekankan bahwa analisis dampak lingkungan yang dipublikasikan pemerintah terlalu optimistis dan mengabaikan siklus hidrologi jangka panjang yang bisa memicu kekeringan di hilir dalam sepuluh tahun ke depan. Aris menghela napas, menyadari bahwa kebenaran tentang Bendungan Aguna tidaklah tunggal; ia terpecah di antara janji kemajuan, tangisan tradisi, dan peringatan sains.
Pertanyaan: Manakah pernyataan berikut yang menunjukkan kontradiksi informasi antara brosur pemerintah dan surat kakek Aris dalam teks tersebut?
- Brosur menjanjikan peningkatan kesejahteraan ekonomi secara menyeluruh, sementara kakek merasa pembangunan tersebut justru mencabut akar budaya masyarakat.
- Brosur menyebutkan proses pemindahan lahan dilakukan atas kesepakatan bersama, sedangkan kakek merasa warga tidak memiliki pilihan selain mengalah pada otoritas.
- Pemerintah mengeklaim bendungan akan menjaga kelestarian air, sementara kakek bersaksi bahwa debit air sungai justru mengecil sejak proyek dimulai.
- Brosur menyatakan bahwa proyek ini menggunakan teknologi ramah lingkungan, sedangkan kakek melihat banyak pohon tua yang ditebang secara sembarangan.
- Pemerintah menjanjikan lapangan kerja bagi seluruh pemuda desa, namun kakek mengeluhkan banyak pemuda yang justru memilih merantau ke kota.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Kontradiksi terlihat pada aspek ekonomi vs budaya (Opsi A), prosedur pembebasan lahan (Opsi B), dan narasi ramah lingkungan vs fakta penebangan pohon (Opsi D). Opsi C dan E tidak didukung oleh rincian spesifik dalam stimulus yang menyebutkan ‘debit air mengecil’ atau ‘pemuda merantau’ sebagai bentuk kontradiksi langsung terhadap brosur.
Soal No. 2 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris terduduk di beranda rumahnya yang mulai berdebu akibat aktivitas alat berat yang meraung-raung di hulu sungai. Di hadapannya, tiga dokumen berserakan. Pertama, sebuah brosur mengilap bertajuk ‘Bendungan Aguna: Energi Hijau untuk Masa Depan’. Di sana tertulis dengan huruf kapital bahwa proyek ini akan menjamin swasembada energi, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan dilakukan dengan prosedur ‘pembebasan lahan yang humanis dan transparan’. Pemerintah mengeklaim bahwa Desa Sukahening akan menjadi desa percontohan modernisasi.
Namun, dokumen kedua, sebuah surat tulisan tangan dari kakeknya yang tinggal di bagian desa yang sudah digusur, berbicara lain. ‘Aris, mereka mengambil kebun kopi kita dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Katanya demi negara, tapi kakek merasa seperti kehilangan nyawa. Tidak ada yang bertanya apakah kami setuju, kami hanya diberi tahu kapan harus pergi. Pohon beringin tua di pinggir sungai yang kita jaga turun-temurun pun sudah roboh diterjang ekskavator,’ tulis kakek dengan tinta yang sedikit luntur.
Dokumen ketiga adalah laporan singkat dari LSM Hijau Lestari yang Aris unduh dari internet. Laporan itu memuat data teknis tentang risiko sedimentasi dini dan ancaman kepunahan fauna endemik sungai akibat perubahan arus air yang drastis. LSM tersebut menekankan bahwa analisis dampak lingkungan yang dipublikasikan pemerintah terlalu optimistis dan mengabaikan siklus hidrologi jangka panjang yang bisa memicu kekeringan di hilir dalam sepuluh tahun ke depan. Aris menghela napas, menyadari bahwa kebenaran tentang Bendungan Aguna tidaklah tunggal; ia terpecah di antara janji kemajuan, tangisan tradisi, dan peringatan sains.
Pertanyaan: Berdasarkan sintesis dari ketiga sumber informasi dalam cerita tersebut, manakah simpulan yang paling akurat mengenai dampak Proyek Bendungan Aguna?
- Keuntungan ekonomi dari energi terbarukan harus dibayar dengan risiko degradasi ekosistem jangka panjang dan hilangnya identitas sosial desa.
- Pemerintah telah melakukan mitigasi dampak lingkungan secara komprehensif sehingga kekhawatiran LSM Hijau Lestari bersifat berlebihan.
- Ketegangan muncul karena adanya perbedaan prioritas antara pertumbuhan ekonomi makro, kelestarian ekologi, dan nilai-nilai tradisional masyarakat.
- Pembangunan tersebut akan membawa kemajuan teknologi yang secara otomatis menyelesaikan masalah kemiskinan dan kerusakan alam di Desa Sukahening.
- Proyek Bendungan Aguna merupakan manifestasi dari konflik kepentingan yang menyebabkan informasi yang diterima masyarakat menjadi tidak seragam.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Simpulan A, C, dan E merupakan hasil sintesis yang objektif. Simpulan A menggabungkan aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial. Simpulan C memetakan akar masalah dari tiga perspektif. Simpulan E menjelaskan mengapa terjadi kontradiksi informasi. Opsi B dan D terlalu berpihak pada satu sumber dan mengabaikan fakta kontradiktif lainnya.
Soal No. 3 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris terduduk di beranda rumahnya yang mulai berdebu akibat aktivitas alat berat yang meraung-raung di hulu sungai. Di hadapannya, tiga dokumen berserakan. Pertama, sebuah brosur mengilap bertajuk ‘Bendungan Aguna: Energi Hijau untuk Masa Depan’. Di sana tertulis dengan huruf kapital bahwa proyek ini akan menjamin swasembada energi, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan dilakukan dengan prosedur ‘pembebasan lahan yang humanis dan transparan’. Pemerintah mengeklaim bahwa Desa Sukahening akan menjadi desa percontohan modernisasi.
Namun, dokumen kedua, sebuah surat tulisan tangan dari kakeknya yang tinggal di bagian desa yang sudah digusur, berbicara lain. ‘Aris, mereka mengambil kebun kopi kita dengan harga yang mereka tentukan sendiri. Katanya demi negara, tapi kakek merasa seperti kehilangan nyawa. Tidak ada yang bertanya apakah kami setuju, kami hanya diberi tahu kapan harus pergi. Pohon beringin tua di pinggir sungai yang kita jaga turun-temurun pun sudah roboh diterjang ekskavator,’ tulis kakek dengan tinta yang sedikit luntur.
Dokumen ketiga adalah laporan singkat dari LSM Hijau Lestari yang Aris unduh dari internet. Laporan itu memuat data teknis tentang risiko sedimentasi dini dan ancaman kepunahan fauna endemik sungai akibat perubahan arus air yang drastis. LSM tersebut menekankan bahwa analisis dampak lingkungan yang dipublikasikan pemerintah terlalu optimistis dan mengabaikan siklus hidrologi jangka panjang yang bisa memicu kekeringan di hilir dalam sepuluh tahun ke depan. Aris menghela napas, menyadari bahwa kebenaran tentang Bendungan Aguna tidaklah tunggal; ia terpecah di antara janji kemajuan, tangisan tradisi, dan peringatan sains.
Pertanyaan: Mengapa informasi mengenai dampak bendungan yang diterima Aris dari ketiga sumber tersebut saling bertentangan?
- Brosur pemerintah bersifat persuasif untuk membangun opini publik positif demi kelancaran proyek nasional.
- LSM Hijau Lestari menggunakan data ilmiah untuk menyoroti risiko yang mungkin diabaikan atau disembunyikan dalam laporan resmi.
- Surat kakek Aris merepresentasikan memori kolektif dan ikatan emosional warga yang tidak bisa diukur dengan angka ekonomi.
- Pemerintah sengaja memberikan data palsu kepada warga desa untuk menghindari tuntutan ganti rugi lahan yang lebih tinggi.
- Kakek Aris cenderung menutup diri dari kemajuan zaman sehingga ia menolak segala bentuk modernisasi di desanya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Penyebab perbedaan informasi (bias) terletak pada tujuan masing-masing teks: persuasif-politik (A), kritis-ilmiah (B), dan emosional-tradisional (C). Opsi D dan E bersifat asumtif dan tidak dapat dibuktikan hanya berdasarkan teks narasi yang tersedia.
Soal No. 4 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di bawah naungan pohon beringin tua, Pak Karta menatap aliran Sungai Serayu dengan tenang. ‘Lima puluh tahun aku bernapas di sini, sungai ini tak pernah sekalipun mengkhianati kami dengan luapan airnya. Tanah ini sakral, tak boleh diusik oleh beton-beton asing,’ tegasnya di hadapan warga desa yang mengangguk setuju. Di sisi lain, Bu Ratna, seorang insinyur hidrologi, membuka gulungan peta digitalnya di meja balai desa. ‘Pak Karta, data satelit dan sensor debit air menunjukkan hal berbeda. Curah hujan ekstrem dalam lima tahun terakhir telah menaikkan permukaan air hingga titik rawan, dan struktur tanah di tebing desa ini mulai jenuh air serta tidak stabil. Bendungan ini adalah perisai, bukan sekadar proyek,’ jelasnya dengan nada cemas namun tegas. Di tengah perdebatan yang kian memanas, Laras, seorang jurnalis muda, menelusuri arsip tua di perpustakaan daerah. Ia menemukan sebuah catatan bertahun 1944 yang menyebutkan tentang ‘Banjir Besar’ yang menyapu bersih pemukiman di lembah tersebut. Catatan itu juga mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan: para tetua saat itu sepakat untuk tidak menceritakan bencana tersebut kepada generasi berikutnya demi menghilangkan ketakutan kolektif, sehingga seiring waktu terciptalah keyakinan bahwa sungai tersebut akan selalu tenang dan bersahabat.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang mencerminkan pertentangan informasi antara Pak Karta dan Bu Ratna berdasarkan teks tersebut?
- Pak Karta meyakini sungai tidak pernah meluap selama lima dekade, sedangkan Bu Ratna menunjukkan tren kenaikan debit air.
- Pak Karta menganggap tanah desa bersifat sakral, sementara Bu Ratna menilai tanah tersebut secara teknis tidak stabil.
- Pak Karta menolak pembangunan bendungan karena alasan ekonomi, sedangkan Bu Ratna fokus pada aspek keselamatan warga.
- Pak Karta mengandalkan ingatan kolektif warga, sementara Bu Ratna bersandar pada data hidrologi dan geologi terbaru.
- Pak Karta ingin menjaga tradisi leluhur, sedangkan Bu Ratna berupaya memodernisasi sistem irigasi untuk pertanian desa.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A benar karena teks menyebutkan Pak Karta mengklaim 50 tahun sungai tidak meluap, sementara Bu Ratna menunjukkan kenaikan debit air. Opsi B benar karena Pak Karta menyebut tanah sakral, sementara Bu Ratna menyebut tanah jenuh air dan tidak stabil. Opsi D benar karena Pak Karta menggunakan pengalaman pribadi/warga, sedangkan Bu Ratna menggunakan data satelit dan sensor. Opsi C salah karena Pak Karta tidak menyebut alasan ekonomi. Opsi E salah karena fokus Bu Ratna adalah keselamatan (perisai), bukan irigasi.
Soal No. 5 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di bawah naungan pohon beringin tua, Pak Karta menatap aliran Sungai Serayu dengan tenang. ‘Lima puluh tahun aku bernapas di sini, sungai ini tak pernah sekalipun mengkhianati kami dengan luapan airnya. Tanah ini sakral, tak boleh diusik oleh beton-beton asing,’ tegasnya di hadapan warga desa yang mengangguk setuju. Di sisi lain, Bu Ratna, seorang insinyur hidrologi, membuka gulungan peta digitalnya di meja balai desa. ‘Pak Karta, data satelit dan sensor debit air menunjukkan hal berbeda. Curah hujan ekstrem dalam lima tahun terakhir telah menaikkan permukaan air hingga titik rawan, dan struktur tanah di tebing desa ini mulai jenuh air serta tidak stabil. Bendungan ini adalah perisai, bukan sekadar proyek,’ jelasnya dengan nada cemas namun tegas. Di tengah perdebatan yang kian memanas, Laras, seorang jurnalis muda, menelusuri arsip tua di perpustakaan daerah. Ia menemukan sebuah catatan bertahun 1944 yang menyebutkan tentang ‘Banjir Besar’ yang menyapu bersih pemukiman di lembah tersebut. Catatan itu juga mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan: para tetua saat itu sepakat untuk tidak menceritakan bencana tersebut kepada generasi berikutnya demi menghilangkan ketakutan kolektif, sehingga seiring waktu terciptalah keyakinan bahwa sungai tersebut akan selalu tenang dan bersahabat.
Pertanyaan: Berdasarkan temuan Laras mengenai peristiwa tahun 1944, fakta mana saja yang mengonstruksi ulang pemahaman pembaca terhadap konflik tersebut?
- Ingatan kolektif yang disampaikan Pak Karta ternyata mengandung distorsi sejarah akibat kesepakatan masa lalu.
- Kekhawatiran Bu Ratna mengenai ancaman bencana memiliki relevansi historis yang selama ini tersembunyi.
- Catatan sejarah tersebut membuktikan bahwa mitigasi bencana melalui bendungan sudah pernah gagal sebelumnya.
- Stabilitas alam yang diyakini warga selama ini hanyalah periode tenang sementara di antara siklus bencana besar.
- Laras menemukan bahwa Roh Sungai sebenarnya adalah simbol dari banjir besar yang terjadi delapan dekade silam.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A benar karena catatan 1944 menunjukkan warga sepakat menghapus memori banjir. Opsi B benar karena banjir besar di masa lalu memvalidasi kekhawatiran teknis Bu Ratna. Opsi D benar karena fakta adanya banjir 1944 mematahkan asumsi bahwa alam desa tersebut selalu aman. Opsi C salah karena tidak ada informasi bendungan pernah gagal. Opsi E salah karena teks tidak menyebutkan roh sungai adalah simbol banjir secara eksplisit, melainkan hanya menyebutkan penciptaan mitos sungai tenang.
Soal No. 6 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di bawah naungan pohon beringin tua, Pak Karta menatap aliran Sungai Serayu dengan tenang. ‘Lima puluh tahun aku bernapas di sini, sungai ini tak pernah sekalipun mengkhianati kami dengan luapan airnya. Tanah ini sakral, tak boleh diusik oleh beton-beton asing,’ tegasnya di hadapan warga desa yang mengangguk setuju. Di sisi lain, Bu Ratna, seorang insinyur hidrologi, membuka gulungan peta digitalnya di meja balai desa. ‘Pak Karta, data satelit dan sensor debit air menunjukkan hal berbeda. Curah hujan ekstrem dalam lima tahun terakhir telah menaikkan permukaan air hingga titik rawan, dan struktur tanah di tebing desa ini mulai jenuh air serta tidak stabil. Bendungan ini adalah perisai, bukan sekadar proyek,’ jelasnya dengan nada cemas namun tegas. Di tengah perdebatan yang kian memanas, Laras, seorang jurnalis muda, menelusuri arsip tua di perpustakaan daerah. Ia menemukan sebuah catatan bertahun 1944 yang menyebutkan tentang ‘Banjir Besar’ yang menyapu bersih pemukiman di lembah tersebut. Catatan itu juga mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan: para tetua saat itu sepakat untuk tidak menceritakan bencana tersebut kepada generasi berikutnya demi menghilangkan ketakutan kolektif, sehingga seiring waktu terciptalah keyakinan bahwa sungai tersebut akan selalu tenang dan bersahabat.
Pertanyaan: Manakah simpulan-simpulan yang merupakan hasil sintesis dari berbagai sudut pandang tokoh dalam teks tersebut?
- Kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan integritas data sains sekaligus menghormati nilai sosiokultural masyarakat.
- Sejarah lisan masyarakat perlu diverifikasi dengan bukti dokumenter untuk mendapatkan gambaran risiko bencana yang akurat.
- Penolakan warga terhadap perubahan selalu berakar pada trauma masa lalu yang tidak disadari atau sengaja dilupakan.
- Keputusan teknis yang menyangkut keselamatan publik tidak boleh dipengaruhi oleh mitos atau keyakinan tradisional warga.
- Keamanan sebuah wilayah di masa depan tidak dapat hanya diukur dari pengalaman subjektif selama beberapa dekade terakhir.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, E
Opsi A merupakan sintesis yang adil antara pandangan Pak Karta (sosial) dan Bu Ratna (sains). Opsi B menyintesis temuan Laras dengan klaim Pak Karta. Opsi E menyintesis peringatan Bu Ratna dengan kekeliruan observasi Pak Karta. Opsi C salah karena menggunakan kata ‘selalu’ (overgeneralization). Opsi D salah karena bukan merupakan sintesis melainkan pemihakan pada satu sisi saja.
Soal No. 7 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris duduk tertegun di balai desa sambil menggenggam brosur mengilap bertajuk ‘Gerbang Digital Nusantara’. Di sana tertulis dengan huruf kapital yang tegas bahwa proyek pembangunan menara pemancar di Desa Karangmulyo telah mencapai kesepakatan bulat, dengan klaim 90% warga setuju demi akselerasi ekonomi digital. Namun, suasana di dalam balai desa justru terasa menyesakkan. Pak Damar, sesepuh desa yang suaranya gemetar namun lantang, berdiri di depan warga. ‘Hanya sepuluh orang yang diundang ke hotel di kota itu, Aris. Sisanya? Kami hanya melihat alat berat datang tanpa permisi,’ ujarnya sambil menunjuk hamparan sawah organik yang kini terancam. Aris kemudian membuka salinan laporan AMDAL perusahaan yang sempat ia unduh. Di sana tertulis: ‘Dampak lingkungan pada sumber air tanah dikategorikan minimal dan terkendali’. Kontras dengan itu, ia juga membaca catatan harian komunitas lingkungan desa yang mencatat bahwa sejak pengeboran fondasi dimulai dua minggu lalu, debit air di sumur warga menurun drastis dan mulai berbau besi. Aris menyadari ada dua dunia yang sedang bertabrakan: dunia angka-angka di atas kertas laporan yang rapi, dan dunia kenyataan yang sedang diperjuangkan warga di tanah mereka sendiri.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang menunjukkan kontradiksi langsung antara laporan resmi perusahaan dengan realitas yang dialami warga dalam teks tersebut?
- Persentase persetujuan warga dalam brosur berbanding terbalik dengan pengakuan Pak Damar tentang jumlah peserta sosialisasi.
- Klaim dampak lingkungan minimal dalam laporan AMDAL bertolak belakang dengan temuan penurunan kualitas air oleh komunitas lokal.
- Pembangunan menara pemancar bertujuan untuk kemajuan ekonomi namun justru menghambat seluruh akses komunikasi warga desa.
- Kekhawatiran warga terhadap dampak radiasi pada pertanian organik tidak termuat dalam narasi keberhasilan di laporan resmi perusahaan.
- Aris merasa bingung karena brosur perusahaan memiliki kualitas cetak yang lebih baik daripada catatan harian milik komunitas lingkungan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Kontradiksi langsung terlihat pada: 1) Klaim 90% setuju di brosur vs kenyataan hanya 10 orang yang diundang (A). 2) Klaim AMDAL dampak minimal vs kenyataan penurunan kualitas air tanah (B). 3) Laporan resmi hanya memuat keberhasilan ekonomi tanpa menyinggung kecemasan warga soal radiasi dan pertanian (D). Opsi C salah karena teks tidak menyebutkan hambatan komunikasi, dan opsi E hanya masalah teknis cetakan yang tidak relevan dengan substansi informasi.
Soal No. 8 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris duduk tertegun di balai desa sambil menggenggam brosur mengilap bertajuk ‘Gerbang Digital Nusantara’. Di sana tertulis dengan huruf kapital yang tegas bahwa proyek pembangunan menara pemancar di Desa Karangmulyo telah mencapai kesepakatan bulat, dengan klaim 90% warga setuju demi akselerasi ekonomi digital. Namun, suasana di dalam balai desa justru terasa menyesakkan. Pak Damar, sesepuh desa yang suaranya gemetar namun lantang, berdiri di depan warga. ‘Hanya sepuluh orang yang diundang ke hotel di kota itu, Aris. Sisanya? Kami hanya melihat alat berat datang tanpa permisi,’ ujarnya sambil menunjuk hamparan sawah organik yang kini terancam. Aris kemudian membuka salinan laporan AMDAL perusahaan yang sempat ia unduh. Di sana tertulis: ‘Dampak lingkungan pada sumber air tanah dikategorikan minimal dan terkendali’. Kontras dengan itu, ia juga membaca catatan harian komunitas lingkungan desa yang mencatat bahwa sejak pengeboran fondasi dimulai dua minggu lalu, debit air di sumur warga menurun drastis dan mulai berbau besi. Aris menyadari ada dua dunia yang sedang bertabrakan: dunia angka-angka di atas kertas laporan yang rapi, dan dunia kenyataan yang sedang diperjuangkan warga di tanah mereka sendiri.
Pertanyaan: Berdasarkan teks tersebut, apa saja konsekuensi logis yang muncul akibat adanya informasi yang kontradiktif tersebut?
- Munculnya krisis kepercayaan dari masyarakat desa terhadap kredibilitas pengembang proyek.
- Terhambatnya proses pengambilan keputusan yang objektif karena data yang tersedia saling tumpang tindih.
- Peningkatan kesejahteraan ekonomi warga secara instan tanpa perlu melalui proses adaptasi teknologi baru.
- Potensi munculnya konflik sosial antara kelompok yang mendukung pembangunan dan kelompok yang menjaga kelestarian lingkungan.
- Penghapusan seluruh program digitalisasi di wilayah pedesaan oleh pemerintah pusat demi menghindari perdebatan data.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Informasi yang kontradiktif menyebabkan: 1) Ketidakpercayaan publik karena merasa dibohongi oleh data brosur (A). 2) Kesulitan mengambil keputusan karena fakta lapangan dan dokumen resmi tidak sinkron (B). 3) Friksi sosial antara pihak pro-ekonomi dan pro-lingkungan (D). Opsi C dan E tidak logis dan tidak didukung oleh konteks cerita.
Soal No. 9 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris duduk tertegun di balai desa sambil menggenggam brosur mengilap bertajuk ‘Gerbang Digital Nusantara’. Di sana tertulis dengan huruf kapital yang tegas bahwa proyek pembangunan menara pemancar di Desa Karangmulyo telah mencapai kesepakatan bulat, dengan klaim 90% warga setuju demi akselerasi ekonomi digital. Namun, suasana di dalam balai desa justru terasa menyesakkan. Pak Damar, sesepuh desa yang suaranya gemetar namun lantang, berdiri di depan warga. ‘Hanya sepuluh orang yang diundang ke hotel di kota itu, Aris. Sisanya? Kami hanya melihat alat berat datang tanpa permisi,’ ujarnya sambil menunjuk hamparan sawah organik yang kini terancam. Aris kemudian membuka salinan laporan AMDAL perusahaan yang sempat ia unduh. Di sana tertulis: ‘Dampak lingkungan pada sumber air tanah dikategorikan minimal dan terkendali’. Kontras dengan itu, ia juga membaca catatan harian komunitas lingkungan desa yang mencatat bahwa sejak pengeboran fondasi dimulai dua minggu lalu, debit air di sumur warga menurun drastis dan mulai berbau besi. Aris menyadari ada dua dunia yang sedang bertabrakan: dunia angka-angka di atas kertas laporan yang rapi, dan dunia kenyataan yang sedang diperjuangkan warga di tanah mereka sendiri.
Pertanyaan: Jika Anda melakukan sintesis terhadap kedua sudut pandang yang bertentangan tersebut, hal-hal apa yang menjadi akar permasalahan utama?
- Kurangnya transparansi dan pelibatan masyarakat secara inklusif dalam proses perencanaan pembangunan di desa.
- Adanya perbedaan prioritas antara target pertumbuhan ekonomi digital dengan upaya pelestarian ekosistem lokal.
- Ketidakmampuan warga desa dalam memahami istilah-istilah teknis yang digunakan dalam laporan resmi AMDAL.
- Validitas data lapangan yang digunakan sebagai landasan klaim keberhasilan proyek masih bersifat sepihak dan diragukan.
- Keinginan warga untuk menutup diri sepenuhnya dari segala bentuk kemajuan teknologi demi mempertahankan tradisi kuno.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Akar masalah dari sintesis kedua teks adalah: 1) Masalah prosedural (transparansi dan inklusivitas) yang disinggung Pak Damar (A). 2) Benturan kepentingan antara visi ekonomi dan realitas ekologi (B). 3) Masalah integritas data yang disajikan pihak pengembang (D). Opsi C bukan akar masalah utama, dan opsi E merupakan generalisasi yang salah karena warga hanya khawatir dampak lingkungan, bukan menolak teknologi secara total.
Soal No. 10 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Laras, seorang jurnalis investigasi, menemukan dua dokumen krusial di antara puing-puing sisa banjir bandang yang menghancurkan Desa Arga. Dokumen pertama adalah buku harian Aris, seorang pemuda setempat yang dikenal sangat teliti. Dalam catatannya tertulis: “12 Maret. Aku melihat Pak Salim lagi-lagi meninggalkan pos bendungan untuk memancing di sungai bawah. Padahal, bunyi alarm sensor pintu air terdengar pendek-pendek sejak sore tadi. Aku juga melihat ada retakan menyerupai rambut di pilar penyangga timur. Kuharap ini bukan pertanda buruk.”
Dokumen kedua adalah salinan Laporan Evaluasi Teknis Bulanan dari PT Arga Daya, pengelola bendungan, tertanggal 14 Maret. Laporan itu menyatakan: “Berdasarkan inspeksi rutin, seluruh infrastruktur struktural dinyatakan dalam kondisi prima (Status Hijau). Rembesan kecil yang teramati pada pilar sisi timur merupakan fenomena kapilaritas tanah yang normal akibat saturasi air pascahujan ekstrem dengan intensitas mencapai 200mm/hari. Sistem peringatan dini berfungsi optimal tanpa ada laporan anomali teknis.”
Dua informasi ini menyajikan kenyataan yang saling bertolak belakang mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum bencana melanda desa tersebut.
Pertanyaan: Manakah pernyataan berikut yang menunjukkan kontradiksi informasi antara catatan Aris dan laporan PT Arga Daya terkait kondisi teknis bendungan?
- Aris melaporkan adanya retakan fisik pada pilar penyangga, sementara perusahaan mengeklaim pilar dalam kondisi prima.
- Aris mencatat alarm sensor telah berbunyi sejak sore, sedangkan laporan perusahaan menyatakan tidak ada anomali pada sistem peringatan.
- Aris menyebutkan adanya banjir kiriman dari desa tetangga, namun perusahaan menyatakan banjir disebabkan oleh luapan pintu air.
- Aris menganggap rembesan di pilar timur sebagai ancaman, sedangkan perusahaan menilainya sebagai fenomena kapilaritas yang normal.
- Aris melihat petugas sengaja merusak pintu air, sementara laporan perusahaan menyebutkan kerusakan akibat faktor usia beton.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Kontradiksi yang muncul dalam teks meliputi: (1) Aris melihat retakan (kerusakan struktural) vs Perusahaan mengeklaim kondisi prima (A); (2) Aris mendengar alarm (anomali) vs Perusahaan menyatakan sistem optimal tanpa anomali (B); (3) Aris menganggap retakan/rembesan itu buruk vs Perusahaan menganggapnya normal/kapilaritas (D). Opsi C dan E tidak sesuai dengan isi teks stimulus.
Soal No. 11 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Laras, seorang jurnalis investigasi, menemukan dua dokumen krusial di antara puing-puing sisa banjir bandang yang menghancurkan Desa Arga. Dokumen pertama adalah buku harian Aris, seorang pemuda setempat yang dikenal sangat teliti. Dalam catatannya tertulis: “12 Maret. Aku melihat Pak Salim lagi-lagi meninggalkan pos bendungan untuk memancing di sungai bawah. Padahal, bunyi alarm sensor pintu air terdengar pendek-pendek sejak sore tadi. Aku juga melihat ada retakan menyerupai rambut di pilar penyangga timur. Kuharap ini bukan pertanda buruk.”
Dokumen kedua adalah salinan Laporan Evaluasi Teknis Bulanan dari PT Arga Daya, pengelola bendungan, tertanggal 14 Maret. Laporan itu menyatakan: “Berdasarkan inspeksi rutin, seluruh infrastruktur struktural dinyatakan dalam kondisi prima (Status Hijau). Rembesan kecil yang teramati pada pilar sisi timur merupakan fenomena kapilaritas tanah yang normal akibat saturasi air pascahujan ekstrem dengan intensitas mencapai 200mm/hari. Sistem peringatan dini berfungsi optimal tanpa ada laporan anomali teknis.”
Dua informasi ini menyajikan kenyataan yang saling bertolak belakang mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum bencana melanda desa tersebut.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus tersebut, manakah poin-poin yang dapat digunakan Laras untuk meragukan objektivitas laporan resmi PT Arga Daya?
- Adanya kesaksian informal dari Aris mengenai kelalaian petugas lapangan yang tidak tercantum dalam laporan resmi.
- Perusahaan secara terbuka mengakui bahwa mereka kekurangan personel untuk menjaga bendungan saat hujan ekstrem melanda.
- Klaim perusahaan mengenai ‘status hijau’ bertentangan dengan observasi visual warga mengenai munculnya retakan rambut di pilar.
- Laporan perusahaan ditulis setelah bencana terjadi sehingga ada kemungkinan upaya defensif untuk menghindari tanggung jawab.
- Data curah hujan 200mm/hari yang disebutkan perusahaan terbukti merupakan manipulasi data menurut catatan harian Aris.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Objektivitas laporan perusahaan diragukan karena: (1) Ada informasi kelalaian petugas yang disembunyikan (A); (2) Ada perbedaan antara status ‘aman’ perusahaan dengan fakta retakan yang dilihat warga (C); (3) Waktu pembuatan laporan (14 Maret) yang sangat dekat dengan kejadian (12 Maret) mengindikasikan upaya pembelaan diri pascabencana (D). Opsi B salah karena perusahaan tidak mengakui kekurangan personel. Opsi E salah karena Aris tidak membahas data curah hujan secara spesifik.
Soal No. 12 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Laras, seorang jurnalis investigasi, menemukan dua dokumen krusial di antara puing-puing sisa banjir bandang yang menghancurkan Desa Arga. Dokumen pertama adalah buku harian Aris, seorang pemuda setempat yang dikenal sangat teliti. Dalam catatannya tertulis: “12 Maret. Aku melihat Pak Salim lagi-lagi meninggalkan pos bendungan untuk memancing di sungai bawah. Padahal, bunyi alarm sensor pintu air terdengar pendek-pendek sejak sore tadi. Aku juga melihat ada retakan menyerupai rambut di pilar penyangga timur. Kuharap ini bukan pertanda buruk.”
Dokumen kedua adalah salinan Laporan Evaluasi Teknis Bulanan dari PT Arga Daya, pengelola bendungan, tertanggal 14 Maret. Laporan itu menyatakan: “Berdasarkan inspeksi rutin, seluruh infrastruktur struktural dinyatakan dalam kondisi prima (Status Hijau). Rembesan kecil yang teramati pada pilar sisi timur merupakan fenomena kapilaritas tanah yang normal akibat saturasi air pascahujan ekstrem dengan intensitas mencapai 200mm/hari. Sistem peringatan dini berfungsi optimal tanpa ada laporan anomali teknis.”
Dua informasi ini menyajikan kenyataan yang saling bertolak belakang mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum bencana melanda desa tersebut.
Pertanyaan: Jika kedua teks tersebut digabungkan, kesimpulan objektif apa yang paling tepat mengenai penyebab bencana di Desa Arga?
- Bencana dipicu oleh faktor alam berupa hujan ekstrem yang memberikan tekanan luar biasa pada struktur bendungan.
- Kelemahan pengawasan internal menyebabkan peringatan dini yang sudah aktif tidak segera ditindaklanjuti oleh petugas.
- Terdapat indikasi kegagalan struktural yang sudah mulai muncul (retakan) namun dianggap remeh oleh pihak pengelola.
- Bencana sepenuhnya disebabkan oleh kesalahan teknis pada sistem alarm yang tidak berbunyi saat debit air meningkat.
- Sintesis informasi menunjukkan adanya kombinasi antara faktor cuaca ekstrem dan kelalaian operasional manusia di lapangan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Sintesis informasi yang objektif melibatkan semua fakta yang tersedia: faktor alam (A), kelalaian manusia (B), pengabaian gejala kerusakan (C), dan kombinasi keduanya (E). Opsi D salah karena menurut Aris alarm sebenarnya berbunyi, sehingga masalahnya bukan pada sistem yang tidak berbunyi, melainkan respon terhadap alarm tersebut.
Soal No. 13 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris, seorang peneliti sejarah, sedang menelaah misteri hilangnya Ki Ageng, seorang tokoh perlawanan lokal yang jejaknya terputus pada tahun 1920. Di hadapannya tergeletak tiga dokumen yang menyajikan narasi berbeda. Dokumen pertama adalah ‘Babad Jati’, sebuah naskah kuno yang dipercaya masyarakat setempat. Dalam naskah itu disebutkan bahwa pada malam purnama merah di kaki Gunung Merapi, Ki Ageng melakukan meditasi terakhir hingga tubuhnya memancarkan cahaya keemasan dan moksa, naik ke langit untuk menjaga desa dari alam gaib. Dokumen kedua adalah salinan laporan kepolisian pemerintah kolonial tertanggal 15 Agustus 1920. Laporan itu mencatat bahwa Ki Ageng dinyatakan tewas setelah tim pencari menemukan sobekan kain jarik miliknya yang bersimbah darah di tepi jurang yang terjal, menunjukkan serangan harimau hutan yang ganas. Dokumen ketiga, yang paling mengejutkan Aris, adalah sepucuk surat rahasia yang ditemukan secara tidak sengaja di balik bingkai foto tua milik keluarga Ki Ageng. Dalam surat tertanggal 14 Agustus 1920 itu, Ki Ageng menulis kepada istrinya: ‘Dinda, besok aku akan menjadi hantu. Jangan menangis jika mereka membawa kabar duka dari tepi jurang. Ini adalah satu-satunya cara agar para pengejar itu berhenti mengusik hidup kita. Aku telah menyiapkan segalanya agar mereka percaya bahwa hutan telah mengambil nyawaku.’
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang merupakan fakta yang didukung atau diakui keberadaannya oleh ketiga sumber teks (Babad Jati, laporan kepolisian, dan surat rahasia) dalam narasi tersebut?
- Ki Ageng adalah tokoh sentral yang menjadi subjek utama dalam peristiwa tersebut.
- Peristiwa menghilangnya Ki Ageng terjadi di area sekitar gunung atau hutan.
- Terdapat bukti fisik berupa sobekan kain yang ditemukan di tepi jurang.
- Kekuatan supranatural merupakan penyebab utama hilangnya Ki Ageng.
- Kejadian tersebut berlangsung pada masa pemerintahan kolonial.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, E
Opsi A benar karena ketiga teks membahas Ki Ageng. Opsi B benar karena Babad Jati menyebut Gunung Merapi, laporan polisi menyebut jurang (hutan), dan surat rahasia menyebut sandiwara di tepi jurang. Opsi E benar karena laporan bertahun 1920 dan surat menyebut pengejar dari pemerintah (konteks kolonial). Opsi C salah karena hanya ada di laporan polisi. Opsi D salah karena hanya ada di Babad Jati.
Soal No. 14 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris, seorang peneliti sejarah, sedang menelaah misteri hilangnya Ki Ageng, seorang tokoh perlawanan lokal yang jejaknya terputus pada tahun 1920. Di hadapannya tergeletak tiga dokumen yang menyajikan narasi berbeda. Dokumen pertama adalah ‘Babad Jati’, sebuah naskah kuno yang dipercaya masyarakat setempat. Dalam naskah itu disebutkan bahwa pada malam purnama merah di kaki Gunung Merapi, Ki Ageng melakukan meditasi terakhir hingga tubuhnya memancarkan cahaya keemasan dan moksa, naik ke langit untuk menjaga desa dari alam gaib. Dokumen kedua adalah salinan laporan kepolisian pemerintah kolonial tertanggal 15 Agustus 1920. Laporan itu mencatat bahwa Ki Ageng dinyatakan tewas setelah tim pencari menemukan sobekan kain jarik miliknya yang bersimbah darah di tepi jurang yang terjal, menunjukkan serangan harimau hutan yang ganas. Dokumen ketiga, yang paling mengejutkan Aris, adalah sepucuk surat rahasia yang ditemukan secara tidak sengaja di balik bingkai foto tua milik keluarga Ki Ageng. Dalam surat tertanggal 14 Agustus 1920 itu, Ki Ageng menulis kepada istrinya: ‘Dinda, besok aku akan menjadi hantu. Jangan menangis jika mereka membawa kabar duka dari tepi jurang. Ini adalah satu-satunya cara agar para pengejar itu berhenti mengusik hidup kita. Aku telah menyiapkan segalanya agar mereka percaya bahwa hutan telah mengambil nyawaku.’
Pertanyaan: Berdasarkan teks narasi tersebut, apa alasan logis yang menjelaskan kontradiksi antara laporan resmi kepolisian dan isi surat rahasia Ki Ageng?
- Laporan kepolisian didasarkan pada bukti fisik yang telah dimanipulasi oleh Ki Ageng.
- Pihak kepolisian sengaja bekerja sama dengan Ki Ageng untuk memalsukan kematiannya.
- Surat rahasia mengungkapkan rencana strategis Ki Ageng untuk menciptakan ilusi kematian.
- Ki Ageng memanfaatkan ancaman hewan buas sebagai bagian dari skenario pelariannya.
- Babad Jati menjadi dasar bagi kepolisian dalam menyimpulkan bahwa Ki Ageng telah tewas.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Opsi A benar karena surat rahasia menyebutkan Ki Ageng menyiapkan ‘sandiwara’ yang mengecoh polisi. Opsi C benar karena surat tersebut menjelaskan motif pelarian. Opsi D benar karena temuan kain bersimbah darah (seolah diterkam harimau) adalah bagian dari sandiwara tersebut. Opsi B tidak didukung teks. Opsi E salah karena Babad Jati bersifat mistis, berbeda dengan laporan polisi yang bersifat naturalistik.
Soal No. 15 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Aris, seorang peneliti sejarah, sedang menelaah misteri hilangnya Ki Ageng, seorang tokoh perlawanan lokal yang jejaknya terputus pada tahun 1920. Di hadapannya tergeletak tiga dokumen yang menyajikan narasi berbeda. Dokumen pertama adalah ‘Babad Jati’, sebuah naskah kuno yang dipercaya masyarakat setempat. Dalam naskah itu disebutkan bahwa pada malam purnama merah di kaki Gunung Merapi, Ki Ageng melakukan meditasi terakhir hingga tubuhnya memancarkan cahaya keemasan dan moksa, naik ke langit untuk menjaga desa dari alam gaib. Dokumen kedua adalah salinan laporan kepolisian pemerintah kolonial tertanggal 15 Agustus 1920. Laporan itu mencatat bahwa Ki Ageng dinyatakan tewas setelah tim pencari menemukan sobekan kain jarik miliknya yang bersimbah darah di tepi jurang yang terjal, menunjukkan serangan harimau hutan yang ganas. Dokumen ketiga, yang paling mengejutkan Aris, adalah sepucuk surat rahasia yang ditemukan secara tidak sengaja di balik bingkai foto tua milik keluarga Ki Ageng. Dalam surat tertanggal 14 Agustus 1920 itu, Ki Ageng menulis kepada istrinya: ‘Dinda, besok aku akan menjadi hantu. Jangan menangis jika mereka membawa kabar duka dari tepi jurang. Ini adalah satu-satunya cara agar para pengejar itu berhenti mengusik hidup kita. Aku telah menyiapkan segalanya agar mereka percaya bahwa hutan telah mengambil nyawaku.’
Pertanyaan: Jika ketiga teks tersebut disintesis untuk memahami realitas sejarah Ki Ageng, simpulan apa yang paling akurat?
- Mitos atau legenda masyarakat sering kali berakar dari peristiwa politik yang disamarkan.
- Laporan resmi pemerintah selalu memiliki kredibilitas tertinggi dibandingkan sumber personal.
- Kebenaran sebuah peristiwa sejarah dapat ditemukan dengan menghubungkan berbagai sudut pandang.
- Ki Ageng menggunakan kepercayaan mistis masyarakat untuk mendukung keberhasilan rencananya.
- Satu-satunya sumber yang dapat dipercaya sepenuhnya adalah Babad Jati karena nilai budayanya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Opsi A benar karena narasi moksa di Babad Jati bisa jadi adalah cara masyarakat memaknai pelarian politik Ki Ageng. Opsi C benar karena sintesis ketiganya memberikan gambaran utuh (kejadian, laporan formal, dan motif asli). Opsi D benar karena dengan ‘menjadi hantu’ (surat rahasia), Ki Ageng memanfaatkan aspek mistis agar tidak lagi dicari. Opsi B dan E salah karena menunjukkan keberpihakan pada satu jenis teks saja.
Soal No. 16 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Dua Wajah di Tepian Serayu
Wira berdiri di atas tebing, menatap aliran Sungai Serayu yang bergejolak. Sebagai insinyur muda yang mengepalai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), ia merasa bangga. “Bendungan ini adalah masa depan,” ucapnya pada tim media. “Kita akan menghasilkan 50 MegaWatt energi bersih. Struktur beton ini menggunakan standar internasional tertinggi, tahan gempa, dan mustahil bocor. Lagi pula, lembah yang akan terendam ini adalah kawasan kosong tak berpenghuni, jadi tidak ada dampak sosial yang berarti.”
Namun, di kaki tebing yang sama, Mbah Darmo mengusap batu kali yang berlumut. Matanya nanar menatap patok-patok merah yang tertancap di tanah. “Air itu punya napas, Nak Wira,” bisiknya saat mereka bertemu sore itu. “Jika kau bendung tanpa permisi, ia akan mencari jalannya sendiri dengan amarah. Lembah ini tidak kosong. Di sana ada makam leluhur kami dan tanaman ‘Songo Langit’ yang hanya tumbuh di sela batu ini untuk obat jantung warga desa. Dulu, lima puluh tahun lalu, orang-orang asing juga membangun tembok di sini. Katanya kuat, tapi tanah ini bergerak dan tembok itu hancur menelan kurban. Tanah di sini tidak bisa diam.”
Di tengah perdebatan itu, sebuah kutipan dari Laporan Investigasi Independen Geologi Nasional yang terbit bulan lalu mencatat: “Meskipun desain konstruksi memenuhi kriteria keamanan standar, terdapat anomali berupa pergeseran lempeng tektonik minor di bawah zona inti bendungan. Data ini tidak terakomodasi secara mendalam dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) awal proyek. Di sisi lain, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa kehadiran PLTA akan menaikkan pendapatan per kapita daerah sebesar 15% melalui industrialisasi.”
Pertanyaan: Berdasarkan kontradiksi informasi antara klaim Wira dan kutipan Laporan Investigasi, manakah pernyataan yang merupakan hasil sintesis paling akurat mengenai risiko proyek tersebut?
- Standar internasional yang digunakan Wira tidak sepenuhnya menjamin keamanan karena adanya pengabaian terhadap data pergeseran lempeng tektonik.
- Struktur beton bendungan dipastikan akan runtuh dalam waktu dekat karena tanah di Lembah Serayu terus bergerak secara aktif.
- Klaim Wira mengenai keamanan struktur bersifat parsial karena hanya berfokus pada kualitas material tanpa mempertimbangkan stabilitas geologis jangka panjang.
- Investigasi independen membuktikan bahwa teknologi beton masa kini jauh lebih unggul dibandingkan teknologi yang digunakan lima puluh tahun lalu.
- Risiko banjir di masa depan tetap menjadi ancaman nyata bagi warga desa meskipun bendungan dibangun dengan kapasitas energi yang sangat besar.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C
Pernyataan A benar karena menyintesis klaim Wira (standar internasional) dengan temuan Laporan Investigasi (pengabaian tektonik). Pernyataan C benar karena menyimpulkan bahwa argumen Wira tidak lengkap (parsial) karena mengabaikan aspek geologis yang disebutkan dalam laporan. Opsi B terlalu spekulatif (pasti runtuh), D tidak didukung teks, dan E tidak secara spesifik menyintesis kontradiksi keamanan struktur.
Soal No. 17 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Dua Wajah di Tepian Serayu
Wira berdiri di atas tebing, menatap aliran Sungai Serayu yang bergejolak. Sebagai insinyur muda yang mengepalai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), ia merasa bangga. “Bendungan ini adalah masa depan,” ucapnya pada tim media. “Kita akan menghasilkan 50 MegaWatt energi bersih. Struktur beton ini menggunakan standar internasional tertinggi, tahan gempa, dan mustahil bocor. Lagi pula, lembah yang akan terendam ini adalah kawasan kosong tak berpenghuni, jadi tidak ada dampak sosial yang berarti.”
Namun, di kaki tebing yang sama, Mbah Darmo mengusap batu kali yang berlumut. Matanya nanar menatap patok-patok merah yang tertancap di tanah. “Air itu punya napas, Nak Wira,” bisiknya saat mereka bertemu sore itu. “Jika kau bendung tanpa permisi, ia akan mencari jalannya sendiri dengan amarah. Lembah ini tidak kosong. Di sana ada makam leluhur kami dan tanaman ‘Songo Langit’ yang hanya tumbuh di sela batu ini untuk obat jantung warga desa. Dulu, lima puluh tahun lalu, orang-orang asing juga membangun tembok di sini. Katanya kuat, tapi tanah ini bergerak dan tembok itu hancur menelan kurban. Tanah di sini tidak bisa diam.”
Di tengah perdebatan itu, sebuah kutipan dari Laporan Investigasi Independen Geologi Nasional yang terbit bulan lalu mencatat: “Meskipun desain konstruksi memenuhi kriteria keamanan standar, terdapat anomali berupa pergeseran lempeng tektonik minor di bawah zona inti bendungan. Data ini tidak terakomodasi secara mendalam dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) awal proyek. Di sisi lain, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa kehadiran PLTA akan menaikkan pendapatan per kapita daerah sebesar 15% melalui industrialisasi.”
Pertanyaan: Dampak apa saja yang akan muncul jika sudut pandang Mbah Darmo dan Laporan Investigasi digabungkan secara logis?
- Peningkatan ekonomi sebesar 15% akan secara otomatis menggantikan kerugian atas hilangnya tanaman obat langka di lembah.
- Pembangunan bendungan berisiko memusnahkan biodiversitas lokal yang memiliki nilai pengobatan sekaligus mengancam situs sejarah desa.
- Proyek ini memicu potensi bencana alam tektonik yang dapat memperparah trauma sejarah masyarakat terhadap kegagalan konstruksi masa lalu.
- Warga desa akan mendapatkan kompensasi ekonomi yang setara dengan nilai spiritual makam leluhur yang akan terendam air.
- Lembah yang dianggap kosong oleh pihak pengembang sebenarnya memiliki fungsi ekologis dan kultural yang krusial bagi keberlangsungan desa.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C, E
Opsi B menggabungkan informasi Mbah Darmo (tanaman obat, makam) dengan konteks pembangunan. Opsi C menyintesis data tektonik (Laporan) dengan ingatan sejarah masyarakat (Mbah Darmo). Opsi E menyintesis klaim ‘lembah kosong’ (Wira) dengan kenyataan ‘fungsi ekologis/kultural’ (Mbah Darmo). Opsi A dan D tidak logis karena nilai budaya dan ekonomi tidak bisa langsung dipertukarkan tanpa konflik.
Soal No. 18 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Dua Wajah di Tepian Serayu
Wira berdiri di atas tebing, menatap aliran Sungai Serayu yang bergejolak. Sebagai insinyur muda yang mengepalai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), ia merasa bangga. “Bendungan ini adalah masa depan,” ucapnya pada tim media. “Kita akan menghasilkan 50 MegaWatt energi bersih. Struktur beton ini menggunakan standar internasional tertinggi, tahan gempa, dan mustahil bocor. Lagi pula, lembah yang akan terendam ini adalah kawasan kosong tak berpenghuni, jadi tidak ada dampak sosial yang berarti.”
Namun, di kaki tebing yang sama, Mbah Darmo mengusap batu kali yang berlumut. Matanya nanar menatap patok-patok merah yang tertancap di tanah. “Air itu punya napas, Nak Wira,” bisiknya saat mereka bertemu sore itu. “Jika kau bendung tanpa permisi, ia akan mencari jalannya sendiri dengan amarah. Lembah ini tidak kosong. Di sana ada makam leluhur kami dan tanaman ‘Songo Langit’ yang hanya tumbuh di sela batu ini untuk obat jantung warga desa. Dulu, lima puluh tahun lalu, orang-orang asing juga membangun tembok di sini. Katanya kuat, tapi tanah ini bergerak dan tembok itu hancur menelan kurban. Tanah di sini tidak bisa diam.”
Di tengah perdebatan itu, sebuah kutipan dari Laporan Investigasi Independen Geologi Nasional yang terbit bulan lalu mencatat: “Meskipun desain konstruksi memenuhi kriteria keamanan standar, terdapat anomali berupa pergeseran lempeng tektonik minor di bawah zona inti bendungan. Data ini tidak terakomodasi secara mendalam dalam dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) awal proyek. Di sisi lain, proyeksi ekonomi menunjukkan bahwa kehadiran PLTA akan menaikkan pendapatan per kapita daerah sebesar 15% melalui industrialisasi.”
Pertanyaan: Manakah kesimpulan yang paling objektif mengenai posisi konflik dalam cerita tersebut?
- Modernisasi melalui energi bersih merupakan prioritas mutlak yang harus dijalankan tanpa mempertimbangkan mitos lokal.
- Terdapat ketimpangan informasi antara perencana proyek yang mengandalkan data teknis dan warga lokal yang mengandalkan memori kolektif.
- Klaim Wira tentang lembah tak berpenghuni terbukti salah secara faktual berdasarkan identifikasi fisik tanaman dan situs oleh Mbah Darmo.
- Laporan Investigasi berfungsi sebagai jembatan yang mendukung sepenuhnya argumen Mbah Darmo untuk menghentikan total proyek.
- Keputusan untuk melanjutkan proyek memerlukan rekonsiliasi antara ambisi teknokratis, data geologis yang akurat, dan pelestarian nilai budaya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C, E
Opsi B objektif dalam memotret akar konflik (ketimpangan jenis informasi). Opsi C objektif karena teks menunjukkan adanya bukti fisik (tanaman/makam) yang membantah klaim ‘kosong’. Opsi E merupakan simpulan sintesis yang solutif. Opsi A bersifat bias sepihak, dan Opsi D tidak akurat karena laporan investigasi biasanya memberikan data, bukan perintah penghentian total.
Soal No. 19 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Desa Kalingga mendadak riuh ketika sebuah perusahaan energi, ‘Lentera Bumi’, mengumumkan rencana pembangunan pembangkit listrik geothermal di lereng Gunung Wilis. Aris, seorang pemuda desa yang bekerja sebagai humas perusahaan, membagikan brosur mengkilap kepada warga. Di dalam brosur itu tertulis jelas: ‘Teknologi kami menggunakan sistem closed-loop yang menjamin risiko nol terhadap lingkungan. Gunung Wilis secara geologis dinyatakan stabil dan sangat aman untuk eksplorasi energi terbarukan demi kemakmuran ekonomi desa.’ Aris meyakini bahwa ini adalah gerbang menuju modernitas.
Namun, Mira, seorang pustakawan desa, menemukan naskah kuno berjudul ‘Serat Kalingga’ di lemari tua balai desa. Naskah itu menceritakan kejadian ratusan tahun lalu tentang ‘Naga Wilis’ yang murka. Di sana tertulis: ‘Janganlah sekali-kali merobek kulit bumi di puncak dingin, karena sang naga yang tertidur akan menggeliat dan menggetarkan tanah jika ketenangannya terusik. Bencana api akan turun bagi mereka yang rakus akan isi bumi.’ Mira merasa naskah ini bukan sekadar dongeng, melainkan catatan sejarah bencana seismik yang terlupakan.
Ketegangan memuncak saat sebuah laporan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup bocor ke publik. Laporan tersebut menyatakan bahwa secara teknis proyek memang layak, namun terdapat risiko penurunan debit air tanah hingga 40% bagi lahan pertanian warga dalam jangka panjang. Aris bersandar pada data teknis perusahaan, Mira berpegang pada peringatan leluhur, sementara laporan pemerintah menyodorkan fakta ekologis yang mengkhawatirkan. Ketiganya menyajikan realitas yang berbeda tentang satu objek yang sama: masa depan Desa Kalingga.
Pertanyaan: Berdasarkan narasi tersebut, manakah pernyataan yang secara akurat menunjukkan kontradiksi informasi antara brosur perusahaan ‘Lentera Bumi’ dengan naskah kuno ‘Serat Kalingga’?
- Brosur menjamin keamanan prosedur pengeboran tanpa risiko, sedangkan naskah kuno memperingatkan tentang bencana besar akibat gangguan terhadap perut bumi.
- Lentera Bumi menekankan pada kemakmuran ekonomi desa, sementara naskah kuno lebih berfokus pada pelestarian ritual adat di lereng gunung.
- Perusahaan mengklaim teknologi mereka ramah lingkungan, namun naskah kuno menyebutkan bahwa aktivitas manusia akan merusak kesucian sumber mata air.
- Brosur menyatakan Gunung Wilis dalam kondisi stabil dan aman, sementara naskah kuno mendeskripsikannya sebagai entitas yang bisa ‘terbangun’ dan bergetar.
- Pihak perusahaan menganggap pengeboran sebagai inovasi energi, sedangkan naskah kuno memandangnya sebagai tindakan yang mengusik ketenangan penjaga gunung.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, D, E
Kontradiksi langsung ditemukan pada aspek keamanan dan kondisi geologis. Opsi A benar karena brosur mengklaim ‘risiko nol’ sementara naskah menyebut ‘bencana’. Opsi D benar karena brosur menyebut ‘stabil’ sementara naskah menyebut ‘bergetar’ (potensi seismik). Opsi E benar karena terdapat pertentangan sudut pandang antara ‘inovasi’ (positif) dan ‘mengusik’ (negatif/gangguan). Opsi B dan C bukan kontradiksi langsung melainkan perbedaan fokus atau tidak disebutkan secara eksplisit sebagai pertentangan fakta dalam stimulus.
Soal No. 20 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Desa Kalingga mendadak riuh ketika sebuah perusahaan energi, ‘Lentera Bumi’, mengumumkan rencana pembangunan pembangkit listrik geothermal di lereng Gunung Wilis. Aris, seorang pemuda desa yang bekerja sebagai humas perusahaan, membagikan brosur mengkilap kepada warga. Di dalam brosur itu tertulis jelas: ‘Teknologi kami menggunakan sistem closed-loop yang menjamin risiko nol terhadap lingkungan. Gunung Wilis secara geologis dinyatakan stabil dan sangat aman untuk eksplorasi energi terbarukan demi kemakmuran ekonomi desa.’ Aris meyakini bahwa ini adalah gerbang menuju modernitas.
Namun, Mira, seorang pustakawan desa, menemukan naskah kuno berjudul ‘Serat Kalingga’ di lemari tua balai desa. Naskah itu menceritakan kejadian ratusan tahun lalu tentang ‘Naga Wilis’ yang murka. Di sana tertulis: ‘Janganlah sekali-kali merobek kulit bumi di puncak dingin, karena sang naga yang tertidur akan menggeliat dan menggetarkan tanah jika ketenangannya terusik. Bencana api akan turun bagi mereka yang rakus akan isi bumi.’ Mira merasa naskah ini bukan sekadar dongeng, melainkan catatan sejarah bencana seismik yang terlupakan.
Ketegangan memuncak saat sebuah laporan resmi dari Dinas Lingkungan Hidup bocor ke publik. Laporan tersebut menyatakan bahwa secara teknis proyek memang layak, namun terdapat risiko penurunan debit air tanah hingga 40% bagi lahan pertanian warga dalam jangka panjang. Aris bersandar pada data teknis perusahaan, Mira berpegang pada peringatan leluhur, sementara laporan pemerintah menyodorkan fakta ekologis yang mengkhawatirkan. Ketiganya menyajikan realitas yang berbeda tentang satu objek yang sama: masa depan Desa Kalingga.
Pertanyaan: Jika Aris dan Mira harus menyatukan ketiga sumber informasi tersebut untuk membuat laporan analisis risiko yang objektif, poin manakah yang wajib dicantumkan?
- Adanya ketidaksesuaian antara klaim kestabilan geologis perusahaan dengan catatan sejarah lokal mengenai aktivitas seismik di masa lalu.
- Risiko penurunan kualitas hidup warga akibat ancaman terhadap ketersediaan air bersih yang divalidasi oleh laporan pemerintah.
- Kepastian bahwa teknologi geothermal merupakan satu-satunya solusi energi yang tidak akan memberikan dampak negatif jangka panjang.
- Perlunya mempertimbangkan nilai-nilai sosiokultural dan peringatan lokal sebagai bagian dari mitigasi bencana non-teknis.
- Rencana pembatalan proyek secara total karena adanya pertentangan mutlak antara sains modern dan kepercayaan tradisional masyarakat.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Sintesis informasi yang objektif harus mencakup semua sudut pandang. Opsi A menyatukan brosur dan naskah kuno (geologi vs sejarah). Opsi B memasukkan fakta dari laporan pemerintah mengenai risiko air. Opsi D menyatukan aspek budaya (naskah kuno) ke dalam manajemen risiko. Opsi C salah karena mengabaikan risiko yang disebutkan laporan pemerintah dan naskah kuno. Opsi E terlalu ekstrem dan tidak mencerminkan sintesis informasi yang konstruktif.
Semoga bermanfaat.(kangjo)
LINK DOWNLOAD:
- Kumpulan 20 Soal Literasi-1 Berita TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-2 Deskripsi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-3 Narasi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
