KANGJO.INFO, Tamiang Layang, Barito Timur. Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan bagian dari kebijakan evaluasi pendidikan yang dirancang untuk mengukur capaian akademik peserta didik secara objektif dan terstandar. Dalam rangka memastikan pelaksanaan yang seragam di seluruh Indonesia, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) menetapkan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Penyelenggaraan TKA.
Artikel ini secara khusus membahas implementasi juknis tersebut untuk jenjang SMA/SMK/sederajat, sebagai panduan bagi sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan dan contoh soal beserta jawabannya.
Dasar Hukum
Keputusan ini disusun berdasarkan:
- Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
- Kebijakan Merdeka Belajar
- Peraturan Menteri Pendidikan terkait asesmen nasional
- Standar nasional pendidikan terbaru
Juknis ini menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan TKA tahun 2025 dan seterusnya.
Tujuan Penyelenggaraan TKA
TKA untuk SMA/SMK/sederajat bertujuan untuk:
- Mengukur capaian akademik peserta didik secara komprehensif
- Menyediakan data untuk perbaikan mutu pendidikan
- Mendukung seleksi masuk jenjang pendidikan lebih tinggi
- Mendorong pembelajaran berbasis kompetensi
Ruang Lingkup TKA SMA/SMK
TKA pada jenjang ini mencakup:
1. Materi yang Diujikan
- Literasi: kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi teks
- Numerasi: kemampuan berpikir matematis dalam konteks nyata
- Penalaran: kemampuan berpikir kritis dan logis
- Substansi mata pelajaran tertentu (sesuai jurusan di SMA/SMK)
2. Bentuk Soal
- Pilihan ganda
- Pilihan ganda kompleks
- Isian singkat
- Uraian terbatas
Soal dirancang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Peserta TKA
Peserta TKA meliputi:
- Siswa kelas akhir SMA/MA
- Siswa kelas akhir SMK/MAK
- Peserta didik pada jalur pendidikan kesetaraan (Paket C)
Mekanisme Pelaksanaan
1. Moda Pelaksanaan
- Berbasis komputer (CBT) sebagai moda utama
- Dapat menggunakan moda semi-online atau offline terbatas jika diperlukan
2. Jadwal Pelaksanaan
- Dilaksanakan sesuai kalender yang ditetapkan oleh BSKAP
- Bersifat nasional dan serentak (dengan penyesuaian teknis daerah)
3. Tahapan Pelaksanaan
- Persiapan
- Pendataan peserta
- Penyiapan sarana prasarana
- Pelatihan proktor dan pengawas
- Pelaksanaan
- Ujian sesuai jadwal
- Pengawasan ketat berbasis sistem
- Pengolahan Hasil
- Sistem terpusat
- Analisis capaian peserta didik
- Pelaporan
- Disampaikan kepada sekolah, peserta, dan pemangku kebijakan
Peran Sekolah dan Guru
Sekolah
- Menyiapkan infrastruktur TKA
- Menjamin kejujuran dan kelancaran pelaksanaan
- Mengelola administrasi peserta
Guru
- Membimbing siswa dalam persiapan TKA
- Mengintegrasikan literasi dan numerasi dalam pembelajaran
- Menganalisis hasil TKA untuk perbaikan pembelajaran
Prinsip Penyelenggaraan TKA
TKA dilaksanakan dengan prinsip:
- Objektif
- Transparan
- Akuntabel
- Adil dan inklusif
Pemanfaatan Hasil TKA
Hasil TKA digunakan untuk:
- Evaluasi capaian belajar siswa
- Pemetaan mutu pendidikan
- Pertimbangan seleksi masuk perguruan tinggi
- Dasar perbaikan kurikulum dan pembelajaran
Keputusan Kepala BSKAP Nomor 059/H/M/2025 memberikan panduan komprehensif dalam penyelenggaraan TKA, khususnya untuk jenjang SMA/SMK/sederajat. Dengan pelaksanaan yang terarah dan sesuai juknis, diharapkan TKA dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Latihan Soal Lieterasi-2 Deskripsi TKA SMA/SMK 2026
Subject: Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut | Topic: Analisis Retorika dan Strategi Persuasi dalam Teks Opini
Soal No. 1 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Gema di Balik Narasi: Deskripsi Analitis Artikel ‘Masa Depan Hijau’
Teks ini mendeskripsikan secara mendalam struktur retoris dalam artikel opini berjudul ‘Masa Depan Hijau’ karya Dr. Aris Sanjaya. Di bagian pembuka, pembaca disuguhi deskripsi tentang penggunaan metafora ‘paru-paru yang tersedak’ untuk menggambarkan kondisi hutan saat ini, sebuah strategi pathos yang kuat untuk menggugah emosi pembaca. Berlanjut ke bagian inti, Aris menyajikan data statistik emisi karbon selama satu dekade terakhir dengan presisi tinggi—sebuah manifestasi logos yang tak terbantahkan. Pilihan kata (diksi) yang digunakan bersifat konotatif namun tetap elegan, seperti penggunaan kata ‘kerakusan’ untuk menggantikan ‘konsumsi berlebih’. Dr. Aris juga membangun ethos melalui penyebutan pengalamannya selama dua puluh tahun sebagai peneliti lingkungan di Kutub Utara. Di akhir deskripsi, terlihat bahwa strategi persuasif yang dominan adalah pengulangan retoris (anafora) pada kalimat ‘Kita harus bertindak’ untuk memberikan penekanan urgensi.
Pertanyaan: Berdasarkan deskripsi artikel “Masa Depan Hijau”, manakah pernyataan yang menunjukkan penerapan elemen retorika oleh penulis?
- Penggunaan metafora “paru-paru yang tersedak” untuk menggugah emosi.
- Penyajian data statistik emisi karbon selama sepuluh tahun terakhir.
- Penyebutan pengalaman dua puluh tahun sebagai peneliti lingkungan.
- Penggunaan diksi “kerakusan” untuk memberikan kesan objektif dan ilmiah.
- Penggunaan anafora pada kalimat penutup untuk melemahkan argumen lawan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Dalam teks deskripsi tersebut, elemen retorika yang disebutkan mencakup: (1) Pathos, melalui metafora emosional ‘paru-paru yang tersedak’ (Opsi A); (2) Logos, melalui sajian data statistik emisi karbon (Opsi B); dan (3) Ethos, melalui kredibilitas penulis sebagai peneliti selama 20 tahun (Opsi C). Opsi D salah karena diksi ‘kerakusan’ bersifat emosional/konotatif, bukan objektif/ilmiah. Opsi E salah karena anafora digunakan untuk menekankan urgensi, bukan melemahkan argumen lawan.
Soal No. 2 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Gema di Balik Narasi: Deskripsi Analitis Artikel ‘Masa Depan Hijau’
Teks ini mendeskripsikan secara mendalam struktur retoris dalam artikel opini berjudul ‘Masa Depan Hijau’ karya Dr. Aris Sanjaya. Di bagian pembuka, pembaca disuguhi deskripsi tentang penggunaan metafora ‘paru-paru yang tersedak’ untuk menggambarkan kondisi hutan saat ini, sebuah strategi pathos yang kuat untuk menggugah emosi pembaca. Berlanjut ke bagian inti, Aris menyajikan data statistik emisi karbon selama satu dekade terakhir dengan presisi tinggi—sebuah manifestasi logos yang tak terbantahkan. Pilihan kata (diksi) yang digunakan bersifat konotatif namun tetap elegan, seperti penggunaan kata ‘kerakusan’ untuk menggantikan ‘konsumsi berlebih’. Dr. Aris juga membangun ethos melalui penyebutan pengalamannya selama dua puluh tahun sebagai peneliti lingkungan di Kutub Utara. Di akhir deskripsi, terlihat bahwa strategi persuasif yang dominan adalah pengulangan retoris (anafora) pada kalimat ‘Kita harus bertindak’ untuk memberikan penekanan urgensi.
Pertanyaan: Strategi kebahasaan apa saja yang digunakan oleh Dr. Aris Sanjaya dalam teks opini tersebut untuk memengaruhi pembaca?
- Menggunakan majas metafora untuk menciptakan citraan visual yang dramatis.
- Memilih kata-kata bernada konotatif untuk memberikan penekanan moral.
- Menerapkan teknik repetisi pada bagian penutup untuk memperkuat pesan utama.
- Menghindari data kuantitatif agar pembaca tidak merasa jenuh dengan angka.
- Menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu untuk menjaga netralitas.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Strategi kebahasaan yang teridentifikasi dalam teks adalah: (1) Metafora ‘paru-paru yang tersedak’ (Opsi A); (2) Diksi konotatif seperti ‘kerakusan’ untuk penekanan moral (Opsi B); dan (3) Repetisi atau anafora ‘Kita harus bertindak’ untuk memperkuat pesan (Opsi C). Opsi D bertentangan dengan teks yang menyebutkan adanya data statistik. Opsi E tidak relevan karena teks opini cenderung menggunakan sudut pandang penulis yang subjektif-persuasif, bukan netral serba tahu.
Soal No. 3 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Gema di Balik Narasi: Deskripsi Analitis Artikel ‘Masa Depan Hijau’
Teks ini mendeskripsikan secara mendalam struktur retoris dalam artikel opini berjudul ‘Masa Depan Hijau’ karya Dr. Aris Sanjaya. Di bagian pembuka, pembaca disuguhi deskripsi tentang penggunaan metafora ‘paru-paru yang tersedak’ untuk menggambarkan kondisi hutan saat ini, sebuah strategi pathos yang kuat untuk menggugah emosi pembaca. Berlanjut ke bagian inti, Aris menyajikan data statistik emisi karbon selama satu dekade terakhir dengan presisi tinggi—sebuah manifestasi logos yang tak terbantahkan. Pilihan kata (diksi) yang digunakan bersifat konotatif namun tetap elegan, seperti penggunaan kata ‘kerakusan’ untuk menggantikan ‘konsumsi berlebih’. Dr. Aris juga membangun ethos melalui penyebutan pengalamannya selama dua puluh tahun sebagai peneliti lingkungan di Kutub Utara. Di akhir deskripsi, terlihat bahwa strategi persuasif yang dominan adalah pengulangan retoris (anafora) pada kalimat ‘Kita harus bertindak’ untuk memberikan penekanan urgensi.
Pertanyaan: Dalam deskripsi tersebut, manakah tujuan yang tepat dari penggunaan diksi konotatif dan pengulangan retoris?
- Diksi konotatif berfungsi memberikan bobot nilai pada fenomena yang dibahas.
- Pengulangan retoris bertujuan untuk menanamkan urgensi di benak khalayak.
- Diksi konotatif digunakan untuk menyamarkan fakta-fakta ilmiah yang rumit.
- Pengulangan retoris berfungsi sebagai penghubung antarparagraf yang transisional.
- Keduanya merupakan bagian dari strategi persuasi untuk menggerakkan aksi pembaca.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, E
Diksi konotatif seperti ‘kerakusan’ memberikan penilaian moral atau bobot nilai terhadap perilaku konsumsi (Opsi A). Pengulangan retoris (anafora) pada kalimat ‘Kita harus bertindak’ bertujuan menciptakan rasa urgensi (Opsi B). Secara kolektif, kedua strategi ini memang dirancang untuk persuasi dan memobilisasi pembaca (Opsi E). Opsi C salah karena konotasi bukan untuk menyamarkan fakta, dan Opsi D salah karena anafora berfungsi untuk penekanan, bukan sekadar transisi paragraf.
Soal No. 4 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kolom ‘Gema Publik’ bukan sekadar ruang opini biasa; ia adalah sebuah lanskap retorika yang dibangun dengan ketelitian seorang arsitek. Secara visual, kolom ini didominasi oleh tipografi yang tegas, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan bagi siapa pun yang memandangnya. Di dalamnya, penulis merangkai diksi dengan sangat selektif, menggunakan metafora ‘pedang bermata dua’ untuk melukiskan ambiguitas kebijakan publik yang tengah hangat diperbincangkan. Alur pikirnya menyerupai ‘jembatan premis’ yang menghubungkan fakta-fakta empiris dengan konklusi yang tak terelakkan, nyaris tanpa celah bagi keraguan. Deskripsi tentang pemukiman kumuh di bantaran sungai disajikan dengan detail sensoris yang tajam—bau apak sampah yang menyengat dan warna air yang menghitam—membangun suasana melankolis yang seketika menggugah empati pembaca. Seluruh paragraf dijalin dengan struktur deduktif yang sistematis, menjadikan keseluruhan argumennya terasa seperti bangunan logika yang kedap air terhadap segala bentuk sanggahan.
Pertanyaan: Berdasarkan teks deskripsi tersebut, manakah di antara pernyataan berikut yang merupakan bentuk strategi retorika yang digunakan penulis kolom ‘Gema Publik’?
- Penggunaan metafora yang tajam dan provokatif untuk melukiskan kebijakan.
- Penyajian data statistik yang melimpah secara berulang di setiap paragraf.
- Pemanfaatan jembatan premis yang saling bertautan antarfakta.
- Penggunaan kalimat tanya retoris yang mendominasi seluruh bagian teks.
- Penempatan tajuk berita yang menggunakan kalimat perintah atau imperatif.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C
Strategi retorika yang disebutkan dalam teks deskripsi meliputi penggunaan metafora ‘pedang bermata dua’ (opsi A) dan penggunaan ‘jembatan premis’ yang menghubungkan fakta dengan konklusi (opsi C). Opsi B, D, dan E tidak disebutkan dalam deskripsi tersebut.
Soal No. 5 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kolom ‘Gema Publik’ bukan sekadar ruang opini biasa; ia adalah sebuah lanskap retorika yang dibangun dengan ketelitian seorang arsitek. Secara visual, kolom ini didominasi oleh tipografi yang tegas, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan bagi siapa pun yang memandangnya. Di dalamnya, penulis merangkai diksi dengan sangat selektif, menggunakan metafora ‘pedang bermata dua’ untuk melukiskan ambiguitas kebijakan publik yang tengah hangat diperbincangkan. Alur pikirnya menyerupai ‘jembatan premis’ yang menghubungkan fakta-fakta empiris dengan konklusi yang tak terelakkan, nyaris tanpa celah bagi keraguan. Deskripsi tentang pemukiman kumuh di bantaran sungai disajikan dengan detail sensoris yang tajam—bau apak sampah yang menyengat dan warna air yang menghitam—membangun suasana melankolis yang seketika menggugah empati pembaca. Seluruh paragraf dijalin dengan struktur deduktif yang sistematis, menjadikan keseluruhan argumennya terasa seperti bangunan logika yang kedap air terhadap segala bentuk sanggahan.
Pertanyaan: Simak kembali rincian deskripsi pada teks. Strategi persuasi yang menonjolkan aspek emosional (pathos) dalam kolom tersebut ditunjukkan oleh ….
- detail sensoris tentang kondisi pemukiman yang memprihatinkan
- struktur deduktif yang sistematis dalam setiap paragraf
- penciptaan suasana melankolis yang menggugah empati pembaca
- penggunaan tipografi yang memberikan kesan otoritas tinggi
- pembangkitan perasaan iba melalui gambaran visual yang tajam
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Aspek pathos (emosional) dalam teks ditunjukkan melalui detail sensoris (bau apak, air hitam) yang membangun suasana melankolis dan menggugah empati serta perasaan iba pembaca (opsi A, C, dan E). Opsi B berkaitan dengan logos, sedangkan opsi D berkaitan dengan ethos.
Soal No. 6 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kolom ‘Gema Publik’ bukan sekadar ruang opini biasa; ia adalah sebuah lanskap retorika yang dibangun dengan ketelitian seorang arsitek. Secara visual, kolom ini didominasi oleh tipografi yang tegas, memberikan kesan otoritas yang tak tergoyahkan bagi siapa pun yang memandangnya. Di dalamnya, penulis merangkai diksi dengan sangat selektif, menggunakan metafora ‘pedang bermata dua’ untuk melukiskan ambiguitas kebijakan publik yang tengah hangat diperbincangkan. Alur pikirnya menyerupai ‘jembatan premis’ yang menghubungkan fakta-fakta empiris dengan konklusi yang tak terelakkan, nyaris tanpa celah bagi keraguan. Deskripsi tentang pemukiman kumuh di bantaran sungai disajikan dengan detail sensoris yang tajam—bau apak sampah yang menyengat dan warna air yang menghitam—membangun suasana melankolis yang seketika menggugah empati pembaca. Seluruh paragraf dijalin dengan struktur deduktif yang sistematis, menjadikan keseluruhan argumennya terasa seperti bangunan logika yang kedap air terhadap segala bentuk sanggahan.
Pertanyaan: Unsur-unsur apa sajakah yang mendeskripsikan kekuatan logika (logos) dalam struktur penulisan di kolom ‘Gema Publik’?
- Rangkaian argumen yang disusun secara deduktif dan presisi.
- Penggunaan citraan visual untuk menggambarkan penderitaan rakyat.
- Keterhubungan yang logis antara fakta empiris dan konklusi.
- Deskripsi tentang suasana kebatinan penulis yang sangat mendalam.
- Integrasi data lapangan ke dalam bangunan penalaran yang utuh.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Kekuatan logika (logos) dalam deskripsi tersebut ditunjukkan melalui penyusunan argumen secara deduktif (opsi A), hubungan antara fakta dan konklusi (opsi C), serta integrasi data ke dalam penalaran (opsi E). Opsi B dan D lebih merujuk pada aspek emosional atau gaya bahasa.
Soal No. 7 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks berikut mendeskripsikan sebuah artikel opini berjudul “Lentera di Tengah Kabut” yang dimuat di harian nasional terkemuka. Artikel tersebut memiliki tampilan visual yang mencolok dengan judul menggunakan font serif tebal berwarna merah marun yang memberikan kesan formal sekaligus mendesak. Paragraf pembukanya secara rinci menggambarkan suasana kota yang tercekik polusi dengan diksi-diksi melankolis seperti “napas yang terpenggal” dan “langit yang kehilangan biru”. Penulisnya, seorang aktivis lingkungan ternama, menggunakan teknik metafora yang kuat, membandingkan kebijakan pemerintah saat ini dengan “payung bocor di tengah badai”. Sepanjang teks, pembaca disuguhi data statistik emisi yang disisipkan secara halus di antara kalimat-kalimat yang menggugah emosi (pathos). Argumen logis (logos) dibangun melalui perbandingan data emisi dekade lalu dengan kondisi terkini, sementara kredibilitas penulis (ethos) ditegaskan melalui catatan kaki yang merujuk pada berbagai riset internasional yang dipimpinnya secara langsung. Kalimat penutupnya dirancang pendek namun menghunjam, menggunakan teknik repetisi kata “berhenti” untuk memberikan efek urgensi yang membekas bagi pembaca.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus tersebut, strategi retoris apa saja yang digunakan oleh penulis artikel opini “Lentera di Tengah Kabut” untuk memengaruhi pembaca?
- Pathos melalui penggunaan diksi melankolis yang menggambarkan kondisi lingkungan.
- Logos melalui penyajian data statistik emisi yang dibandingkan antar-dekade.
- Ethos melalui pencantuman kredibilitas penulis dalam bidang riset internasional.
- Kairos melalui penekanan pada momentum pemilihan umum yang sedang berlangsung.
- Telos melalui penggunaan jenis huruf serif dan warna merah marun pada judul.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Dalam teks dijelaskan bahwa penulis menggunakan diksi melankolis (pathos), data statistik emisi (logos), dan rujukan pada riset internasional yang dipimpinnya (ethos). Pilihan D salah karena momentum waktu tidak disebutkan, dan pilihan E salah karena elemen visual judul bukan bagian dari retorika telos (tujuan akhir).
Soal No. 8 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks berikut mendeskripsikan sebuah artikel opini berjudul “Lentera di Tengah Kabut” yang dimuat di harian nasional terkemuka. Artikel tersebut memiliki tampilan visual yang mencolok dengan judul menggunakan font serif tebal berwarna merah marun yang memberikan kesan formal sekaligus mendesak. Paragraf pembukanya secara rinci menggambarkan suasana kota yang tercekik polusi dengan diksi-diksi melankolis seperti “napas yang terpenggal” dan “langit yang kehilangan biru”. Penulisnya, seorang aktivis lingkungan ternama, menggunakan teknik metafora yang kuat, membandingkan kebijakan pemerintah saat ini dengan “payung bocor di tengah badai”. Sepanjang teks, pembaca disuguhi data statistik emisi yang disisipkan secara halus di antara kalimat-kalimat yang menggugah emosi (pathos). Argumen logis (logos) dibangun melalui perbandingan data emisi dekade lalu dengan kondisi terkini, sementara kredibilitas penulis (ethos) ditegaskan melalui catatan kaki yang merujuk pada berbagai riset internasional yang dipimpinnya secara langsung. Kalimat penutupnya dirancang pendek namun menghunjam, menggunakan teknik repetisi kata “berhenti” untuk memberikan efek urgensi yang membekas bagi pembaca.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang menunjukkan penggunaan gaya bahasa dan pilihan kata yang tepat sesuai dengan isi teks deskripsi tersebut?
- Metafora digunakan pada frasa “payung bocor di tengah badai” untuk mengkritik kebijakan.
- Personifikasi tampak pada penggambaran suasana melalui frasa “langit yang kehilangan biru”.
- Repetisi kata “berhenti” pada bagian penutup digunakan untuk menciptakan efek urgensi.
- Hiperbola digunakan secara dominan dalam penyajian data statistik mengenai emisi karbon.
- Alusi digunakan dengan merujuk pada tokoh-tokoh sejarah yang peduli terhadap lingkungan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Teks secara eksplisit menyebutkan metafora “payung bocor”, penggambaran langit (personifikasi), dan repetisi kata “berhenti”. Pilihan D salah karena data statistik disajikan secara halus, bukan hiperbolis. Pilihan E salah karena tidak ada penyebutan tokoh sejarah dalam teks.
Soal No. 9 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks berikut mendeskripsikan sebuah artikel opini berjudul “Lentera di Tengah Kabut” yang dimuat di harian nasional terkemuka. Artikel tersebut memiliki tampilan visual yang mencolok dengan judul menggunakan font serif tebal berwarna merah marun yang memberikan kesan formal sekaligus mendesak. Paragraf pembukanya secara rinci menggambarkan suasana kota yang tercekik polusi dengan diksi-diksi melankolis seperti “napas yang terpenggal” dan “langit yang kehilangan biru”. Penulisnya, seorang aktivis lingkungan ternama, menggunakan teknik metafora yang kuat, membandingkan kebijakan pemerintah saat ini dengan “payung bocor di tengah badai”. Sepanjang teks, pembaca disuguhi data statistik emisi yang disisipkan secara halus di antara kalimat-kalimat yang menggugah emosi (pathos). Argumen logis (logos) dibangun melalui perbandingan data emisi dekade lalu dengan kondisi terkini, sementara kredibilitas penulis (ethos) ditegaskan melalui catatan kaki yang merujuk pada berbagai riset internasional yang dipimpinnya secara langsung. Kalimat penutupnya dirancang pendek namun menghunjam, menggunakan teknik repetisi kata “berhenti” untuk memberikan efek urgensi yang membekas bagi pembaca.
Pertanyaan: Strategi persuasi yang diterapkan penulis untuk memperkuat pesan dalam artikel opini tersebut mencakup ….
- penciptaan atmosfer emosional yang kuat melalui diksi-diksi yang menyentuh perasaan
- penguatan argumen logis dengan mengintegrasikan data riset ke dalam narasi
- pemanfaatan struktur kalimat pendek di akhir teks untuk memberikan kesan mendalam
- penggunaan istilah-istilah teknis yang rumit untuk membingungkan logika pembaca
- penyajian opini tanpa dukungan bukti agar pembaca fokus pada gaya bahasa penulis
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Penulis menggunakan diksi emosional (A), data riset (B), dan kalimat penutup pendek yang menghunjam (C) sebagai strategi persuasi. Pilihan D salah karena tujuannya bukan membingungkan, dan pilihan E salah karena teks justru menyebutkan adanya data statistik dan riset.
Soal No. 10 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul “Wajah Urbanisasi: Antara Harapan dan Realitas” merupakan sebuah karya jurnalistik yang kaya akan strategi retorika. Teks ini secara detail mendeskripsikan kondisi kota besar sebagai “labirin tak bertepi”, sebuah metafora yang secara emosional (pathos) menyentuh kebingungan batin masyarakat kelas bawah. Penulis tidak hanya bermain dengan perasaan; ia membangun kredibilitas (ethos) yang kokoh dengan menyitir hasil penelitian terbaru dari lembaga riset tata kota serta membagikan pengalamannya selama satu dekade sebagai pengamat sosial. Kekuatan argumennya juga didukung oleh data statistik dan grafik pertumbuhan penduduk yang sangat logis (logos), menciptakan korelasi yang jelas antara kepadatan hunian dengan penurunan kualitas hidup. Penulis menggunakan struktur argumen deduktif, dimulai dari kebijakan makro pemerintah hingga dampaknya pada narasi personal seorang ibu tunggal di pinggiran kota. Melalui diksi yang tajam namun empatik, teks ini berhasil mengajak pembaca tidak hanya memahami data, tetapi juga merasakan denyut kegelisahan di balik beton-beton gedung pencakar langit.
Pertanyaan: Manakah di antara pernyataan berikut yang merupakan bentuk strategi persuasi emosional (pathos) yang digambarkan dalam deskripsi teks opini tersebut?
- Penggunaan metafora “labirin tak bertepi” untuk menggambarkan kebingungan masyarakat urban.
- Penyajian data statistik mengenai tingkat kemiskinan di wilayah pinggiran kota.
- Pemilihan diksi yang menggugah empati pembaca terhadap nasib pekerja sektor informal.
- Penyebutan nama-nama pakar sosiologi untuk memperkuat dasar pemikiran penulis.
- Narasi tentang perjuangan seorang ibu tunggal di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Pathos adalah strategi persuasi yang menyasar emosi pembaca. Dalam stimulus, metafora “labirin tak bertepi” (A), diksi yang menggugah empati (C), dan narasi perjuangan personal (E) merupakan elemen yang dirancang untuk membangun kedekatan emosional dan perasaan pembaca, bukan sekadar logika atau kredibilitas.
Soal No. 11 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul “Wajah Urbanisasi: Antara Harapan dan Realitas” merupakan sebuah karya jurnalistik yang kaya akan strategi retorika. Teks ini secara detail mendeskripsikan kondisi kota besar sebagai “labirin tak bertepi”, sebuah metafora yang secara emosional (pathos) menyentuh kebingungan batin masyarakat kelas bawah. Penulis tidak hanya bermain dengan perasaan; ia membangun kredibilitas (ethos) yang kokoh dengan menyitir hasil penelitian terbaru dari lembaga riset tata kota serta membagikan pengalamannya selama satu dekade sebagai pengamat sosial. Kekuatan argumennya juga didukung oleh data statistik dan grafik pertumbuhan penduduk yang sangat logis (logos), menciptakan korelasi yang jelas antara kepadatan hunian dengan penurunan kualitas hidup. Penulis menggunakan struktur argumen deduktif, dimulai dari kebijakan makro pemerintah hingga dampaknya pada narasi personal seorang ibu tunggal di pinggiran kota. Melalui diksi yang tajam namun empatik, teks ini berhasil mengajak pembaca tidak hanya memahami data, tetapi juga merasakan denyut kegelisahan di balik beton-beton gedung pencakar langit.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus, strategi retoris apa saja yang digunakan penulis opini untuk membangun kredibilitas (ethos) argumennya?
- Menyitir hasil penelitian terbaru dari lembaga riset tata kota yang kredibel.
- Menggunakan gaya bahasa hiperbolis untuk menarik perhatian massa secara instan.
- Menunjukkan pengalaman lapangan penulis selama sepuluh tahun sebagai pengamat sosial.
- Menyajikan kutipan langsung dari pernyataan pejabat publik terkait kebijakan urbanisasi.
- Mengandalkan perasaan subjektif penulis dalam menilai keindahan tata ruang kota.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Ethos berkaitan dengan kredibilitas dan otoritas penulis. Penggunaan hasil penelitian (A), pengalaman lapangan yang lama (C), dan kutipan dari otoritas/pejabat publik (D) adalah cara-cara yang disebutkan dalam stimulus untuk meyakinkan pembaca bahwa penulis memiliki pengetahuan dan posisi yang layak dipercaya.
Soal No. 12 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul “Wajah Urbanisasi: Antara Harapan dan Realitas” merupakan sebuah karya jurnalistik yang kaya akan strategi retorika. Teks ini secara detail mendeskripsikan kondisi kota besar sebagai “labirin tak bertepi”, sebuah metafora yang secara emosional (pathos) menyentuh kebingungan batin masyarakat kelas bawah. Penulis tidak hanya bermain dengan perasaan; ia membangun kredibilitas (ethos) yang kokoh dengan menyitir hasil penelitian terbaru dari lembaga riset tata kota serta membagikan pengalamannya selama satu dekade sebagai pengamat sosial. Kekuatan argumennya juga didukung oleh data statistik dan grafik pertumbuhan penduduk yang sangat logis (logos), menciptakan korelasi yang jelas antara kepadatan hunian dengan penurunan kualitas hidup. Penulis menggunakan struktur argumen deduktif, dimulai dari kebijakan makro pemerintah hingga dampaknya pada narasi personal seorang ibu tunggal di pinggiran kota. Melalui diksi yang tajam namun empatik, teks ini berhasil mengajak pembaca tidak hanya memahami data, tetapi juga merasakan denyut kegelisahan di balik beton-beton gedung pencakar langit.
Pertanyaan: Deskripsi dalam stimulus tersebut menunjukkan bahwa teks opini yang dianalisis memiliki karakteristik argumentasi logis (logos) melalui ….
- penjabaran korelasi antara pertumbuhan penduduk dan penurunan kualitas lingkungan
- penggunaan rima dan irama kalimat yang sangat indah pada bagian penutup
- pemberian ilustrasi grafis yang membandingkan anggaran kota dari tahun ke tahun
- penyusunan struktur argumen deduktif yang runtut mulai dari premis umum
- pemanfaatan kata-kata sifat yang sangat subjektif untuk memuji pemerintah
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, D
Logos menekankan pada logika dan bukti nyata. Korelasi sebab-akibat (A), data perbandingan anggaran dalam bentuk grafis (C), dan struktur argumen deduktif yang logis (D) merupakan manifestasi dari strategi logos yang dijelaskan dalam stimulus untuk memperkuat nalar pembaca.
Soal No. 13 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul ‘Gema Hijau di Tengah Beton’ karya Arisandi menampilkan lansekap retorika yang kaya. Penulis membuka tulisan dengan deskripsi tajam mengenai ‘langit yang terbatuk-batuk oleh asap hitam’, sebuah personifikasi yang memukul indra pembaca. Diksi yang dipilih sangat provokatif, memadukan metafora ‘hutan baja’ dengan ‘paru-paru yang tersumbat’ untuk menggambarkan kondisi kota saat ini. Aliran kalimatnya berirama cepat, menggunakan gaya asindenton—peniadaan kata penghubung dalam urutan frasa—untuk menciptakan kesan sesak, padat, dan mendesak. Di bagian tengah, Arisandi menyisipkan pengalamannya selama dua dekade merancang ruang terbuka hijau, yang dipadukan dengan data dari studi lingkungan global untuk memperkokoh argumennya. Penutup teks tersebut merupakan sebuah klimaks retoris yang menggugah kesadaran moral melalui pengulangan kata ‘warisan’ secara puitis dan tegas, mengajak pembaca merenungkan apa yang akan ditinggalkan untuk generasi mendatang.
Pertanyaan: Berdasarkan deskripsi teks tersebut, manakah pernyataan yang benar mengenai penggunaan gaya bahasa retoris dalam artikel ‘Gema Hijau di Tengah Beton’?
- Penggunaan personifikasi pada frasa ‘langit yang terbatuk-batuk’ memberikan efek dramatis pada masalah polusi.
- Penulis menggunakan gaya bahasa hiperbola secara dominan untuk menakut-nakuti pembaca mengenai masa depan kota.
- Metafora ‘hutan baja’ digunakan untuk mendeskripsikan kepadatan bangunan gedung dengan kesan yang dingin dan kaku.
- Gaya asindenton dalam struktur kalimat bertujuan menciptakan kesan suasana yang tenang dan kontemplatif bagi pembaca.
- Aliran kalimat yang berirama cepat dimaksudkan untuk membangun rasa urgensi dan kesesakan terkait kondisi lingkungan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, C, E
Pernyataan A benar karena teks menyebutkan penggunaan personifikasi ‘langit yang terbatuk-batuk’. Pernyataan C benar karena teks menggunakan metafora ‘hutan baja’ untuk menggambarkan beton/bangunan. Pernyataan E benar karena teks menyebutkan gaya asindenton dan irama cepat untuk menciptakan kesan sesak dan mendesak. Pernyataan B salah karena stimulus tidak menyebutkan dominasi hiperbola. Pernyataan D salah karena asindenton dalam konteks ini justru menciptakan kesan mendesak, bukan tenang.
Soal No. 14 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul ‘Gema Hijau di Tengah Beton’ karya Arisandi menampilkan lansekap retorika yang kaya. Penulis membuka tulisan dengan deskripsi tajam mengenai ‘langit yang terbatuk-batuk oleh asap hitam’, sebuah personifikasi yang memukul indra pembaca. Diksi yang dipilih sangat provokatif, memadukan metafora ‘hutan baja’ dengan ‘paru-paru yang tersumbat’ untuk menggambarkan kondisi kota saat ini. Aliran kalimatnya berirama cepat, menggunakan gaya asindenton—peniadaan kata penghubung dalam urutan frasa—untuk menciptakan kesan sesak, padat, dan mendesak. Di bagian tengah, Arisandi menyisipkan pengalamannya selama dua dekade merancang ruang terbuka hijau, yang dipadukan dengan data dari studi lingkungan global untuk memperkokoh argumennya. Penutup teks tersebut merupakan sebuah klimaks retoris yang menggugah kesadaran moral melalui pengulangan kata ‘warisan’ secara puitis dan tegas, mengajak pembaca merenungkan apa yang akan ditinggalkan untuk generasi mendatang.
Pertanyaan: Strategi persuasi yang digunakan oleh penulis untuk memengaruhi emosi serta kesadaran pembaca sebagaimana digambarkan dalam stimulus adalah ….
- pemanfaatan diksi yang memicu empati melalui analogi ‘paru-paru yang tersumbat’
- penggunaan teknik repetisi pada kata ‘warisan’ di bagian akhir untuk menyentuh sisi moralitas
- penyajian argumen yang bersifat menyerang pihak tertentu secara langsung tanpa tedeng aling-aling
- penciptaan klimaks retoris yang menggabungkan keindahan bahasa dengan ketegasan pesan
- penerapan gaya bahasa yang sangat formal dan kaku agar pembaca merasa segan terhadap penulis
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: a, b, d
Opsi a benar karena teks menggunakan analogi ‘paru-paru yang tersumbat’ sebagai persuasi emosional. Opsi b benar karena teks menyebutkan pengulangan kata ‘warisan’ di bagian penutup untuk menggugah moral. Opsi d benar karena teks menyebutkan bagian penutup sebagai klimaks retoris yang puitis dan tegas. Opsi c dan e salah karena tidak sesuai dengan deskripsi gaya bahasa yang digunakan penulis dalam stimulus.
Soal No. 15 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul ‘Gema Hijau di Tengah Beton’ karya Arisandi menampilkan lansekap retorika yang kaya. Penulis membuka tulisan dengan deskripsi tajam mengenai ‘langit yang terbatuk-batuk oleh asap hitam’, sebuah personifikasi yang memukul indra pembaca. Diksi yang dipilih sangat provokatif, memadukan metafora ‘hutan baja’ dengan ‘paru-paru yang tersumbat’ untuk menggambarkan kondisi kota saat ini. Aliran kalimatnya berirama cepat, menggunakan gaya asindenton—peniadaan kata penghubung dalam urutan frasa—untuk menciptakan kesan sesak, padat, dan mendesak. Di bagian tengah, Arisandi menyisipkan pengalamannya selama dua dekade merancang ruang terbuka hijau, yang dipadukan dengan data dari studi lingkungan global untuk memperkokoh argumennya. Penutup teks tersebut merupakan sebuah klimaks retoris yang menggugah kesadaran moral melalui pengulangan kata ‘warisan’ secara puitis dan tegas, mengajak pembaca merenungkan apa yang akan ditinggalkan untuk generasi mendatang.
Pertanyaan: Jika dianalisis dari aspek retorika, elemen mana saja yang memperkuat kredibilitas (ethos) Arisandi dalam tulisan tersebut?
- Pencantuman pengalaman profesional selama dua dekade sebagai perancang ruang terbuka hijau.
- Penggunaan data pendukung yang bersumber dari studi lingkungan berskala global.
- Penyampaian opini yang didasarkan sepenuhnya pada perasaan subjektif tanpa fakta lapangan.
- Integrasi antara pengalaman praktis di lapangan dengan landasan teoretis yang kuat.
- Penggunaan kata-kata kasar untuk menunjukkan kemarahan penulis terhadap perusak lingkungan.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Kredibilitas (ethos) dibangun melalui keahlian dan data. Opsi A (pengalaman 20 tahun) dan B (data studi global) secara eksplisit disebutkan dalam stimulus sebagai penguat argumen. Opsi D merupakan simpulan logis dari penggabungan pengalaman dan data tersebut. Opsi C bertentangan dengan isi teks, dan opsi E tidak disebutkan serta tidak mendukung pembentukan ethos yang baik.
Soal No. 16 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
“Lentera di Balik Kabut Digital” merupakan sebuah esai opini monumental karya sosiolog terkemuka, Dr. Arisetyo. Esai ini dibuka dengan deskripsi melankolis mengenai keterasingan manusia modern di tengah hiruk-pikuk jagat maya, menggunakan metafora kuat berupa ‘ruang gema yang kedap’. Dr. Arisetyo membangun otoritas intelektualnya melalui penyajian data statistik penggunaan gawai yang akurat, namun ia membungkus angka-angka dingin tersebut dalam narasi personal yang menyentuh empati pembaca. Secara teknis, tulisan ini menggunakan kalimat-kalimat pendek yang tajam, menciptakan ritme pembacaan yang dinamis dan mendesak. Penulis tidak sekadar melontarkan kritik tajam, tetapi juga melukiskan secercah harapan melalui deskripsi detail tentang kehangatan komunitas luring yang nyata. Esai ini diakhiri dengan seruan aksi yang retoris; ia tidak mendikte atau menggurui, melainkan mengajak pembaca untuk berdiri diam sejenak dan merenung di hadapan cermin realitas digital mereka sendiri.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang mencerminkan strategi retorika Dr. Arisetyo dalam esai “Lentera di Balik Kabut Digital” berdasarkan teks tersebut?
- Penggunaan metafora untuk menggambarkan kondisi isolasi sosial.
- Pemanfaatan data statistik sebagai landasan logika (logos).
- Pembangunan kredibilitas penulis melalui otoritas keahlian (ethos).
- Penggunaan nada otoriter dalam menyampaikan setiap instruksi.
- Penyajian narasi yang mampu menggugah perasaan pembaca (pathos).
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, E
Berdasarkan stimulus, Dr. Arisetyo menggunakan metafora ‘ruang gema yang kedap’ (A), data statistik untuk membangun logika (B), otoritasnya sebagai sosiolog untuk membangun ethos (C), dan narasi yang menyentuh empati untuk pathos (E). Pilihan D salah karena teks menyebutkan seruan aksinya ‘tidak menggurui’, yang berarti tidak bersifat otoriter.
Soal No. 17 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
“Lentera di Balik Kabut Digital” merupakan sebuah esai opini monumental karya sosiolog terkemuka, Dr. Arisetyo. Esai ini dibuka dengan deskripsi melankolis mengenai keterasingan manusia modern di tengah hiruk-pikuk jagat maya, menggunakan metafora kuat berupa ‘ruang gema yang kedap’. Dr. Arisetyo membangun otoritas intelektualnya melalui penyajian data statistik penggunaan gawai yang akurat, namun ia membungkus angka-angka dingin tersebut dalam narasi personal yang menyentuh empati pembaca. Secara teknis, tulisan ini menggunakan kalimat-kalimat pendek yang tajam, menciptakan ritme pembacaan yang dinamis dan mendesak. Penulis tidak sekadar melontarkan kritik tajam, tetapi juga melukiskan secercah harapan melalui deskripsi detail tentang kehangatan komunitas luring yang nyata. Esai ini diakhiri dengan seruan aksi yang retoris; ia tidak mendikte atau menggurui, melainkan mengajak pembaca untuk berdiri diam sejenak dan merenung di hadapan cermin realitas digital mereka sendiri.
Pertanyaan: Berdasarkan teks deskripsi tersebut, apa saja ciri kebahasaan atau gaya penulisan yang digunakan Dr. Arisetyo untuk mempersuasi pembaca?
- Penggunaan kalimat yang sangat panjang untuk mendalami teori.
- Pemilihan diksi yang tajam guna menciptakan kesan yang mendesak.
- Integrasi antara data kuantitatif dengan narasi yang bersifat kualitatif.
- Penerapan ritme tulisan yang dinamis melalui struktur kalimat pendek.
- Penggunaan bahasa yang kaku dan formal tanpa adanya unsur puitis.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: B, C, D
Teks menyebutkan kalimat Dr. Arisetyo ‘pendek dan tajam’ (B dan D) serta menggabungkan data statistik (kuantitatif) dengan narasi empati (kualitatif) (C). Pilihan A salah karena kalimatnya disebutkan pendek, dan pilihan E salah karena terdapat penggunaan metafora yang merupakan unsur puitis/estetik.
Soal No. 18 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
“Lentera di Balik Kabut Digital” merupakan sebuah esai opini monumental karya sosiolog terkemuka, Dr. Arisetyo. Esai ini dibuka dengan deskripsi melankolis mengenai keterasingan manusia modern di tengah hiruk-pikuk jagat maya, menggunakan metafora kuat berupa ‘ruang gema yang kedap’. Dr. Arisetyo membangun otoritas intelektualnya melalui penyajian data statistik penggunaan gawai yang akurat, namun ia membungkus angka-angka dingin tersebut dalam narasi personal yang menyentuh empati pembaca. Secara teknis, tulisan ini menggunakan kalimat-kalimat pendek yang tajam, menciptakan ritme pembacaan yang dinamis dan mendesak. Penulis tidak sekadar melontarkan kritik tajam, tetapi juga melukiskan secercah harapan melalui deskripsi detail tentang kehangatan komunitas luring yang nyata. Esai ini diakhiri dengan seruan aksi yang retoris; ia tidak mendikte atau menggurui, melainkan mengajak pembaca untuk berdiri diam sejenak dan merenung di hadapan cermin realitas digital mereka sendiri.
Pertanyaan: Bagaimana teks deskripsi di atas menggambarkan cara Dr. Arisetyo membangun hubungan dengan pembacanya?
- Penulis mengarahkan pembaca untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.
- Penulis menggunakan pendekatan yang persuasif tanpa terkesan memaksa.
- Penulis membangun kedekatan emosional melalui cerita yang empatik.
- Penulis memberikan alternatif solusi konkret melalui ilustrasi komunitas.
- Penulis mengecam pembaca yang masih aktif menggunakan media sosial.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C, D
Penulis mengajak pembaca merenung/refleksi (A), tidak menggurui/tidak memaksa (B), menggunakan empati (C), dan melukiskan harapan lewat deskripsi komunitas (D). Pilihan E salah karena penulis ‘tidak hanya mengkritik’ dan tidak disebutkan melakukan pengecaman, melainkan mengajak merenung.
Soal No. 19 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul “Lentera di Balik Kabut Digital” merupakan sebuah esai persuasif yang memikat. Penulis mengawali teks dengan deskripsi hiperbolis mengenai internet sebagai “samudera informasi yang tak bertepi namun sering kali beracun”. Di paragraf kedua, terdapat personifikasi teknologi yang digambarkan “merayap masuk ke celah-celah privasi manusia tanpa permisi”. Untuk memperkuat argumen, penulis menyisipkan kutipan dari pakar sosiologi digital sebagai bentuk strategi ethos. Bagian tengah teks dipenuhi dengan argumen logis yang disusun sistematis untuk menggugah nalar pembaca sebagai perwujudan logos. Diakhiri dengan paragraf penutup yang menyentuh sisi emosional (pathos), teks ini menggambarkan harapan akan literasi sebagai “lentera” yang mampu menembus pekatnya kabut disinformasi.
Pertanyaan: Manakah di antara pernyataan berikut yang sesuai dengan penggunaan gaya bahasa retoris dalam teks “Lentera di Balik Kabut Digital”?
- Majas hiperbola digunakan untuk memberikan penekanan pada dampak negatif internet yang luas.
- Personifikasi digunakan untuk menggambarkan bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan pribadi manusia.
- Penggunaan metafora “lentera” bertujuan memberikan gambaran visual tentang solusi literasi.
- Gaya bahasa litotes digunakan untuk merendahkan kualitas teknologi di mata masyarakat.
- Penulis menggunakan repetisi kata secara berlebihan untuk memengaruhi emosi pembaca.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Berdasarkan stimulus, penulis secara eksplisit menggunakan hiperbola (‘samudera informasi yang tak bertepi namun sering kali beracun’), personifikasi (‘teknologi merayap masuk ke celah-celah privasi’), dan metafora (‘lentera’ sebagai simbol literasi). Gaya bahasa litotes dan repetisi berlebihan tidak disebutkan dalam deskripsi teks tersebut.
Soal No. 20 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Teks opini berjudul “Lentera di Balik Kabut Digital” merupakan sebuah esai persuasif yang memikat. Penulis mengawali teks dengan deskripsi hiperbolis mengenai internet sebagai “samudera informasi yang tak bertepi namun sering kali beracun”. Di paragraf kedua, terdapat personifikasi teknologi yang digambarkan “merayap masuk ke celah-celah privasi manusia tanpa permisi”. Untuk memperkuat argumen, penulis menyisipkan kutipan dari pakar sosiologi digital sebagai bentuk strategi ethos. Bagian tengah teks dipenuhi dengan argumen logis yang disusun sistematis untuk menggugah nalar pembaca sebagai perwujudan logos. Diakhiri dengan paragraf penutup yang menyentuh sisi emosional (pathos), teks ini menggambarkan harapan akan literasi sebagai “lentera” yang mampu menembus pekatnya kabut disinformasi.
Pertanyaan: Berdasarkan stimulus, strategi persuasi yang diterapkan penulis dalam teks tersebut meliputi ….
- pemanfaatan otoritas ahli untuk membangun kepercayaan pembaca terhadap isi opini
- penggunaan pendekatan perasaan guna menarik simpati dan kepedulian di akhir teks
- penyampaian argumen secara runtut dan masuk akal untuk meyakinkan pembaca
- penyajian bukti-bukti empiris berupa grafik dan tabel statistik yang sangat detail
- penerapan teknik propaganda untuk memanipulasi opini masyarakat secara radikal
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Stimulus mendeskripsikan tiga strategi utama: ethos (kutipan pakar sosiologi digital), logos (argumen logis yang disusun sistematis), dan pathos (paragraf penutup yang menyentuh sisi emosional). Penyajian grafik statistik (data empiris dominan) dan teknik propaganda tidak tercantum dalam deskripsi stimulus tersebut.
Semoga bermanfaat.(kangjo)
LINK DOWNLOAD:
- Kumpulan 20 Soal Literasi-1 Berita TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-2 Deskripsi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
- Kumpulan 20 Soal Literasi-3 Narasi TKA SMA/SMK 2026, SILAHKAN KLIK DISINI!
