Latihan Soal dan Jawaban TKA SMP/MTs Bahasa Indonesia Bab I
Subject: Bahasa Indonesia | Topic: Demi Keluarga
Soal No. 1 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Pak Aris adalah seorang petani garam di pesisir utara yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anaknya. Kulitnya yang legam dan mengkilap tertimpa cahaya matahari adalah saksi bisu kerja kerasnya selama berpuluh tahun. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, ia sudah berada di hamparan tambak yang luas. Tangannya yang kasar dan pecah-pecah dengan cekatan menggaruk kristal-kristal putih yang berkilauan di bawah terik. Meskipun kakinya seringkali terasa perih karena air asin yang meresap ke luka-luka kecil, ia tetap menyunggingkan senyum. Baginya, setiap butir garam adalah harapan untuk biaya sekolah kedua anaknya di kota. Caping bambunya yang sudah kusam dan berlubang di beberapa bagian setidaknya mampu menghalau sedikit sengatan panas yang membakar. Di gubuk kecilnya yang sederhana, tersimpan sebuah foto keluarga yang selalu ia usap sebelum berangkat, menjadi pemantik semangat di tengah keletihan fisik yang mendera setiap harinya.
Pertanyaan: Manakah rincian fisik Pak Aris yang menggambarkan kerja kerasnya berdasarkan teks tersebut?
- Kulit yang legam dan mengkilap.
- Tangan yang kasar dan pecah-pecah.
- Caping bambu yang kusam dan berlubang.
- Tubuh yang terlihat lesu dan tidak berdaya.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B
Pilihan A dan B benar karena teks secara eksplisit menyebutkan kulit legam sebagai bukti kerja keras berpuluh tahun dan tangan kasar sebagai akibat dari kecekatan bekerja di tambak. Pilihan C merujuk pada benda milik tokoh, bukan fisik tokoh. Pilihan D salah karena teks menyebutkan tokoh tetap tersenyum dan semangat meskipun letih, bukan terlihat lesu tanpa daya.
Soal No. 2 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Pak Aris adalah seorang petani garam di pesisir utara yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anaknya. Kulitnya yang legam dan mengkilap tertimpa cahaya matahari adalah saksi bisu kerja kerasnya selama berpuluh tahun. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, ia sudah berada di hamparan tambak yang luas. Tangannya yang kasar dan pecah-pecah dengan cekatan menggaruk kristal-kristal putih yang berkilauan di bawah terik. Meskipun kakinya seringkali terasa perih karena air asin yang meresap ke luka-luka kecil, ia tetap menyunggingkan senyum. Baginya, setiap butir garam adalah harapan untuk biaya sekolah kedua anaknya di kota. Caping bambunya yang sudah kusam dan berlubang di beberapa bagian setidaknya mampu menghalau sedikit sengatan panas yang membakar. Di gubuk kecilnya yang sederhana, tersimpan sebuah foto keluarga yang selalu ia usap sebelum berangkat, menjadi pemantik semangat di tengah keletihan fisik yang mendera setiap harinya.
Pertanyaan: Kalimat manakah yang menggunakan citraan (imaji) penglihatan dalam menggambarkan suasana kerja Pak Aris?
- Kulitnya yang legam dan mengkilap tertimpa cahaya matahari.
- Kristal-kristal putih yang berkilauan di bawah terik.
- Kakinya seringkali terasa perih karena air asin.
- Caping bambunya yang sudah kusam dan berlubang.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Pilihan A, B, dan D menggunakan citraan penglihatan karena mendeskripsikan warna (legam, putih), kilauan cahaya, dan kondisi fisik benda (kusam, berlubang) yang dapat ditangkap oleh mata. Pilihan C menggunakan citraan perabaan (taktil) karena berkaitan dengan rasa sakit atau perih pada kulit.
Soal No. 3 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Pak Aris adalah seorang petani garam di pesisir utara yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan anak-anaknya. Kulitnya yang legam dan mengkilap tertimpa cahaya matahari adalah saksi bisu kerja kerasnya selama berpuluh tahun. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, ia sudah berada di hamparan tambak yang luas. Tangannya yang kasar dan pecah-pecah dengan cekatan menggaruk kristal-kristal putih yang berkilauan di bawah terik. Meskipun kakinya seringkali terasa perih karena air asin yang meresap ke luka-luka kecil, ia tetap menyunggingkan senyum. Baginya, setiap butir garam adalah harapan untuk biaya sekolah kedua anaknya di kota. Caping bambunya yang sudah kusam dan berlubang di beberapa bagian setidaknya mampu menghalau sedikit sengatan panas yang membakar. Di gubuk kecilnya yang sederhana, tersimpan sebuah foto keluarga yang selalu ia usap sebelum berangkat, menjadi pemantik semangat di tengah keletihan fisik yang mendera setiap harinya.
Pertanyaan: Apa saja bukti dedikasi Pak Aris terhadap keluarganya yang tersirat maupun tersurat dalam teks tersebut?
- Menahan rasa perih di kaki demi biaya sekolah anak.
- Bekerja di tambak sebelum matahari terbit sepenuhnya.
- Membeli peralatan modern untuk mempermudah pekerjaan.
- Mengusap foto keluarga sebagai sumber kekuatan batin.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Pilihan A, B, dan D benar karena mencerminkan pengorbanan fisik (perih di kaki), waktu (berangkat pagi buta), dan motivasi emosional (foto keluarga) demi kesejahteraan anak-anaknya. Pilihan C salah karena tidak disebutkan dalam teks; Pak Aris justru digambarkan menggunakan alat tradisional seperti garukan dan caping kusam.
Soal No. 4 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di sudut gang sempit yang masih berselimut kabut tipis, sebuah warung kayu sederhana milik Mak Inah sudah mengepulkan uap panas. Aroma gurih santan yang mendidih beradu dengan wangi tajam tumisan cabai, menciptakan simfoni aroma yang menggugah selera bagi siapa pun yang melintas. Dinding papan warung itu sudah kusam dimakan usia, namun lantainya selalu bersih mengilap terkena sapuan air sabun setiap subuh. Di tengah kepulan asap dapur, Mak Inah tampak cekatan mengaduk kuali besar. Guratan-guratan halus di wajahnya yang mulai keriput seolah bercerita tentang ribuan pagi yang ia habiskan demi biaya sekolah kedua anaknya. Meski peluh membasahi dahi, senyumnya tetap merekah setiap kali melihat foto wisuda putra sulungnya yang terpajang di dekat meja kasir. Warung itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjuangan seorang ibu yang merajut mimpi anak-anaknya melalui setiap piring nasi uduk yang ia sajikan.
Pertanyaan: Berdasarkan teks tersebut, manakah pernyataan yang menggambarkan detail sensoris (citraan) untuk memperkuat suasana di warung Mak Inah?
- Aroma gurih santan yang mendidih beradu dengan wangi tajam tumisan cabai.
- Dinding papan kusam yang bersanding dengan lantai bersih mengilap.
- Kepulan uap panas yang muncul dari kuali besar di tengah dapur.
- Keinginan kuat Mak Inah untuk menyekolahkan kedua anaknya hingga sukses.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Pernyataan A (penciuman), B (penglihatan), dan C (penglihatan/peraba) adalah detail sensoris yang nyata dalam teks deskripsi. Pernyataan D bukan detail sensoris, melainkan informasi mengenai motivasi atau tujuan tokoh.
Soal No. 5 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di sudut gang sempit yang masih berselimut kabut tipis, sebuah warung kayu sederhana milik Mak Inah sudah mengepulkan uap panas. Aroma gurih santan yang mendidih beradu dengan wangi tajam tumisan cabai, menciptakan simfoni aroma yang menggugah selera bagi siapa pun yang melintas. Dinding papan warung itu sudah kusam dimakan usia, namun lantainya selalu bersih mengilap terkena sapuan air sabun setiap subuh. Di tengah kepulan asap dapur, Mak Inah tampak cekatan mengaduk kuali besar. Guratan-guratan halus di wajahnya yang mulai keriput seolah bercerita tentang ribuan pagi yang ia habiskan demi biaya sekolah kedua anaknya. Meski peluh membasahi dahi, senyumnya tetap merekah setiap kali melihat foto wisuda putra sulungnya yang terpajang di dekat meja kasir. Warung itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjuangan seorang ibu yang merajut mimpi anak-anaknya melalui setiap piring nasi uduk yang ia sajikan.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang secara tepat menggambarkan nilai perjuangan Mak Inah demi keluarganya berdasarkan isi teks?
- Menjaga kebersihan warung sebagai bentuk profesionalisme dalam bekerja.
- Mengabaikan rasa lelah demi mewujudkan cita-cita pendidikan anak-anaknya.
- Merasa terbebani dengan rutinitas memasak yang dilakukan setiap subuh.
- Menjadikan keberhasilan anak sebagai sumber kekuatan dan kebahagiaan batin.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A, B, dan D mencerminkan nilai perjuangan dan karakter positif Mak Inah. Opsi C salah karena teks menyebutkan senyumnya tetap merekah, yang menunjukkan ia tidak merasa terbebani secara negatif.
Soal No. 6 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Di sudut gang sempit yang masih berselimut kabut tipis, sebuah warung kayu sederhana milik Mak Inah sudah mengepulkan uap panas. Aroma gurih santan yang mendidih beradu dengan wangi tajam tumisan cabai, menciptakan simfoni aroma yang menggugah selera bagi siapa pun yang melintas. Dinding papan warung itu sudah kusam dimakan usia, namun lantainya selalu bersih mengilap terkena sapuan air sabun setiap subuh. Di tengah kepulan asap dapur, Mak Inah tampak cekatan mengaduk kuali besar. Guratan-guratan halus di wajahnya yang mulai keriput seolah bercerita tentang ribuan pagi yang ia habiskan demi biaya sekolah kedua anaknya. Meski peluh membasahi dahi, senyumnya tetap merekah setiap kali melihat foto wisuda putra sulungnya yang terpajang di dekat meja kasir. Warung itu bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjuangan seorang ibu yang merajut mimpi anak-anaknya melalui setiap piring nasi uduk yang ia sajikan.
Pertanyaan: Teks tersebut menggunakan pilihan kata yang kaya untuk menghidupkan imajinasi pembaca. Manakah analisis gaya bahasa yang benar terkait teks tersebut?
- Frasa “simfoni aroma” digunakan untuk menggambarkan perpaduan bau masakan yang harmonis.
- Frasa “dinding papan dimakan usia” merupakan majas personifikasi untuk menunjukkan bangunan tua.
- Kata “merajut mimpi” adalah metafora yang menggambarkan proses usaha keras membangun masa depan.
- Kata “kabut tipis” merupakan hiperbola untuk melebih-lebihkan suasana dingin di gang sempit.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Analisis A, B, dan C benar secara linguistik. Opsi D salah karena kabut tipis adalah deskripsi latar suasana yang wajar (faktual), bukan gaya bahasa hiperbola yang melebih-lebihkan sesuatu.
Soal No. 7 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kapal kayu itu bernama ‘Sinar Pagi’, sebuah perahu kecil yang cat birunya telah mengelupas dimakan usia dan garam laut. Setiap pukul tiga dini hari, Pak Aris sudah berada di sana, menembus kabut tipis yang menusuk tulang. Mesin tua perahu itu sering kali terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam yang berbau solar menyengat sebelum akhirnya menderu pasrah. Di dalamnya, terdapat jaring-jaring yang mulai rapuh namun tetap setia menjadi tumpuan harapan bagi tiga anaknya yang menunggu di rumah. Lantai kayunya yang lembap dan licin karena lumut tipis menjadi saksi bisu kaki pecah-pecah Pak Aris yang kokoh menahan gempuran ombak. Di ufuk timur, semburat jingga mulai menyapa, memantul di permukaan air yang tenang namun menyimpan misteri yang dalam.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang menunjukkan penggunaan citraan pendengaran dan penciuman dalam teks tersebut?
- Mesin tua perahu itu sering kali terbatuk-batuk.
- Mengeluarkan asap hitam yang berbau solar menyengat.
- Cat birunya telah mengelupas dimakan usia dan garam.
- Mesin tersebut menderu pasrah sebelum akhirnya menyala.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Opsi A dan D menggunakan citraan pendengaran (terbatuk-batuk, menderu), sedangkan opsi B menggunakan citraan penciuman (berbau solar). Opsi C adalah citraan penglihatan (visual) karena mendeskripsikan warna dan kondisi fisik yang terlihat.
Soal No. 8 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kapal kayu itu bernama ‘Sinar Pagi’, sebuah perahu kecil yang cat birunya telah mengelupas dimakan usia dan garam laut. Setiap pukul tiga dini hari, Pak Aris sudah berada di sana, menembus kabut tipis yang menusuk tulang. Mesin tua perahu itu sering kali terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam yang berbau solar menyengat sebelum akhirnya menderu pasrah. Di dalamnya, terdapat jaring-jaring yang mulai rapuh namun tetap setia menjadi tumpuan harapan bagi tiga anaknya yang menunggu di rumah. Lantai kayunya yang lembap dan licin karena lumut tipis menjadi saksi bisu kaki pecah-pecah Pak Aris yang kokoh menahan gempuran ombak. Di ufuk timur, semburat jingga mulai menyapa, memantul di permukaan air yang tenang namun menyimpan misteri yang dalam.
Pertanyaan: Kalimat manakah yang menggunakan majas personifikasi untuk menghidupkan suasana dalam teks tersebut?
- Jaring-jaring yang mulai rapuh namun tetap setia menjadi tumpuan.
- Semburat jingga mulai menyapa di ufuk timur pagi itu.
- Mesin tua perahu itu sering kali terbatuk-batuk di tengah kabut.
- Lantai kayunya lembap dan licin karena lumut tipis.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Personifikasi memberikan sifat manusia pada benda mati. Opsi A (setia), B (menyapa), dan C (terbatuk-batuk) merupakan tindakan atau sifat manusia yang dilekatkan pada jaring, matahari/warna langit, dan mesin. Opsi D adalah deskripsi faktual tanpa majas personifikasi.
Soal No. 9 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Kapal kayu itu bernama ‘Sinar Pagi’, sebuah perahu kecil yang cat birunya telah mengelupas dimakan usia dan garam laut. Setiap pukul tiga dini hari, Pak Aris sudah berada di sana, menembus kabut tipis yang menusuk tulang. Mesin tua perahu itu sering kali terbatuk-batuk, mengeluarkan asap hitam yang berbau solar menyengat sebelum akhirnya menderu pasrah. Di dalamnya, terdapat jaring-jaring yang mulai rapuh namun tetap setia menjadi tumpuan harapan bagi tiga anaknya yang menunggu di rumah. Lantai kayunya yang lembap dan licin karena lumut tipis menjadi saksi bisu kaki pecah-pecah Pak Aris yang kokoh menahan gempuran ombak. Di ufuk timur, semburat jingga mulai menyapa, memantul di permukaan air yang tenang namun menyimpan misteri yang dalam.
Pertanyaan: Berdasarkan teks, bukti fisik apa saja yang menggambarkan kerasnya perjuangan tokoh demi keluarganya?
- Kaki pecah-pecah yang kokoh menahan gempuran ombak.
- Perahu ‘Sinar Pagi’ yang cat birunya telah mengelupas.
- Jaring-jaring yang mulai rapuh namun tetap digunakan melaut.
- Semburat jingga yang memantul di permukaan air yang tenang.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, C
Opsi A menunjukkan ketangguhan fisik tokoh, sementara opsi B dan C menunjukkan kondisi peralatan kerja yang sudah tua dan rusak (menggambarkan keterbatasan ekonomi namun tetap digunakan demi keluarga). Opsi D hanyalah deskripsi latar suasana alam yang tidak berkaitan langsung dengan bukti perjuangan tokoh.
Soal No. 10 (Pilihan Ganda Majemuk (MCMA))
Stimulus:
Pak Harun adalah seorang petani garam di pesisir utara yang tak pernah kenal lelah. Kulitnya yang legam dan mengilap tertimpa cahaya matahari menceritakan ribuan jam yang ia habiskan di bawah terik yang memanggang. Guratan-guratan dalam di wajahnya tampak seperti peta perjuangan hidup. Setiap pagi, sebelum fajar benar-benar menyingsing, ia sudah berada di hamparan tambak yang memutih bagai salju. Dengan cangkul kayu tuanya, ia mengumpulkan kristal-kristal garam dengan gerakan yang ritmis dan bertenaga. Bau anyir laut dan menyengatnya uap garam sudah menjadi napas baginya. Meski peluh bercucuran membasahi pakaiannya yang lusuh dan telapak tangannya kian menebal oleh kapalan, Pak Harun tetap tersenyum. Baginya, setiap butir garam yang ia kumpulkan adalah harapan untuk biaya sekolah anak-anaknya dan sesuap nasi bagi istri tercinta di rumah.
Pertanyaan: Manakah pernyataan yang sesuai dengan gambaran perjuangan Pak Harun berdasarkan teks tersebut?
- Melakukan pekerjaan fisik yang berat di bawah cuaca yang sangat terik.
- Mengabaikan kondisi fisik demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
- Memanfaatkan peralatan canggih untuk mempermudah produksi garam.
- Memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa di tengah lingkungan yang ekstrem.
Kunci & Pembahasan:
Jawaban: A, B, D
Pernyataan A benar karena teks menyebutkan Pak Harun bekerja di bawah terik yang memanggang. Pernyataan B benar karena deskripsi kulit legam, wajah berkerut, dan tangan kapalan menunjukkan pengorbanan kondisi fisik demi biaya sekolah anak dan nafkah istri. Pernyataan D benar karena ia digambarkan tetap bertenaga dan ritmis meski lingkungan sangat panas dan berbau menyengat. Pernyataan C salah karena teks menyebutkan ia menggunakan ‘cangkul kayu tua’, bukan peralatan canggih.
LINK DOWNLOAD:
- Soal dan Jawaban Mapel Bahasa Indonesia Bab I SMP/MTs, silahkan KLIK DISINI!
