KANGJO.INFO, Jakarta. Di jantung kota Jakarta, persisnya di kawasan Jalan M.H. Thamrin, terdapat sebuah bundaran yang sudah menjadi ikon kota: Bundaran HI. Lebih dari sekadar persimpangan jalan besar, tempat ini menyimpan sejarah, budaya, dan pesona yang menarik untuk diselami.
Penulis berkunjung ke Bundaran HI pada Bulan November tahun 2023, penulis dalam rangka mengikuti Lomba GTK Inovatif Pengawas Dikdas di Jakarta. Kunjungan ke Bundaran HI difasilitasi oleh panitia lomba, sehingga kami secara gratis untuk melihat secara langsung Bundaran HI yang sangat monumental ini.
Sejarah Singkat
Awal Mula
- Bundaran HI dibangun pada era kepemimpinan Soekarno, ketika Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games IV pada tahun 1962.
- Nama “HI” sendiri berasal dari Hotel Indonesia yang dibuka di dekat lokasi bundaran pada waktu itu dan menjadi simbol modernisasi Jakarta.
- Pembangunan bundaran termasuk bagian dari upaya besar untuk mempercantik kota dan menyiapkan infrastruktur ibukota bagi even internasional seperti Asian Games.
Monumen & Simbol
- Di tengah bundaran berdiri Monumen Selamat Datang, yang dirancang oleh seniman seperti Edhi Sunarso dan Henk Ngantung. Patung sepasang pemuda-pemudi yang melambaikan tangan ini melambangkan keramahan Indonesia menyambut tamu dari luar negeri.
- Patung ini mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dan selesai menjelang tahun 1962.
Transformasi & Perubahan
- Tahun 2002, Bundaran HI mengalami renovasi: penambahan air mancur, desain kolam baru, serta pencahayaan yang diperbarui. (Badan Sertifikasi KADIN DKI Jakarta)
- Seiring waktu, area ini bukan hanya pusat lalu-lintas tapi juga menjadi ruang publik: kegiatan olahraga pagi, Car Free Day, hingga aksi demonstrasi massal.
Pesona Bundaran HI
Lokasi Strategis & Arsitektur
- Bundaran HI terletak di persimpangan utama Jalan M.H. Thamrin dengan jalan-jalan penting lainnya — menjadikannya titik “jantung” kehidupan kota Jakarta.
- Lingkar kolam bundaran plus air mancur, lampu malam, serta monumen di tengah menciptakan tampilan visual yang dramatis, terutama saat malam hari.
Ruang Publik Dinamis
- Setiap hari Minggu pagi saat Car Free Day, kawasan ini ramai dengan aktivitas jalan kaki, bersepeda, selfie, pedagang kaki lima — menjadikannya tempat warga dan turis menikmati udara kota.
- Karena letak dan visibilitasnya, Bundaran HI juga sering digunakan sebagai titik kumpul dalam demonstrasi atau acara publik besar.
Ikon Fotografi & Wisata
- Banyak orang datang hanya untuk mengambil foto monumen dan bundaran dari sudut-sudut menarik: malam dengan lampu, siang dengan aliran mobil, atau saat Car Free Day.
- Karena dekat dengan hotel-hotel besar, pusat perbelanjaan, dan transportasi umum, lokasi ini sangat mudah dijangkau wisatawan.
Mengapa Bundaran HI Penting?
- Sebagai simbol modernisasi Jakarta: penciptaannya pada era awal kemerdekaan menunjukkan ambisi Indonesia menjadi bangsa yang terbuka dan modern.
- Sebagai ruang publik kota: bukan hanya persimpangan kendaraan, tetapi ruang untuk masyarakat berinteraksi, berolahraga, berkumpul.
- Sebagai landmark visual: Saat orang berpikir “Jakarta pusat”, salah satu gambaran yang muncul adalah Bundaran HI dengan monumennya.
Tips Kunjungan
- Jika Anda ingin foto terbaik: datanglah saat matahari mulai terbenam atau malam hari saat lampu dan air mancur menyala.
- Pagi hari (termasuk Car Free Day) adalah waktu yang nyaman jika ingin berjalan-jalan tanpa banyak kendaraan bermotor.
- Perhatikan keamanan barang bawaan, karena area ini cukup ramai, terutama turis dan penduduk lokal.
- Memanfaatkan transportasi umum sangat disarankan — kawasan ini sangat terpadu dengan bus, MRT dan lokasi strategis lainnya.
Penutup
Bundaran Hotel Indonesia bukan sekadar bundaran biasa — ia adalah bagian dari jiwa kota Jakarta: mengandung sejarah, simbol, dan aktivitas sehari-hari yang terus hidup. Ketika Anda berada di Jakarta, meluangkan waktu untuk melihat, merasakan, dan mungkin berhenti sejenak di bundaran ini bisa memberi pengalaman kota yang otentik. (kangjo)




